Sesampainya di halte, Lana duduk.
"Ahh... akhirnya..." bisiknya. Air mata jatuh ke layar.
"Akhirnya aku bisa pergi dari rumah hantu ini. Aku bisa pergi cari kerja ke luar kota."
"Ini tiketnya," kata Rani. Lana tersenyum. Ini alasannya dan juga keinginannya dari dulu.
Dengan langkah cepat tapi hati-hati, Lana masuk ke dalam bus.
Ransel sudah diisi dari semalam: 10 baju, buku harian, charger, sisa uang jajan Rp200.000,00.
Itu cukup untuk ongkos bus ke kota sebelah. Ke rumah Rani. Dekat PT dan banyak harapan serta peluang kalau Lana diterima kerja.
Di bus Lana hanya diam. Lana ingat kejadian di rumah saat itu. Lana bilang sama orang tuanya, "Lana mau izin pergi cari kerja di luar kota. Lana bosan di rumah terus. Lana mau kerja biar punya uang sendiri dan... dan Lana tidak harus merepotkan kalian."
Tapi yang didapatkan Lana bukanlah izin, tapi ejekan dari Ayah.
"Cari kerja?" Ayah tertawa. Tertawa sinis. "Emang kamu bisa kerja? Bukannya kamu sakit-sakitan? Dan juga manja. Nanti sakit dan berhenti kerja lagi." Ayah tertawa kencang dan mengejek Lana habis-habisan.
Berbeda dengan Ibu. Ibu menjawab dengan lebih sopan walaupun sama-sama tidak mengizinkan. "Kamu mau kerja ke mana?" lanjut Ibu. "Kamu kira cari kerja gampang? Cari yang dekat rumah saja biar tidak repot."
"Tapi Lana mau coba di kota sebelah, Bu. Di sini Lana tidak dapat pekerjaan."
"Biarin saja dia pergi, bentar lagi juga balik," kata Ayah mengejek dan meremehkan Lana.
"Terserah kamu saja kalau mau pergi. Silakan saja. Kami tidak peduli," kata Ibu sambil membuang baju ke ember. "Tapi jangan merepotkan kami kalau nanti kamu sakit-sakitan di sana, ya."
Setelah mendapat izin, Lana kembali ke kamar dan Ibu mengikuti Lana ke kamar. "Kamu tahu kamu itu anak kami satu-satunya yang perempuan! Kamu harapan kami! Biar bisa jaga dan temani kami di rumah! Kamu sengaja mau meninggalkan kami berdua menua dan mati?!"
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepala Lana. Apakah Lana terlalu egois? Apakah Lana durhaka? Apakah Lana jahat?
---
Malam sebelum Lana pergi terasa seperti neraka. Penyebabnya sepele. Ayah minta uang ke Ibu untuk memberi orang tuanya.
Uang bulanan habis dan Ibu tidak memberi.
Ayah marah dan mengamuk.
"LAKI-LAKI TIDAK GUNA!" Ibu melempar cobek. *Brak!*
Tidak kena Ayah. Kena tembok. Serpihannya hampir mengenai Lana yang sedang di pojokan mencuci piring.
"DIAM KAU PEREMPUAN SIAL!" Ayah membalas melempar asbak. *Duar!*
Kena kaki meja. Meja goyang dan gelas yang ada di atas meja jatuh.
Lana menutup telinga karena kaget, tapi tetap mendengar makian yang keluar dari mulut mereka. Lana selalu mendengar.
"INI SEMUA KARENA KAU!" Ayah menunjuk Ibu dengan jari gemetar, lalu menunjuk Lana.
"KARENA ANAK PEMBAWA SIAL INI! DARI DIA LAHIR, HIDUP GUE HANCUR!"
Jantung Lana ditusuk. Untuk ke-ribu kalinya.
Rasanya sudah kebal. Tapi tetap sakit.
"KAU HARUSNYA MATI!" Ibu menghampiri Lana dan mengambil sapu.
Lana refleks memejam. Pasrah.
*Prak! Prak! Prak!*
Sapu mendarat di punggung beberapa kali sampai tangkai sapu patah menjadi 2.
Lana tidak menangis. Tidak berani.
Tiba-tiba Ayah menarik tangan Lana dengan kuat.
"Jangan keluar! Kamu di sana saja diam! Dasar anak tidak berguna!"
Mendorong ke kamar dan pintu dibanting.
Lana membuka mata, kaget. Ayah membela dia?
Dari celah pintu, Lana mengintip.
Ayah mendorong Ibu, pelan, dan Ibu jatuh. Dengkulnya berdarah.
Lana mau menolong tapi takut. Lana memilih diam saja di kamar.
Ayah membanting dompet, berjalan keluar. Membanting pintu. *Duar.*
Sepi.
Tinggal Lana dan Ibu.
Lantai penuh beling, kecap, serpihan cobek.
Ibu menangis tanpa suara, bahu bergoyang karena emosi. Lana berjalan pelan mengambil kain. "Bu, biar Lana bersihkan..."
Ibu langsung berteriak saat Lana mau mendekat. "Jangan dekat-dekat," kata Ibu lirih. "Darah Ibu kotor. Nanti kau ketularan sial."
Lana berhenti. Kalimat itu lagi. Lana hanya diam dan balik ke kamar. Gagal menolong.
Di kamar, Lana membuka ransel. Memasukkan 1 baju lagi. Dan bertekad untuk tetap pergi. Rasanya Lana mau pergi malam itu juga sebelum Ayah pulang. Lana takut saat Ayah pulang akan makin parah.
