Ini Cinta Atau Dosa?

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Jejak yang Tersisa

Ardhani mengusap permukaan meja makan kayu yang kini terasa begitu luas dan dingin. Jemarinya gemetar saat menyentuh serat kayu yang kasar, tempat biasanya sang ayah meletakkan cangkir kopi panas setiap pagi. Ruangan ini dulunya penuh dengan aroma roti bakar dan suara tawa adik perempuannya, namun kini hanya menyisakan sunyi yang menyesakkan dada. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa hampa tanpa kehadiran mereka.

Langkah kakinya yang berat membawa Ardhani menuju ambang pintu kamar Arini, adiknya yang paling ceria. Selama berminggu-minggu, pintu kayu berwarna putih itu tetap tertutup rapat seolah-olah mengunci kenangan di dalamnya agar tidak menguap. Ardhani memutar kenop pintu dengan ragu, jantungnya berdegup kencang melawan rasa takut akan luka yang kembali menganga. Ia tahu bahwa melangkah masuk berarti siap dihantam oleh bayang-bayang masa lalu yang belum sempat ia relakan.

Di sudut kamar, boneka beruang lusuh milik Arini duduk bersandar pada tumpukan bantal bermotif bunga. Ardhani mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur sambil memeluk erat benda bisu itu ke dadanya. Bau parfum jeruk yang samar masih tertinggal di sana, mencabik-cabik pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Air mata mulai membasahi bulu boneka itu saat Ardhani menyadari bahwa benda kecil inilah satu-satunya saksi bisu keberadaan adiknya.

"Langit memang tidak adil, ya?" bisiknya lirih dengan suara serak yang memecah keheningan kamar. Kebiasaannya berbicara pada benda mati kembali muncul, sebuah pelarian kecil agar ia tidak merasa benar-benar sendirian di dunia ini. Ia selalu memiliki kecenderungan untuk mencari pembenaran atas rasa sakitnya melalui dialog imajiner dengan ruang kosong. Baginya, dinding-dinding rumah ini adalah telinga yang paling setia mendengarkan segala keluh kesah dan penyesalan yang tidak sempat terucap.

Ia kemudian beralih ke meja rias ibunya yang masih tertata rapi dengan botol-botol kecil dan sisir kayu. Ardhani memungut sehelai rambut panjang yang terselip di antara gerigi sisir, memandangnya dengan tatapan nanar di bawah cahaya lampu yang redup. Keputusannya untuk tetap bertahan hidup sering kali goyah oleh keinginan kuat untuk menyusul mereka ke alam sana. Namun, bayangan senyum tulus ibunya selalu hadir sebagai penghalang, seolah-olah melarangnya untuk menyerah pada kegelapan yang pekat.

Sebuah kotak beludru hitam di laci paling bawah menarik perhatiannya, berisi jam tangan tua milik ayahnya yang kacanya sudah retak. Ardhani teringat bagaimana ayahnya selalu berkata bahwa waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli kembali dengan air mata. Ia menggenggam jam tangan itu erat-erat hingga pinggirannya yang tajam sedikit melukai telapak tangannya. Rasa sakit fisik itu justru membuatnya merasa lebih hidup di tengah mati rasa yang selama ini menyelimuti seluruh jiwanya.

Konfrontasi batin dalam dirinya memuncak saat ia berdiri di depan cermin besar yang memantulkan bayangan pemuda yang tampak asing. Ardhani menghantam permukaan cermin itu dengan kepalan tangannya hingga retakan besar menjalar seperti jaring laba-laba di atas wajahnya. "Kenapa hanya aku yang tersisa?" teriaknya penuh amarah yang meledak, menghancurkan keheningan rumah yang selama ini ia jaga dengan penuh ketakutan. Darah mulai menetes dari buku jarinya, namun ia justru tertawa getir melihat kehancuran itu.

