Inikah rumah hantu

goresan_pena
Chapter #3

LANA KECIL

*KELUARGA LANA*


Ibu Lana merupakan seseorang yang lahir dengan sendok emas di mulutnya. Sebuah kiasan untuk menggambarkan seseorang yang hidup penuh kemewahan. Waktu umur 5 tahun, Ibu sudah ke Paris dan sudah melihat Menara Eiffel. Ibu berfoto memakai baju putih, dan rambut dikuncir.  

Umur 8 tahun, Ibu sudah pergi ke Tokyo. Makan sushi di restoran yang ikannya masih hidup saat disajikan. Umur 12 tahun, Ibu setiap libur sekolah selalu pergi ke Singapura dan tiap libur naik pesawat. Kopernya selalu berbeda-beda setiap keliling negara. Nenek Lara adalah pewaris tunggal PT Cahaya Makmur. Perusahaan ekspor terbesar pada masa itu.  


Nenek cantik, putih, tinggi, dan anggun. Kulitnya putih seperti susu. Bicaranya lembut. Tapi kalau marah, satu kantor bisa diam seketika. Kakek Lara aktivis lingkungan hidup dan juga seorang pengusaha. Mereka orang-orang hebat. Di rumah mereka sering terjadi debat. Tapi debat yang berkelas, tentang bisnis atau politik. Selesai debat, pelukan dan tertawa. Itu rumah yang dingin ber-AC dan juga sepi. Tapi di rumah itu tidak pernah ada teriakan dan makian. Tapi di rumah itu terdapat banyak aturan dan juga tekanan.  


Ibu tumbuh di rumah besar itu sampai umur 22 tahun. Ibu tidak pernah susah dan tidak pernah kekurangan.  


Berbeda dengan Bapak Lara.  

Bapak lahir dengan lumpur di kakinya. Ungkapan untuk orang yang terlahir sebagai petani. Bapak merupakan anak petani miskin. Tapi Bapak pintar dan otaknya encer seperti air hujan.  

Umur 25 tahun, Bapak sudah punya beberapa hektare sawah dan kebun dan menjadi "Petani Muda Sukses" kata orang desa. Bapak melihat Ibu pertama kali saat Ibu pulang ke desa untuk ke rumah nenek. Waktu itu Ibu kagum dengan penjelasan Bapak. Ibu bertanya ke Bapak, "Pak, bagaimana cara agar petani tidak membakar hutan?"  

Bapak menjawab dengan baik dan jelas. Bapak menjelaskan dengan data. Di sanalah mulai muncul ketertarikan satu sama lain.  


Selesai acara, Bapak nekat menyamperin Ibu dengan keringat masih bercucuran. "Bu... eh, Mbak, boleh kenalan?" Ibu senyum. "Boleh. Saya Anindya."  

"Aku... Bagas."  

Bagas jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu pula Anindya. Katanya 6 bulan pacaran, Bagas langsung melamar. Datang ke rumah Ibu dengan percaya diri dan membawa cincin emas.  


Nenek Anindya menyambut di ruang tamu yang besarnya seperti lapangan. Kursinya dingin dan juga mahal.  

"Jadi kamu mau melamar Anin?" kata Nenek. Nenek tersenyum tapi matanya tidak tersenyum.  

"Iya, Tante. Saya serius. Saya sayang sama Anin."  

Kakek masuk membawa koran dan duduk tidak salaman.  

"Kerja apa kamu?" tanya Kakek.  

"Petani, Om. Tapi saya sudah punya kebun sendiri."  

"Kamu mau kasih dia apa? Tanah atau lumpur?" kata Nenek. Bagas tersenyum. "Saya... saya akan bekerja lebih keras, Tante. Anin tidak akan susah."  

"Susah itu relatif, Nak," Kakek menyelutuk. Masih membaca koran. "Bagi kami, tidak bisa ke Milan itu susah. Bagi kamu, mungkin tidak bisa makan itu susah. Kita beda level."  


Itu tamparan paling menyakitkan dan juga paling menghina bagi Bapak. Tamparan tidak pakai tangan tapi pakai kata.  

Bagas pulang malam itu dengan dada terbakar.  

Anindya menelepon sambil menangis. "Mas, maafkan aku. Mama Papa tidak setuju. Aku tidak bisa melawan..."  

Bagas tidak menangis atau menanggapi. Bagas diam lalu membanting HP.  

