Pagi hari ini Lana bangun dengan badan panas dan tenggorokannya seperti terbakar. Seperti ada bara di dalam tenggorokan Lana.
Setiap napas masuk rasanya perih dan setiap napas keluar rasanya berat. Jam 3 pagi dia terbangun karena kedinginan. Seluruh tubuhnya menggigil dan gigi Lana gemeretak mengeluarkan bunyi. Selimut tipis di kamarnya tidak berpengaruh.
Lana bangkit dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil air panas. Lana ke dapur mengambil segelas air panas untuk dibawa ke kamar. Lana duduk dulu di tepi kasur sebentar. Dunia di sekitar Lana terasa berputar, kepalanya berat seperti diisi batu, badannya lemas seperti habis dipukuli.
"Harus kuat, Lana," bisiknya. "Jangan berisik dan membangunkan siapa-siapa."
Di ruang tamu, lampu neon masih menyala. Di sana terdengar dengkuran Ayah. Ayah ketiduran di sofa. Mulut Ayah terbuka dan TV masih menyala. Di TV terdapat suara kemeresek dari acara infomersial jam 3 pagi.
Lana berjalan ke dapur pelan-pelan dengan berjinjit. Tangan Lana memegang tembok agar Ayah tidak terbangun dan agar Lana tidak jatuh.
Lana takut membangunkan Ayah dan juga takut membangunkan Ibu. Takut kalau ada yang bangun dan marah. Kalau mereka terbangun pasti Lana habis dimarahi. "Ngapain jam segini?"
Dia menuang air dari teko plastik. Tangannya gemetar. Airnya tumpah ke meja.
Gelasnya licin. Jatuh.
*Prang.*
Pecah dan suaranya sangat berisik. Gelas itu pecah menjadi 4 keping.
"SIAPA ITU?!"
Suara Ibu menggelegar dari kamar. Pintu kamar terbuka. Lana ketakutan dan hampir jatuh. Ibu keluar seperti kesetanan karena tidurnya terganggu. Rambut Ibu acak-acakan dengan daster kedodoran. Mata Ibu masih setengah terpejam tapi Lana bisa merasakan amarah Ibu yang sangat besar.
Lana menunduk. Punggung otomatis membungkuk. "Ma... maaf, Bu. Lana haus."
"Jam segini? Mau maling, ya?!" Ibu menghampiri Lana dan menyentuh jidat Lana. Seketika ditarik lagi tangannya karena jidat Lana panas seperti terkena api.
"Ish, panas sekali jidatmu. Habis masuk oven, ya! Bikin susah saja. Makanya dibilangin jangan bandel. Sekarang sakit, kan!"
Satu detik sentuhan itu, cuma sedetik, tapi Lana diomeli 5 menit. Ibu memegang jidat Lana seperti ada rasa jijik, seolah-olah Lana kotoran.
Lana rasanya mau menangis. Lana mau menangis bukan karena demam, tapi karena perkataan dan juga tingkah Ibu.
Tiba-tiba Ibu membentak Lana.
"Balik ke kamar! Jangan menyebarkan penyakit!"
"Iya, Bu." Suara Lana serak dan menahan tangis.
Lana menurut dan balik ke kamar dengan langkah pelan dan lemah. Lana tidak jadi minum karena tadi gelasnya pecah. Lana masuk ke dalam selimut, tidur lagi sambil menggigit bantal agar tidak batuk. Batuk itu berisik dan Lana takut nanti Ibu terbangun karena Lana batuk. Karena di rumah ini kalau Lana berisik itu salah. Dan yang salah itu harus dipukul dan dimaki.
Dia meringkuk dan menggigil. Tubuh Lana gemetaran, jari-jarinya terasa bengkak dan sangat dingin. Lana berpikir, _Kalau aku mati sekarang, apakah ada yang mencari? Apakah kalau Lana mati sekarang mayatnya akan dibiarkan membusuk?_
---
Pagi jam 5 terdengar azan Subuh. Demamnya Lana belum turun dan badan Lana lemas. Tulang semua sakit dan ngilu, tapi dia tetap bangun. Lana salat dan membersihkan kamar. Lana melipat selimut walaupun miring. Lana tetap menyapu, Lana tetap mencuci. Karena kalau Lana istirahat dan tidak kerja nanti Lana diomeli dan dibilang,
"Sakit kok malas. Itu cuma alasan saja. Mau cari perhatian."