Di balik retakan cermin, ia menemukan sebuah amplop tua yang terselip di bingkai kayu, tertulis namanya dengan tulisan tangan ayahnya yang rapi. Surat itu berisi wasiat yang menyatakan bahwa rumah ini sebenarnya sudah lama direncanakan untuk dijual demi masa depan Ardhani di luar negeri. Pengungkapan ini membalikkan seluruh tujuannya, karena ternyata keluarganya telah menyiapkan jalan keluar jauh sebelum kecelakaan maut itu terjadi. Kini, Ardhani harus memilih untuk tetap terikat pada puing kenangan atau melangkah pergi membawa harapan mereka yang tersisa.

Jari-jari Ardhani gemetar saat mengusap permukaan meja kayu yang kini buram oleh lapisan debu halus. Di atasnya, berjajar koleksi piring hias porselen yang dulu selalu dibersihkan Ibu setiap akhir pekan dengan ketelatenan luar biasa. Ardhani menarik napas panjang, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa berat dan berbau apek khas ruangan yang terlalu lama terkunci rapat tanpa sentuhan manusia.

Ia ingin sekali mengambil kain lap dan menggosok piring-piring itu hingga kembali mengilap seperti sediakala. Namun, ada ketakutan yang mencekik di tenggorokannya; ia takut jika debu itu hilang, maka bukti fisik terakhir dari sisa-sisa kesibukan Ibu di rumah ini akan ikut melenyap. Baginya, partikel debu itu adalah saksi bisu waktu yang berhenti tepat di malam kecelakaan yang merenggut segalanya.

Ardhani berjalan gontai menuju ruang tengah, langkah kakinya menciptakan jejak di atas lantai marmer yang dingin. Di sudut ruangan, sebuah bingkai foto besar yang retak masih tergantung miring di dinding, menampilkan tawa lebar Ayah, senyum teduh Ibu, dan wajah ceria adik perempuannya, Shafa. Mereka tampak begitu hidup dalam lembaran kertas itu, seolah-olah kematian hanyalah sebuah lelucon buruk yang sedang dimainkan oleh takdir. Ia memutar-mutar cincin perak di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang muncul sejak ia menjadi satu-satunya yang tersisa di rumah besar ini. "Langit, kenapa kau biarkan aku sendirian di sini?" gumamnya dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Ritme bicaranya terputus-putus, seakan setiap kata yang keluar menguras sisa tenaga yang ia miliki untuk sekadar tetap berdiri tegak di tengah kehampaan.

Pandangannya beralih ke arah botol obat penenang yang tergeletak di atas meja kopi, menggoda pertahanannya yang terus menipis. Ardhani selalu memiliki kecenderungan untuk memilih jalan yang paling tidak menyakiti orang lain, namun kali ini, ia merasa bahwa menyakiti dirinya sendiri adalah satu-satunya cara untuk menghentikan badai di kepalanya.

Pilihan antara bertahan hidup atau menyusul mereka menjadi beban yang teramat berat.

Tiba-tiba, suara pintu depan yang berderit keras memecah kesunyian rumah, diikuti oleh langkah kaki yang terburu-buru dan kasar. Ardhani tersentak, tangannya refleks mengepal di sisi tubuh saat ia melihat sosok Paman Bram muncul di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tidak ada simpati di mata pria itu, hanya ada kilatan amarah dan ambisi yang selama ini disembunyikan di balik topeng duka cita palsu.

"Masih meratapi debu, Ardhani? Sudahlah, tanda tangani surat kuasa ini sekarang juga!" bentak Bram sambil melemparkan map cokelat ke atas meja. Ardhani menatap map itu dengan nanar, menyadari bahwa paman yang ia anggap sebagai pelindung terakhir ternyata hanya menginginkan aset perusahaan mendiang ayahnya. Kepercayaan yang ia bangun di tengah duka kini hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

Ardhani mundur selangkah, napasnya mulai memburu sementara dadanya terasa seperti dihantam palu godam yang sangat besar. "Ayah belum genap empat puluh hari pergi, dan Paman hanya peduli pada kertas-kertas sialan ini?" suaranya meninggi, sebuah ledakan emosi yang jarang ia tunjukkan sebelumnya. Ia merasa dikhianati oleh darahnya sendiri di saat ia berada pada titik terendah dalam hidupnya.

