Ini Cinta Atau Dosa?

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Benang yang Tertali

Ardhani memutar-mutar cincin perak di jari manisnya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali keraguan mulai merayap di benaknya. Aroma kayu manis dari dapur toko roti milik mendiang ibunya kini terasa mencekik, bukan lagi menenangkan seperti dulu saat tawa Rania masih menggema di sudut ruangan. Ia menatap deretan loyang kosong yang berdebu, menyadari bahwa mengurung diri dalam duka hanya akan membunuh sisa-sisa kenangan yang masih bernapas di sini.

Langkah kakinya terasa berat saat ia akhirnya memutuskan untuk membuka daun pintu kayu yang sudah berbulan-bulan terkunci rapat dari dalam. Sinar matahari pagi menusuk matanya yang sembap, memaksa Ardhani untuk melihat dunia yang ternyata tetap berputar meski dunianya sendiri telah hancur berkeping-keping. "Waktunya membayar hutang pada kehidupan," gumamnya dengan suara serak, sebuah janji kecil yang ia bisikkan pada bayangan ayah dan ibunya yang seolah berdiri di ambang pintu.

Di pasar tradisional, Ardhani mulai menyapa para pedagang yang dulu menjadi pelanggan setia keluarganya, meski tenggorokannya terasa kaku saat harus berbincang santai. Ia tidak lagi memalingkan wajah saat seseorang menanyakan kabar keluarganya, melainkan memilih untuk mengangguk pelan sambil merapikan letak celemeknya yang mulai kusam. Interaksi sederhana ini perlahan mengikis rasa asing yang selama ini membungkus hatinya, memberinya keberanian untuk kembali memegang kendali atas nasibnya sendiri.

Tanggung jawab yang selama ini ia abaikan, seperti tumpukan tagihan dan pemeliharaan toko, kini ia hadapi satu per satu dengan ketelitian yang hampir obsesif. Ia mulai membersihkan etalase kaca, mengelap setiap sudut hingga berkilau, seolah dengan membersihkan debu-debu itu ia juga membersihkan jelaga keputusasaan dari jiwanya. Setiap goresan kain lap pada permukaan kaca adalah sebuah pernyataan bahwa Ardhani masih ada, masih bernapas, dan masih memiliki peran untuk dijalankan di dunia yang fana ini.

Malam itu, Ardhani duduk di meja kayu tempat mereka biasa makan malam bersama, namun kali ini ia tidak lagi menyiapkan empat piring kosong sebagai bentuk penyiksaan diri. Ia hanya meletakkan satu piring untuk dirinya sendiri, sebuah keputusan sadis namun perlu untuk mengakui realitas bahwa ia adalah satu-satunya penyintas yang tersisa. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menyuap nasi pertama dalam keheningan, membiarkan rasa syukur yang pahit mengalir di sela-sela traumanya yang masih basah.

Kehadiran seorang tetangga tua yang mengetuk pintu untuk memesan roti jahe kesukaan almarhum ayahnya menjadi sebuah ujian emosional yang tak terduga bagi Ardhani.

Alih-alih menolak dengan alasan duka, ia justru mengundang wanita itu masuk dan mulai menyalakan oven besar yang sudah lama mendingin dan membeku. Suara deru mesin oven itu terdengar seperti detak jantung baru bagi rumah yang selama ini mati, menandakan bahwa kehidupan mulai berdenyut kembali di bawah jemari Ardhani.

Namun, saat ia sedang mengaduk adonan, ia menemukan sebuah surat terselip di balik buku resep rahasia ibunya yang mengungkapkan bahwa kecelakaan itu mungkin bukan sekadar takdir belaka. Tangannya membeku di atas adonan tepung yang putih bersih, sementara matanya terpaku pada baris kalimat yang mengisyaratkan pengkhianatan dari orang terdekat ayahnya. Ardhani kini berdiri di persimpangan yang jauh lebih gelap, di mana cinta untuk keluarganya kini mulai bersalin rupa menjadi api kemarahan yang menuntut pembalasan tuntas.