Saat sedang menyapu, Ibu lewat membawa kresek berisi sayur dari pasar. Ibu melihat Lana mengayun sapu dengan lemah. Ibu berteriak, "Jangan lemah dan jangan biasakan manja lalu bergantung pada orang!" kata Ibu tanpa menoleh. "Sudah besar masih sedikit-sedikit sakit. Sakit sedikit saja minta dikasihani. Memalukan. Teman Ibu, anaknya seumuran kamu sudah kerja, sudah menghidupi orang tua."
Lana diam. Sapunya digerakkan terus, pelan tapi pasti.
Siang, setelah semua pekerjaan Lana selesai. Lana duduk di pojokan kamar sambil membuka HP butut.
Scroll IG. Dan dia menemukan:
*PENGUMUMAN LOMBA CERPEN NASIONAL*
Mata Lana langsung melek. Demamnya seperti turun setengah. Uang itu bisa Lana pakai untuk ngekos. Dan bisa bayar kos 2 bulan. Dan Lana bisa untuk pergi dari sini dan Lana bisa membuktikan kalau Lana bukan beban.
Dia membaca syaratnya 3 kali. 500-1000 kata. Tema: bebas.
Lana bingung mau buat apa. Lana duduk di jendela dan melihat katak. Lana tertawa pelan, "Si Katak."
Lana mulai menulis cerita tentang katak. Lana ingat dulu Lana waktu kecil sering main katak dan banyak juga anak-anak yang melempar katak karena merasa jijik. Padahal katak itu baik dan bagus untuk alam. Lana mulai menulis cerpen tersebut. Lana memilih judul cerpennya "Katak" karena Lana dari dulu sangat suka cerita fabel.
---
Besoknya. Sore.
Lana pulang dari apotek. Beli parasetamol 2 strip dengan harga Rp8.000,00. Lana segera kembali pulang dan minum obat. Setelah minum obat, Lana tertidur 5 menit dan saat Lana bangun langkahnya terasa lebih ringan. Demamnya sudah 37,5°C, tinggal sedikit lagi sembuh.
Di tas, dia menyembunyikan naskah cerpen. Sudah diketik ulang di warnet. 3 lembar dan sudah rapi.
Jantungnya dag-dig-dug. "Yuk bisa, yuk juara."
Pas makan malam, Ayah ada di rumah. Langka. Sedang menonton TV dan makan tumis kangkung buatan Ibu. Lana berjalan ke dapur menyembunyikan buku naskah masih di dalam jaket. Lana berjalan ke dapur mau makan dulu dan menunggu suasana tenang.
Tiba-tiba jaketnya nyangkut di kursi.
*Bruk.*
Buku itu jatuh. Tepat di depan kaki Ayah.
Ayah menunduk dan mengambil buku tersebut. Ternyata ada halaman yang tidak sengaja terbuka. Lana berkeringat dingin dan juga panik. Takut halaman yang terbuka adalah halaman yang isinya Lana mengeluh tentang Ayah.
Ayah menoleh ke Lana. Alisnya naik. "Apa ini?"
Darah Lana seketika berhenti. "A... aku... itu aku menulis asal saja." Ayah mengambil buku tersebut dan membaca. "Sang Katak?" Lana merasa lega. "A... aku mau ikut lomba... lomba menulis, Yah. Kalau menang dapat hadiah lumayan. Buat jajan aku biar nanti tidak merepotkan Ayah kalau aku butuh uang..."
Ibu langsung menghentikan sendok. Suara sendok kena piring. _Ting._
Menatap Lana. "Menulis?"
Ibu langsung menyambar buku dari tangan Ayah. Ayah belum membaca semua, baru membaca judul saja. Halaman itu langsung dirobek.
*Brebek!*
Sekali. Jadi dua.
*Brebek!*
Dua kali. Jadi empat.
