Setelah kejadian malam bertengkar itu, rumah jadi aneh.
Ibu sudah tidak memukul lagi. Iya. Sudah tidak.
Tapi gantinya omelan 24 jam dan juga sindiran.
"Anak sekarang, ya, begitu. Sudah besar maunya bebas."
"Dulu Ibu mengandung 9 bulan, dibalasnya mau lari."
Lana diam. Menyapu. Memasak. Bekerja.
Di kepala cuma ada 1 kata: _pergi_. Tapi tidak ke kota sebelah.
Kota sebelah terlalu jauh. Terlalu menakutkan.
Lana memutuskan: _Cari kerja dekat rumah. Ngekos dekat kantor. Pulang kalau libur._
Lebih aman. Untuk mereka. Untuk Lana.
3 minggu. Melamar 12 tempat. Ditolak 11.
Sampai akhirnya ada: *Admin Toko Bangunan "Maju Bersama"*
Gaji Rp2.100.000,00. Jam 08.00-17.00. Lokasi: 30 menit dari rumah, 10 menit dari kos yang dicarikan Rani.
Pas HRD bilang "Diterima", Lana menangis di toilet.
"Ya Allah... terima kasih..."
Hari ini Lana berumur 25 tahun.
Tidak ada kue. Tidak ada ucapan.
Kado ulang tahunnya: *Kunci kos*.
Sore itu Lana duduk di ruang tengah. Tangan berkeringat.
"Bu, Yah... Lana mau bicara."
Ayah main HP, Ibu melipat baju.
"Lana sudah dapat kerja di kantor di kota sebelah tapi dekat rumah. Tapi... tapi Lana mau ngekos karena 30 menit jaraknya ke kantor. Kalau bolak-balik itu lumayan terasa. Nanti Lana akan pulang tiap hari Minggu dan menginap di rumah."
Dunia berhenti 5 detik.
Ibu berhenti melipat baju. Diam lama. Lama sekali.
Lalu cuma bilang, pelan: "Jangan bikin malu."
Ayah tidak menoleh. Scroll HP terus. Diam agak lama, tiba-tiba dia merogoh dompet. Mengeluarkan uang Rp2.000.000,00 berisi lembaran Rp100.000,00.
Ditaruh di meja. Mendorong ke arah Lana.
"Untuk makan kamu di sana. Hemat, jangan boros." Itu kalimat terpanjang Ayah ke Lana dalam 2 tahun. Lana tahu mereka tidak rela.
Tapi mereka juga capek. Capek bertengkar, capek melarang, dan capek menahan Lana.
Mungkin lega juga. Karena Lana tidak jadi pergi ke kota sebelah yang jaraknya 4 jam dari rumah.
Malamnya Lana mengepak. Kali ini tenang. Tidak buru-buru.
3 baju. 2 celana. Buku harian. Laptop pinjam. Piala Juara 1.
Surat yang dulu diremas, sekarang dia tulis ulang dengan rapi.
__Bu, Yah. Lana ngekos dulu, ya. Dekat._
_Tiap Minggu Lana pulang._
_Maaf kalau Lana membuat kecewa._
_Lana sayang Ayah Ibu._ 😊__
Ditaruh di meja tanpa ditindih apa-apa.
---
Lana masih asyik melamun di bus. Lana mencoba mengingat perubahan Ibu dan Ayah sebelum Lana pindah ke kos. Tiba-tiba 30 menit berlalu dan Lana sudah sampai di depan kos. Mobilnya berhenti di halte depan kos. Lana segera turun dan berjalan ke arah kos. Di sana sudah ada Ibu kos yang menunggu.
"Ini, Na. Kamar nomor 7. Untuk sendiri. Kamar mandi dalam. Harganya Rp500.000,00 per bulan, bayar di awal bulan,"
kata Kak Risa, teman kerja Lana nanti yang menolong mencarikan kos. Tangan Kak Risa menyodorkan kunci kecil warna silver. Kunci itu tidak ada gantungannya.
Tapi saat menyentuh telapak tangan Lana, rasanya berat. Berat sekali. Lana menggenggam erat kunci itu seperti mau bernapas dari situ.
"Ini... ini kunci surga," bisiknya.
Lana segera membayar kos untuk beberapa bulan.
Jam 6 sore. Lana berdiri di depan pintu kayu warna cokelat pudar.
Nomor 7. Ada stiker kupu-kupu lepas setengah.
*Ceklek.*
Pintu terbuka.
3x3 meter.
Kasur busa tipis di lantai. Seprei bunga-bunga sudah luntur.
Lemari plastik 2 pintu. Meja belajar reyot, kakinya diganjal buku.
Tembok hijau lumut di pojokan. Lampu neon berkedip 2 kali baru menyala.
Kamar mandi: ember, gayung, shower yang menetes.
Tapi ada kunci.
Kunci di dalam. Bisa dikunci dari dalam.
Lana masuk. Menutup pintu.
*Ceklek.*
Dikunci.
Duduk di kasur.
Hening.
Lalu... menangis.
Sekeras-kerasnya. Tersedu-sedu. Tangan menutup mulut.
25 tahun. Pertama kali menangis sampai puas tanpa takut diteriaki "DIAM!"