Aroma tanah basah sisa hujan sore itu menyeruak, mengisi rongga dada Ardhani yang terasa sesak. Ia duduk mematung di teras rumah yang kini terasa terlalu luas, memandangi sepasang sandal karet kecil milik adiknya yang masih tergeletak di dekat pot bunga. Setiap sudut rumah ini adalah luka yang terbuka, memaksanya untuk terus memutar memori tentang tawa yang kini telah senyap ditelan malam kecelakaan maut itu.

Suara pagar besi yang berderit nyaring seketika membangunkan Ardhani dari lamunannya yang kelabu. Pak Baskara berdiri di sana, sosok tetangga yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri, membawa sekantong apel merah segar. Pria tua itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun sorot matanya yang teduh seolah mampu merangkul seluruh kehancuran yang sedang dipikul oleh bahu Ardhani yang ringkih.

Pak Baskara melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Ardhani dengan kehangatan yang tulus, sebuah gestur sederhana yang memaksa pemuda itu untuk tetap berpijak di bumi. "Makanlah sedikit, Ardhani. Tubuhmu butuh tenaga untuk sekadar mengingat mereka dengan layak," bisik Pak Baskara pelan. Ardhani hanya terdiam, jemarinya bergetar saat ia berusaha menahan dorongan kuat untuk mengakhiri segala kepedihan ini dengan caranya sendiri.

Kehadiran pria tua itu menjadi jangkar yang mencegah Ardhani tenggelam lebih jauh ke dalam lubuk kesedihan yang gelap dan hampa. Di tengah kesunyian yang mencekam, Ardhani teringat janji ayahnya untuk selalu menjaga rumah ini tetap hangat. Ia kini terjepit di antara kerinduan untuk menyusul mereka ke alam baka dan tanggung jawab untuk menghidupkan kembali nyala api cinta yang pernah mereka titipkan di hatinya.

Ardhani menunduk, memandangi kantong apel di pangkuannya sambil meremas kain celananya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu bahwa menyerah adalah pengkhianatan terhadap kasih sayang ibunya yang murni, namun hidup dalam kesendirian terasa seperti hukuman mati yang berjalan lambat. Setiap embusan napas yang ia ambil terasa seperti beban berat yang harus ia pertanggungjawabkan kepada mereka yang sudah tiada.

Tiba-tiba, Pak Baskara mengeluarkan sebuah kunci tua dari sakunya dan meletakkannya di atas meja kayu yang rapuh. "Ayahmu menitipkan ini padaku sehari sebelum kejadian itu, dia bilang kau akan tahu apa isinya jika saatnya tiba," ujar Pak Baskara dengan nada misterius. Ardhani tertegun, menatap kunci perak yang berkilau di bawah lampu teras yang temaram, menyadari bahwa ada rahasia besar yang belum terungkap di balik kepergian keluarganya.

Uap panas mengepul dari cangkir porselen yang retak di pinggirannya, membawa aroma robusta kuat yang memenuhi dapur sunyi itu. Ardhani memegang sendok logam dengan jari yang sedikit gemetar, mencoba meniru gerakan presisi Ayah saat mengaduk gula. Di luar jendela, langit subuh masih berwarna biru pekat, menyisakan kesunyian yang biasanya dipecahkan oleh suara tawa adik perempuannya yang berebut roti bakar.

Ia menuangkan air mendidih perlahan-lahan ke dalam cangkir, memperhatikan bulir-bulir hitam yang berputar liar sebelum akhirnya tenang di dasar keramik. Meskipun rasanya sedikit lebih pahit dari buatan Ayah, cairan hitam itu memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh sarafnya yang kaku. Ardhani mulai memahami bahwa rutinitas kecil ini adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut terbawa arus duka yang dingin.

