Pagi di rumah ini tidak pernah dimulai dengan "Selamat pagi".
Tidak pernah ada wangi kopi, tidak pernah ada tegur sapa dari ruang tengah.
Pagi di rumah ini dimulai dengan gebrakan pintu kamarku yang engselnya sudah berkarat.
*BRAK!*
"HEH, BENALU! BANGUN!"
Suara Ibu menampar gendang telingaku sebelum kelopak mataku sempat terbuka sempurna.
Sebuah handuk basah mendarat di mukaku. Baunya apek. Campuran bau lembab kamar mandi dan bau kemarahan yang sudah basi. Aku tidak kaget. Aku sudah hafal, ini jam 6 pagi versi mereka.
Untung saja yang mendarat di tubuhku masih handuk. Bukan sapu, bukan sandal jepit, atau panci.
Dulu pernah, waktu aku kelas 1 SD, aku demam 39 derajat dan bangun telat 10 menit. Yang mendarat di punggungku gagang sapu. "Biar melek!" bentak Ayah. Sejak hari itu aku belajar satu hal: bangun sebelum matahari, sebelum mereka, dan sebelum amarah mereka meledak.
Kalau aku bangun telat satu menit, aku pemalas. "Kerjaannya cuma tidur! Makan gaji buta! Ngerepotin orang!"
Kalau aku bangun duluan, aku sok rajin. "Ngelunjak ya? Sok paling sibuk? Sok mau ngatur rumah ini?" Jadi pilihan paling aman adalah diam dan menunggu aba-aba.
Aku menarik selimut sampai dagu. Selimut tipis warna biru, sudah bolong di ujungnya. Benangnya menjuntai. Dulu punya Nenek, dan itu merupakan satu-satunya barang di rumah ini yang masih menyimpan rasa lembut. Aku peluk erat. Seolah kalau aku lepas, aku akan jatuh.
Di luar, langkah Ayah menyeret sandal jepit. _Krek... krek... krek..._ Suara itu dibuat sengaja. Pelan tapi menekan, seakan memberi kode. "Aku sudah bangun, masa kamu belum?"
Dadaku ikut berdetak mengikuti irama sandal Ayah. "Kupingmu budek, ya? Sudah jam enam! Mau malas-malasan, ya?" Suaranya serak. Kayak habis marah semalaman. Atau habis bertengkar dengan Ibu di dapur. Aku hanya diam sambil menatap retakan di plafon. Menghitungnya untuk mengalihkan rasa takutku. Ternyata retakannya ada 12. Sama seperti umurku waktu pertama kali mendengar kata "benalu" yang diteriakkan di depan wajahku.
"Dasar benalu! Hidup cuma ngabisin beras!" Karena kalau aku jawab "Iya, sebentar", nanti jawabannya, "Jawab mulu! Tidak ada sopan-sopan! Baru disuruh sudah nyaut!"
Kalau aku diam terus, nanti pintu kamar pasti ditendang. "Anak durhaka! Dibilangin tidak dengar! Tuli apa!" Karena apa pun yang aku lakukan di sini tetap saja salah. Dari dulu. Dari aku kecil.
Aku bangun. Lantai semen dingin menusuk telapak kaki. Dinginnya sampai ke tulang, sampai ke lutut. Kamar ini menghadap ke belakang rumah, tidak pernah kena matahari. Lembap. Dindingnya belang-belang karena jamur hitam. Baunya apek bercampur bau baju kotor yang menumpuk di sudut.
Kamar ini tidak punya kunci. Pernah aku pasang gagang pintu yang ada kuncinya. Tiga hari kemudian gembok itu rusak. Digedor pakai palu oleh Ayah.
"Di rumah ini tidak boleh ada rahasia!" teriak Ibu sambil melempar pecahan gagang pintu ke tong sampah. Matanya melot. "Mau ngumpetin apa kamu? Mau pacaran di kamar, ya? Dasar anak tidak becus!" Padahal aku cuma mau punya satu ruang, satu tempat di mana aku bisa menangis tanpa didengar. Satu tempat buat bisa tenang walau hanya 5 menit saja.
Aku melipat selimut dengan rapi, menyatukan sudut dengan sudut. Kalau selimutnya tidak rapi, nanti siang selimut itu akan dilempar dan aku dibilang, "Kerjaan cuma tidur doang! Beresin kamar saja tidak becus! Otaknya di mana!" Kalau selimutku rapi, nanti dibilang, "Sok bersih dan sok rapi. Hidupnya saja berantakan. Wajahnya saja tidak dirawat, dekil, jerawatan, dan kusam. Wajah itu mencerminkan hatimu. Wajahmu kotor seperti hatimu."
Di kamarku hanya ada 1 cermin. Menempel di dinding, retak diagonal dari pojok kiri atas ke kanan bawah. Sengaja tidak kubuang. Biar aku ingat setiap pagi. Biar aku ingat mukaku yang kotor, biar aku ingat muka seorang benalu, biar aku ingat muka yang katanya selalu bikin rumah ini panas, biar aku ingat muka yang katanya pembawa sial dan juga sumber masalah.
Aku jongkok, merogoh ke kolong kasur. Menarik laci kecil yang tersembunyi di bawah tumpukan baju. Di sana ada buku harianku. Sampulnya sudah lecek dan karetnya sudah putus. Aku tidak pernah menulis "Dear Diary". Terlalu manis dan terlalu asing. Aku cuma menulis tanggal, lalu kalimat-kalimat yang tidak boleh keluar dari mulut. Dan terkadang hanya mencoret-coret asal sampai kertasnya tipis, sampai kertasnya bolong, sampai amarahku habis.
Hari ini aku menulis:
"1 Januari 2020.
Aku masih hidup.
Kenapa? Kalian kecewa, kah?"
Tinta pulpenku beleber di kata "kecewa". Aku menekan pulpen tersebut dengan kuat sampai tanganku gemetar. Lalu kututup lagi buku itu dan aku sembunyikan cepat-cepat, takut kalau Ibu menemukan. Karena jika sampai ditemukan Ibu, aku akan habis dimaki-maki. "Jadi ini kerjaan kamu? Nulis jelek-jelekin orang tua? Dasar tidak berbakti! Dasar anak kurang ajar!"
---
Di dapur, Ibu sudah menyalakan TV dengan volume paling kencang. Berita pagi. Tapi yang dia dengar cuma suaranya sendiri. "Nasi sudah dingin itu! Makan sana! Enak sekali jadi kamu, ya! Makan tinggal makan! Kerja tidak! Dasar benalu!"
Aku mengambil piring melamin yang pinggirnya sudah somplak. Nasinya memang dingin. Keras di tengah. Lauknya sepotong telur dadar yang gosong di pinggir. Aku tidak protes. Aku berjalan dan duduk di luar rumah, di bawah pohon jambu. Di sana suasananya lebih tenang. Angin meniup wajahku dengan lembut, udaranya segar dan masih bersih. Belum tercampur teriakan atau polusi. Aku makan pelan di bawah pohon, menyuap perlahan dan mengunyah 32 kali. Kata Nenek dulu, nasinya harus dikunyah lama biar kenyang lama.
Burung gereja berisik di atas. Untuk sesaat aku lupa di mana aku berada.
Selesai makan, aku kembali ke dapur. Berjalan ke wastafel, cuci tangan dan cuci piring. Airnya terasa dingin dan sangat bersih.