Keesokan harinya Ibu baru pulang bermain bersama teman-temannya sekitar jam 11 siang. Wangi parfum Ibu dan keringat bercampur. Dia langsung duduk di sofa, kipas-kipas pakai brosur.
"Tengok anak teman Ibu sudah sukses semua," katanya. Nadanya tinggi. "Ada yang jadi pegawai BUMN. Ada yang pengusaha kontrakan. Ada yang jadi dokter, ada yang jadi guru PNS."
Aku sedang menyapu. Mendengar perkataan Ibu, aku berhenti menyapu. Aku berhenti di tengah. Aku menatap Ibu, lalu aku pun diam sambil melihat lantai. Aku lanjut menyapu sambil menahan kesal yang naik ke leher. Menelan ludah secara kasar dan kembali lanjut menyapu, lalu segera ke kamar.
"Kamu itu masih saja malas-malasan. Tidak mau usaha. Diam saja di kamar," lanjut Ibu. Jarinya menunjuk ke arahku. "Lihat itu si Dinda. Sebaya kamu. Sudah kerja di bank, gajinya 4 juta!" Aku tetap diam karena kalau jawab bakal terjadi perang dunia.
Setelah selesai menyapu, aku kembali ke kamar. Di dalam kamar aku menutup pintu pelan, tidak berani membanting walaupun ingin sekali aku banting pintu itu. Sesampainya di kamar, aku masuk ke dalam selimut dan menggulung badan.
Dalam selimut aku menangis dengan pelan. Pelan sekali karena takut kedengaran Ibu atau Ayah. Aku ingat setiap kali aku izin mau bikin usaha, ujung-ujungnya diremehkan dan dilarang. "Mau usaha apa? Modal dari mana? Nanti gagal! Malu-maluin!" "Urus rumah saja belum becus mau usaha!"
Dadaku rasanya seperti dihimpit batu. Panas, terbakar, dan nyeri yang sangat membuat seluruh badanku gemetar. Aku menangis sampai ketiduran dan selimut yang aku pakai untuk membungkus badan basah di bagian pipi. Aku bangun tidur dengan wajah lusuh dan mata sembab seperti tidak ada kehidupan.
Ibu melihat aku di ruang tengah dan berkata, "Kenapa kamu seperti orang mau mati? Tidak ada semangat begitu. Padahal hidupmu enak di sini, tinggal makan, tinggal tidur, dan tidak harus kerja."
Enak.
Kata itu menusuk hatiku.
Di depan kaca retak yang ada di kamar, aku memandang wajahku. Di kaca terlihat bayangan wajahku yang terbelah dua. Aku usap pipi, lalu tersenyum ke bayanganku sendiri.
"Cantik begitu lho. Hanya saja agak kusam dan matanya hitam," bisikku. "Aku yakin aku bisa bertahan di situasi ini." Aku yakin kalau suatu saat pasti aku bisa menemukan jalan keluar dan bisa sukses dengan caraku sendiri dan bukan dengan cara mereka.
---
Hari ini ada arisan di rumah Tante Lia dan Ibu mengajak aku pergi. Awalnya aku menolak, tapi Ibu terus memaksa. Aku benci arisan. Arisan yang katanya silaturahmi, tapi isinya lomba pamer anak. Dan aku adalah boneka pajangan Ibu. Juga sasaran empuk buat perbandingan.
"Rapikan baju dan senyum, jangan banyak ngomong," pesan Ibu di motor. "Biar Ibu tidak malu." Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Karena kalau aku bicara bakal tambah diserang. "Kau jawab mulu!" "Kau pembantah!"
Rumah Tante wangi melati dan lantainya dingin, kinclong, menenangkan. Berbeda dengan rumah hantu kami yang lantainya retak dan bau pengap.
"Eh, Larania! Sudah besar, ya!" Tante Mira mencubit pipiku dengan gemas. Aku menghindar karena merasa sakit.
Aku senyum. "Iya, Tante. Aku sudah besar." Jawabku dengan suara pelan, ramah, dan sesuai arahan Ibu tadi. Ruang tamu penuh ibu-ibu yang berdandan penuh dengan kemewahan. Gelang emasnya gemerincing dan semuanya ketawanya nyaring.
Aku duduk di pojokan sofa, disuruh Ibu dengan punggung tegak dan tangan di paha. Seperti patung.
"Lana ini anaknya tenang sekali," kata Tante Lia sambil menyuapi anaknya. "Tidak seperti anakku si Dinda. Cerewetnya minta ampun." Ibu tertawa. Senyumnya mengejek sambil menoleh ke aku. "Iya, Lana memang penurut. Dari kecil tidak pernah merepotkan."