*Brebek!*
Tiga kali. Jadi delapan.
Lalu dilempar ke muka Lana. Kertas menyebar. Ada yang kena mata.
"TIDAK USAH BERMIMPI!" teriak Ibu. Ludah muncrat. "JANGAN JADI PENULIS KARENA KAMU BODOH! KAU TIDAK AKAN BISA KARENA KAU TIDAK BISA APA-APA!"
Lana membeku menatap sobekan kertas. Hatinya terasa perih. "Kau pikir kau siapa?" Ibu maju selangkah. "Sakit saja manja. Mau ikut lomba? Mau pintar? Bercermin! Kau itu bodoh dan sakit-sakitan! Harusnya kau kerja, bukan berangan-angan sok-sokan jadi penulis seperti pintar saja!"
"Tapi... tapi ini untuk tambahan uang jajan, Bu. Biar tidak merepotkan Ayah Ibu... Biar aku bisa..."
"DIAM!" Ayah menggebrak meja. *Duk!* Piring pecah. Kangkung berserakan.
"Dari kecil sudah dibilang! Kau itu lemah! Jangan jadi penulis, tidak akan berhasil! Nanti yang ada kamu bergantung sama orang! Jangan sok kuat dan sok pintar! Tahu diri sedikit jadi orang!"
Lana bingung, otaknya nge-lag.
Kalimat itu lagi, kalimat yang bertabrakan.
_Jangan lemah. Jangan sok kuat. Jangan bergantung. Tapi jangan mandiri._
_Jangan sakit. Tapi jangan berobat._
_Jangan bermimpi. Tapi jangan diam._
Jadi Lana harus apa? Jadi mayat?
"Ambil itu sampah," kata Ibu menunjuk robekan kertas di lantai. "Buang. Terus tidur, tidak usah aneh-aneh. Bikin malu saja."
"Sok-sokan lomba menulis saja tidak becus. Sang Katak apa menariknya? Katak itu menjijikkan seperti kau." Duh, hati Lana sakit.
Lana jongkok dengan tangan gemetar. Memungut sobekan kertas delapan potong.
Satu potong ada kalimat: _... selalu dimanfaatkan ..._
Satu potong ada kalimat: _... jadi badut..._
Kertas itu seperti harapannya. Disobek menjadi delapan bagian juga. Dia membuang ke tong sampah.
Malam itu demamnya naik lagi menjadi 39°C.
Tapi Lana tidak berani batuk dan bersuara. Lana tidak berani minta tolong untuk diantar ke rumah sakit karena takut dibilang manja, takut dibilang beban, takut dibilang "drama".
Dia membuka buku harian. Lampu senter HP. Menulis sambil menangis. Air mata jatuh ke kertas.
_Hari ini aku mengerti._
_Aku tidak boleh gagal karena aku bodoh._
_Tapi aku juga tidak boleh mencoba. Karena aku pasti gagal._
_Jadi aku harus diam. Jadi patung._
_Patung yang demam. Patung yang sakit-sakitan._
_Tulisanku dirobek. Tapi ceritanya masih di sini. Di kepala._
_Mereka bisa merobek kertas. Tidak bisa merobek otakku._
_Aku akan buktikan kalau aku akan menang._
Lana menutup buku. Simpan di kolong. Merem.
Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Lana. Menggigil.
Lalu ketiduran. Dengan mulut masih menggumam: "Yuk bisa... yuk bisa..."
---
Keesokan harinya saat Lana bangun tidur, matahari sudah masuk dari celah jendela.
Badannya masih lemas. Tapi demamnya sudah turun menjadi 36,8°C dan itu sudah normal.
Kepalanya masih berat tapi pikirannya jernih untuk pertama kalinya. Lana menarik napas panjang, dada naik-turun. "Tersenyum," bisiknya ke diri sendiri. "Yuk bisa, yuk juara. Biar aku bisa pergi dari rumah."
Dia bangun lalu melipat selimut, menyapu, memasak air, mencuci, dan semua dikerjakan dengan tenang tanpa suara dan tanpa drama.
Karena kalau ada suara, nanti dibilang "berisik". Kalau diam, dibilang "pendiam".