Bram tertawa sinis, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari hidung Ardhani yang pucat pasi. "Ayahmu sudah mati, ibumu sudah jadi tanah, dan adikmu tidak akan kembali hanya karena kau menangis di pojokan!" teriak Bram dengan nada menghina. Kata-kata itu menghujam jantung Ardhani, memicu amarah yang selama ini terkubur di bawah lapisan kesedihan yang sangat tebal.

Tanpa berpikir panjang, Ardhani menyambar vas bunga di dekatnya dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping di depan kaki pamannya. "Keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali berdua!" teriaknya dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan. Tubuhnya gemetar hebat, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena kemurkaan yang meluap-luap.

Bram tertegun sejenak, tidak menyangka keponakannya yang pendiam bisa menunjukkan taring yang begitu tajam dan mengerikan. Namun, sebelum pergi, Bram membisikkan sesuatu yang membuat darah Ardhani membeku seketika di dalam pembuluh darahnya. "Kau pikir kecelakaan itu murni karena rem blong? Coba tanyakan pada dirimu sendiri kenapa hanya kau yang selamat malam itu," desis Bram dengan senyum kemenangan.

Dunia di sekitar Ardhani seolah berputar dengan sangat cepat saat ia mencerna ucapan pamannya yang penuh dengan teka-teki gelap. Sebuah ingatan yang selama ini ia tekan muncul ke permukaan; ia ingat melihat seseorang mengotak-atik mobil Ayah di garasi beberapa jam sebelum mereka berangkat. Kebenaran pahit mulai terungkap, mengubah rasa duka yang ia rasakan menjadi sebuah misi balas dendam yang sangat dingin.

Ia jatuh terduduk di atas pecahan vas, membiarkan ujung tajam keramik menggores telapak tangannya hingga darah segar mulai menetes. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengkhianatan yang baru saja ia sadari telah merenggut seluruh keluarganya. Ardhani menatap langit-langit rumah dengan mata yang kini tidak lagi menyimpan air mata, melainkan kobaran api tekad yang sangat membara.

Kini ia tahu bahwa ia tidak boleh mati sekarang, bukan karena cinta keluarga yang melarangnya, melainkan karena ada keadilan yang harus ditegakkan. Ardhani bangkit berdiri, mengabaikan perih di tangannya, dan menatap lurus ke arah pintu tempat pamannya baru saja menghilang. Ia akan mengejar kebenaran itu sampai ke liang lahat, meski ia harus membakar seluruh dunianya sekali lagi demi mengungkap siapa pembunuh sebenarnya.

Lemari jati tua di sudut kamar itu berderit pelan saat jemari Ardhani menarik pintunya, suara gesekan kayu yang kering seolah meratapi kehampaan ruangan. Aroma kamper yang tajam segera menyeruak, berebut ruang dengan sisa wangi parfum maskulin yang kini mulai memudar dan terasa asing. Ardhani berdiri mematung di depan deretan gantungan baju, membiarkan matanya menelusuri setiap lipatan kain yang masih tertata rapi seolah sang pemilik akan segera kembali untuk mengenakannya.

Tangannya yang gemetar meraih sehelai kemeja katun berwarna biru langit, pakaian favorit ayahnya yang selalu tampak gagah saat dikenakan di hari Minggu. Ia menarik kain itu perlahan dari gantungan besi yang berdentang pelan, lalu membenamkan wajahnya ke dalam serat kain yang dingin. Ardhani memeluk pakaian itu dengan tenaga yang tersisa, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan tubuh yang dulu selalu memberikan perlindungan paling kokoh di dunia ini.

Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah udara di dalam kamar ini telah berubah menjadi timah yang menekan paru-parunya hingga sesak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berharap indra penciumannya bisa menipu logika bahwa sang ayah masih berdiri di hadapannya, siap memberikan tepukan hangat di bahu. Namun, kenyataan pahit justru merayap masuk lewat ujung jemarinya yang menyentuh kancing plastik dingin, mengingatkan bahwa detak jantung yang dulu menghidupkan kain ini telah berhenti selamanya.

Lihat selengkapnya