BAB : DIMINTA SEPERTI ORANG LAIN
Ke esokan harinya ibuku baru pulang bermain bersama teman²nya. " tengok anak teman ibu udah sukses semua. Ada yang jadi pegawai, ada yang pengusaha, ada yang jadi dokter dan guru". Aku pun diam dan menahan kesal " kamu tu masih aja malas²an ngak mau usaha diam aja di kamar" aku masih terdiam dan kembali kekamar.
Sesampainya di kamar aku masuk kedalam selimut dan menangis dengan pelan. Aku ingat bahwa setiap kali aku izin untuk bikin usaha ujung²nya di remehin dan dilarang. Dadaku rasanya seperti di himpit batu terbakar dan nyeri yang sangat membuat seluruh badanku gemetar. Aku menagis sampai ketiduran.
Aku bangun tidur dengan wajah yang lusuh dan seperyi tidak ada kehidupan "ibu melihat aku dan berkata, kenapa kamu kayak orang mau mati, ngak ada semangat gitu padahal hidupmu enak disini".
Di depan kaca retak kamar aku memandang wajahku dan melihat lalu tersenyum ke bayanganku sendiri."Cantik gitu lho hanya saja agak kusam dan matanya hitam, aku yakin aku bisa bertahan di situasi ini." Aku yaakin kalau suatu saat pasti aku bisa nrmukan jalan keluar dan bisa sukses dengan caraku sendiri.
Hari ini arisan di rumah Tante lia lagi ada acara arisan. Arisan yang katanya silaturahmi, tapi isinya lomba pamer anak. Dan aku adalah boneka pajangan Ibu dan juga sasaran buat perbandingan yang empuk. Aku hanya ngangguk dan tesenyum. Karena kalau aku ngomong bakal tambah diserang. Acara pamer berkedok arisan pun tambah seru sura mereka lebih kenceng dan penuh penghinanan. Aku rasanya udah mau meledak dan balas makian mereka. Aku paling nggak suka acara kumpul kumpul seperti iru tapi kalau aku bilang "Bu, aku gak mau ikut", nanti jawabannya: "Kau pembuat onar, pengecut, dan pemalas maunya diam aja dirumah kayak pukang. Gak pernah mau bersosialisasi makanya kamu egois !"Jadi aku diem. Jadi anak soft-spoken. Jadi anak yang kata Tante-tante "manis banget, pendiam, pinter".
Sesampainya dirumah "Inget," kata bapak tanpa noleh, "nanti kalau ditanya mau jadia apa bilang aja mau bikin usaha peterbakan biar ngak malu² in" ." Iya kan aku niatnya memang begitu karna itu bidang aku, aku juga minatnya pertanian dan peternakan dari dulu ".
"Makanya usaha yang rajin jangan sampai kamu beternak kayak orang yang ngak sekolah." Kata ibu "Tapi Bu, aku ngak punya modal jadi mulai dari kecil aja. Ilmu ku bakal kepake kok nanti kalau usahanya udah agak besar dan punya modal agak banyak". Ibupun diam sejenak lalu berkata " kamu mau usaha apa ?. Bebek, ayam orang² yang ngak sekolah juga bisa kamu masak yang udah sarjana kayak mereka. Kamu nggak malu ?". Aku pun jawab perkataan ibu dengan hati hati " aku nggak malu kok, namanya aja baru mulai jadi lakukan apa aja yang bisa. Kehidupan seperti ini kalau kita bertahan di kata malu kita ngak bakal bisa jadi apa apa". " nggak usah sok bijak kamu itu sarjana harusnya kerja dan punya gaji bukan beternak atau bertani kayak orang yang ngak sekolah aja " ibu membentak dan aku hanya diam saja.
"DIEM!" Ayah gebrak meja. "Udah dibilang nurut aja! Dari tadi nyahut mulu!"Aku gigit bibir. Rasanya asin karna bibirku luka dan ber darah. Semalam aku gak sengaja benturin bibir sendiri waktu mau tidur karna kesandung.
Keesokan harinya kami kembali berkunjung kr Rumah Tante, rumah tante wangi melati, lantainya dingin, kinclong dan menenagkan. Beda sama rumah hantu kami yang lantainya retak dan bau pengap.
"Eh, Larania! Uda gede ya!" Tante Mira nyubit pipiku, aku senyum dan menjawab " iya tante aku udah gedek" aku merespo dengan Soft-spoken dan sangat ramah.
Ruang tamu penuh ibu-ibu. Gelang emasnya gemerincing. Ketawanya nyaring. Aku duduk di pojokan sofa, disuruh Ibu. Punggung tegak. Tangan di paha. Kayak patung."Lana ini anaknya anteng banget," kata Tante Lia. "Gak kayak anakku si Dinda. Cerewetnya minta ampun."Ibu ketawa dan senyum mengejek sambil menoleh ke aku. "Iya, Lana emang penurut. Dari kecil gak pernah ngerepotin." Aku pun tersenyum masam.
"Lana, coba ambilin kue itu buat Tante," suruh Ibu. Aku berdiri. Kaki keram. Tapi jalan tetap pelan. Anggun. Soft-spoken. Aku sodorin piring kue lapis."Makasih, Sayang. Cantik ya anaknya," Tante Mira nguap-nguap. "Udah lulus kan. Kerja dimana sekarang, Na?"
Ini dia. Pertanyaan yang sangat aku benci. Aku buka mulut. Mau jawab "Belum ada tante aku masih usaha nyari kerja". Aku juga lagi coba nulis mana tau bisa dapat uang jajan".
Plak.