Dia menulis surat. Tangan gemetar.
_Bu, Yah. Lana pergi dulu._
_Biar tidak jadi beban._
_Biar kalian tidak bertengkar terus._
_Maaf..._
_Lana sayang Ayah Ibu._
Ditaruh di meja. Ditindih cermin retak.
Baru mau membuka pintu...
*Ceklek.*
Pintu depan terbuka.
Ayah berdiri di depan.
"MAU KE MANA KAU, ANAK DURHAKA?!"
Lana gemetar. "Ke... ke rumah teman, Yah. Sebentar saja."
"TIDAK BOLEH!" Ayah melot. "KAU MAU LARI, YA? MAU MENINGGALKAN KITA, YA? DASAR ANAK TIDAK BERBAKTI!"
Ibu keluar melihat ransel Lana. Wajahnya pucat.
Setetes air mata jatuh. Dan di situ, Ibu berteriak. Teriakan yang membuat dunia Lana berhenti.
"JANGAN PERGI! KARENA KAMU ADALAH HARAPAN KAMI! ORANG YANG AKAN MENEMANI KAMI TUA!"
Lana bingung.
Tadi dia pembawa sial, dan barusan Lana habis dipukuli dan dimaki. Tadi Ibu juga bilang kalau Lana harusnya mati.
Sekarang dia harapan?
Ayah melempar topi dari tangan dan mengeluarkan ekspresi bingung. "Harapan? Harapan apanya? Dia cuma beban!"
"DIAM!" Ibu berteriak ke Ayah. "KAU YANG BEBAN! KAU YANG MEMBUAT HIDUP SUSAH!
ANAKKU INI PEREMPUAN SATU-SATUNYA! KALAU DIA PERGI, KITA MAU BERHARAP KE SIAPA LAGI?!"
Jleb.
Lana mengerti sekarang.
Dia bukan harapan karena disayang.
Dia harapan karena masih dibutuhkan.
Dia tempat membuang kesalahan.
Dia penengah.
Kalau dia pergi, Ayah Ibu harus saling menyalahkan dan itu lebih sakit.
Ayah duduk. Lelaki 45 tahun menangis seperti anak kecil. "Kita kenapa sih, Bu... Dulu kita tidak begini..."
Ibu ikut duduk di lantai kotor. Di samping beling dan ikut menangis.
Lana berdiri di pintu, diam, dengan ransel di pundak. Mau maju, tidak bisa. Mau mundur, tidak bisa.
---
"Na," Ibu memanggil. Kali ini suaranya bukan teriak, tapi pelan.
"Sini."
Lana berjalan pelan dan ragu. Ransel masih di pundak.
Duduk di depan mereka. Duduk di lantai. Di antara beling dan juga kecap yang sudah mengering yang bercampur darah di dengkul Ibu.
Hening.....
Cuma suara jangkrik dari luar.
Ibu mengangkat tangan. Mengusap kepala Lana dengan gemetar. Pertama kali dalam beberapa tahun. Kulit Ibu terasa kasar dan kukunya panjang.
Tapi Lana merinding bukan karena nyaman. Karena takut. Takut tiba-tiba Ibu menjambak rambut Lana.
"Maaf, ya," kata Ibu. Air matanya jatuh ke lantai. "Ibu emosi. Ayah juga lagi emosi. Kita... kita tidak tahu lagi mau bagaimana. Hidup kok begini terus."
Ayah menoleh ke arah Lana dengan matanya merah bengkak.
"Kau jangan pergi, Na," katanya lirih. "Nanti... nanti siapa yang Ayah marahi kalau Ayah sedang kesal?" Ayah bicara sambil tertawa.
Itu maksudnya bercanda. Tapi bagi Lana itu pisau dan tetap menancap.
Lana mengangguk.
"Iya, Yah. Lana tidak jadi pergi."
Tangannya melepaskan tali ransel. Jatuh ke lantai. *Duk.*
Surat di tangannya diremas. Diremas sampai kusut. Tidak jadi dikasih.
Malam itu mereka bertiga tidur di ruang tamu. Beralaskan tikar plastik di ruang tamu yang bersih. Tidak ada beling atau apa pun di sana sehingga bisa tidur dengan nyaman.
Tidak bicara. Tapi tidak bertengkar juga. Itu sudah "damai" versi mereka.
Lana di tengah, tidak bisa tidur. Lana diapit dua orang dewasa yang patah.
Di kepala berputar terus kalimat Ibu:
_Kaulah harapan kami._
Harapan untuk jadi alasan saat bertengkar.
Harapan untuk jadi tempat sampah saat marah.
Harapan agar tidak gila sendirian di rumah ini.
Jam 3 pagi Lana belum tidur. Dia membuka HP. Ada chat dari Rani: "Lan, tiketnya sudah aku pesan. Kamu berangkat besok pagi."
Lana diam, tidak membalas. Lana bingung harus berbuat apa? Kalau Lana pergi, mereka menangis. Kalau Lana diam, dia yang mati pelan-pelan.
Lana menutup mata. Menahan napas.
_Ini rumahku. Ini tanggung jawabku._
---
Keesokan harinya. Pagi.
Lana bangun pertama seperti biasa.
Ayah masih mendengkur di sofa. Ibu masih meringkuk di tikar.
Lana ke kamar, mengunci pintu, membuka laci.