Aku pun tersenyum masam. Di dalam hati: _Karena kalau merepotkan, dipukul._
"Lana, coba ambilkan kue itu buat Tante," suruh Ibu. Aku berdiri, tapi kakiku terasa kram. Aku memaksa berdiri dan jalan dengan pelan dan anggun. Aku sodorkan piring kue lapis. "Silakan, Tante."
"Makasih, Sayang. Cantik, ya, anaknya," Tante Mira menguap-uap. "Sudah lulus kuliah, kan? Sekarang kerja di mana, Na?"
Ini dia pertanyaan yang paling aku benci.
Napasku tertahan. Aku bingung mau jawab apa. Aku buka mulut mau jawab jujur, "Belum ada, Tante. Aku masih usaha mencari kerja. Aku juga lagi coba menulis, mana tahu bisa dapat uang jajan."
*PLAK.*
Seketika sepi.
Tangan Ibu sudah di sampingku. Meremas pundakku. Kukunya menancap sampai ke bahu dan tulangku rasanya sakit sekali.
"Oh, penulis juga bagus," Tante Lia menyelutuk cepat untuk menutupi canggung. "Sekarang kan bisa terkenal dari menulis. Seperti itu... apa... yang di TikTok."
"Tidak ada duitnya," potong Ibu cepat. Nadanya datar tapi tajam dan mengintimidasi. "Mending yang pasti-pasti saja. Kerja kantoran."
Aku mengangguk, mencoba tersenyum.
Padahal di kepalaku berteriak: _AKU MAU NULIS! AKU MAU CERITA BIAR TIDAK GILA!_
Tapi yang keluar cuma anggukan. Acara pun berlangsung dan itu sangat lama. Rasanya bosan sekali. Acara arisan ini isinya ghibah semua. Ghibah tentang anak tetangga yang hamil di luar nikah. Ghibah tentang suami orang yang selingkuh. Ghibah tentang siapa yang renovasi rumah, siapa yang beli mobil baru.
Aku mendengarkan dengan tersenyum walaupun nyatanya aku sangat muak. Aku duduk manis dan sesekali senyum, sesekali mengangguk. Aku selama di sana jadi anak "manis sekali, pendiam, pintar" versi tante-tante.
Jam 4 sore, acara selesai. Di parkiran, pas semua tante sudah masuk mobil masing-masing, tangan Ibu menyambar lenganku. Lenganku dicengkeram dan aku diseret ke mobil kami yang catnya sudah kusam. Sesampai di rumah, aku ditarik paksa keluar dari mobil. Didorong masuk rumah, lalu pintu rumah dibanting Ibu dengan sangat keras.
Baru saja pintu rumah ditutup, Ibu sudah meledak.
"SAKIT JIWA KAU, YA?!"
Kepalaku didorong sampai jidatku terbentur kaca jendela.
"SUDAH DIBILANG JANGAN MALU-MALUIN! SUSAHNYA APA, HAH?!"
*PLAK!*
Kali ini benar-benar menampar. Pipiku panas. Kupingku berdenging.
"Anak tidak tahu diuntung!" Ayah ikut menyaut dari depan TV. "Dikasih muka, malah melunjak! Kau itu seharusnya bukan di sini! Kau itu pembuat onar!"
"Kau mau jadi penulis, emang punya masa depan?" lanjut Ayah. "Penulis itu pembohong. Kalau tidak bohong dan suka mengarang cerita, mana bisa jadi penulis!"
Aku hanya diam, gemetaran, dan menggigit bibir agar tidak menangis.
"Tapi kamu cocok sih jadi penulis," Ayah menyeringai. "Karena kamu tukang bohong, egois, dan tidak tahu diri."
Darah asin mulai terasa di mulut karena aku menggigit bibir dengan sangat kuat.
"Bikin malu saja," Ibu masih mengomel sambil membuang tas ke lantai. "Di depan orang sok pintar, sok baik, sok nurut, dan sok punya cita-cita. Padahal di rumah seperti mayat hidup. Kerjanya cuma tidur, bahkan nyapu saja tidak becus!"
Aku menoleh ke jendela. Aku melihat pohon mangga. Di salah satu dahannya ada burung berkicau di sana. Di samping burung yang berkicau ada burung yang terbang bebas, ke sana ke mari.
Jujur aku iri sama mereka karena mereka bisa berteriak, mereka disukai banyak orang, dan bisa pergi ke mana pun dengan bebas. Aku? Aku cuma bisa diam di rumah ini, mendengar makian, hinaan, pukulan, dan juga dihakimi.