Malam itu, dendam lahir. Di dada Bagas. Kecil. Seperti biji. Tapi disiram tiap hari pakai kata-kata Kakek yang tertanam jelas di ingatannya: _Kita beda level._  


---  

Bagas tidak menyerah.  

Dia bekerja seperti kesetanan. Bangun jam 3 pagi dan tidur jam 12 malam. Dia kuliah S2 mengambil MBA dengan beasiswa. 5 tahun kemudian, Bapak membuat usaha pertanian yang sudah ekspor ke Jepang.  

Bapak kembali ke rumah Ibu membawa proposal bisnis sekaligus pamer dan membuktikan bahwa Bagas tidak serendah itu. Kebun Bagas kerja sama dengan PT Cahaya Makmur untuk ekspor sayur organik. Nenek tertarik karena "bisnis adalah bisnis" kata Nenek. Tapi Kakek masih sinis. Kakek hanya diam karena Bagas sekarang sudah "naik level".  

Akhirnya direstui.  


Anindya berlari menghampiri Bagas di bandara. "Mas, aku dari dulu cuma sayang Mas."  

"Aku senang akhirnya kita bisa bersama."  

Bagas tersenyum dan menang.  

Pernikahannya mewah. Di Bali dengan 300 undangan. Nenek menangis dan Kakek bersalaman serta memberi selamat.  

Tapi di pelaminan, bisik-bisik masih ada. "Anak petani itu pasti cuma mau harta."  

Bagas mendengar dan langsung panas. Perkataan itu membuat dendamnya disiram lagi dan terus tumbuh. Sekarang sudah jadi tunas dan semakin menggebu.  


2 tahun kemudian Lara lahir.  

Jantungnya bolong kecil, VSD, kata dokter. Penyakit bawaan. Waktu Anindya melahirkan, Bagas tidak ada karena Bagas sedang di Tokyo mengurus pekerjaan. Yang menemani cuma Ibu melahirkan. Kakek juga sedang ada urusan bisnis di luar kota.  

"Lara Anindya Pradana," kata Nenek sambil menggendong. "Artinya gadis lembut yang mulia." Tapi Lara tidak lembut. Dari bayi napasnya ngos-ngosan. Bibirnya biru kalau menangis. Tidurnya harus memakai alat. Bagas pulang dan kaget melihat anaknya di inkubator. Selang di hidung. Monitor berbunyi _tut... tut... tut..._  

"Kenapa anakku cacat?" Itu kalimat pertama Bagas.  

Bukan "makasih". Bukan "kamu hebat". Tapi "kenapa anakku cacat".  


Anindya yang masih lemas menangis. "Mas... ini bukan salah siapa-siapa..."  

"TIDAK SALAH?" Bagas meledak. "Keluargamu! Darah lemah! Manja! Dari dulu hidup enak, makanya anaknya sakit-sakitan!"  

Nenek menampar Bagas. Pertama kali. "Jaga mulutmu! Ini cucuku!" Itu piring pertama yang pecah. Bukan piring beneran, tapi piring hubungan antara Nenek dan Bagas.  

Sejak itu, rumah Bagas dan Anindya jadi ladang perang dan penuh makian. Makanya mereka selalu menyebut Lara sumber masalah.  


---  

Lara umur 2 tahun dan sudah bisa jalan, tapi gampang capek. Main 5 menit lalu duduk. Bibir Lara sering biru jika kecapekan.  

Tiap Bagas dan Anindya bertengkar, Lara menangis karena suara mereka kencang dan juga menyeramkan.  

"INI SEMUA KARENA KAU!" Bagas berteriak ke Anindya. "KALAU DULU KAU TIDAK KEMBALI KE AKU, AKU TIDAK AKAN PUNYA ANAK SAKIT-SAKITAN!"  

Anindya melempar gelas. "KAU YANG MANUSIA PENDAM! NIKAH SAMA AKU CUMA MAU MEMBUKTIKAN KAU HEBAT, KAN?!"  

_Prang!_  

Lara yang sedang main balok di pojokan kena serpihan gelas. Kakinya berdarah. Lara menangis. Kencang. Lara menangis bukan karena luka tapi karena kaget.  

Bagas menyamperin. Bukan menolong.  

"DIAM! CENG! DASAR BEBAN! SAMA SEPERTI IBUK MU!"  

Itu tamparan pertama ke Lara. Tidak kencang. Tapi untuk anak 2 tahun dengan jantung bolong, itu gempa.  

"KALIAN SAMA! BENALU!"  

Lihat selengkapnya