Ardhani berulang kali merapikan letak taplak meja yang sebenarnya sudah lurus, sebuah kebiasaan baru yang muncul sejak rumah ini kehilangan penghuninya. Ia tidak bisa diam; jika tangannya berhenti bergerak, bayangan lampu depan truk yang menyilaukan malam itu akan kembali menghantam ingatannya. Setiap kali rasa sesak itu naik ke tenggorokan, ia akan segera mencari benda apa pun untuk dibersihkan atau diperbaiki di sudut rumah.

"Kopi ini kurang manis, tapi setidaknya ini nyata," gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri. Ia selalu menambahkan frasa 'setidaknya ini nyata' pada setiap kalimatnya, seolah-olah perlu meyakinkan diri bahwa ia masih berpijak di bumi. Ritme bicaranya kini lebih lambat, setiap kata dipilih dengan hati-hati seakan takut merusak keheningan yang menyelimuti ruang makan tersebut.

Pandangannya jatuh pada kursi kosong di seberang meja yang biasanya diduduki oleh Ibu, tempat di mana doa-doa pagi selalu dipanjatkan dengan tulus. Ardhani segera memalingkan wajah, memilih untuk fokus pada retakan kecil di pinggiran cangkirnya yang menyerupai garis peta tanpa tujuan. Ia memutuskan untuk tidak membuang cangkir rusak itu, karena baginya, benda yang retak masih memiliki fungsi selama ia bisa menampung beban.

Di sudut ruangan, sebuah botol obat penenang tergeletak di dekat tumpukan surat tagihan yang belum sempat ia buka sejak pemakaman minggu lalu. Ardhani menatap botol itu dengan bimbang, mempertimbangkan apakah satu genggam pil bisa membawanya bertemu kembali dengan mereka di balik awan. Pilihan untuk menyerah terasa begitu menggoda di tengah kepungan sepi yang merayap masuk melalui celah pintu dan jendela rumah.

Namun, saat jemarinya menyentuh botol plastik itu, ia teringat bagaimana Ayah selalu menekankan bahwa seorang lelaki harus menjaga apa yang tersisa. Ia membatalkan niatnya untuk membuka tutup botol tersebut, sebuah keputusan yang didorong oleh rasa tanggung jawab yang masih berdenyut di dadanya. Ardhani lebih memilih menanggung rasa sakit yang nyata daripada harus mengkhianati harapan terakhir yang pernah dititipkan keluarganya.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu depan memecah lamunannya, menciptakan gema yang tidak menyenangkan di seluruh koridor rumah yang kosong. Ardhani terlonjak, hampir menjatuhkan cangkir kopinya ke lantai kayu yang sudah mulai kusam karena jarang dipel. Ia tidak mengharapkan tamu sepagi ini, apalagi di saat ia baru saja mencoba menyusun kembali kepingan kewarasannya yang berserakan di lantai.

Langkah kakinya terseret saat menuju pintu, melewati bingkai foto keluarga yang kini tertutup kain hitam sebagai tanda berkabung yang mendalam. Saat ia membuka pintu, sosok pria asing dengan setelan jas rapi berdiri di sana, memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Pria itu menatap Ardhani dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah kombinasi antara rasa kasihan dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Saudara Ardhani? Saya pengacara ayah Anda, ada sesuatu yang harus segera kita selesaikan mengenai aset yang tidak tercatat di wasiat utama," ucap pria itu. Suaranya datar tanpa emosi, kontras dengan gemuruh yang tiba-tiba muncul di dalam dada Ardhani saat mendengar nama ayahnya disebut kembali. Ia merasa ada rahasia besar yang selama ini disembunyikan di balik keharmonisan keluarga yang ia banggakan.

Ardhani mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga meninggalkan bekas kemerahan yang perih. Ia menyadari bahwa kecelakaan itu mungkin bukan sekadar nasib buruk yang menimpa keluarganya di tengah perjalanan pulang yang biasa. Ada lapisan kebenaran yang mulai terkelupas, memaksanya untuk tetap hidup meski hanya untuk menuntut keadilan bagi nyawa yang telah hilang.

Lihat selengkapnya