Inikah rumah hantu

goresan_pena
Chapter #9

AMARAH YANG TERPEMDAM 1

Pagi harinya, jam 07.00. Alarm berbunyi. Larania memejamkan mata. Badannya berat, perutnya panas seperti terbakar.

Dia memaksa duduk tapi kepalanya pusing. Larania memaksa berjalan. Saat mau berdiri ke kamar mandi, dunia berputar.

"Ah..."

Dan Larania jatuh. Pingsan di depan pintu kamar kosnya.


HP-nya di meja masih berbunyi notifikasi dari grup kantor: "Rapat jam 08.00, ya!"

Semuanya berantakan. Larania hancur karena memendam luka yang sekarang menjadi amarah yang siap meledak.

"Bagaimana caranya mengakhiri..." bisik Larania. Suaranya serak. "Aku sudah tidak kuat. Aku mau melupakan semuanya."


Larania berjalan ke kamar mandi, melihat cermin. Mukanya pucat, mata bengkak, bawah matanya menghitam, bibir pecah-pecah.

Larania mengambil 3 lembar HVS dari laci. Ditulis dengan tangan gemetar:

_Aku capek.. aku capek... Capek..._

Larania menulis berulang sampai ketiga kertas tersebut penuh.

Sobek.

Sobek lagi.

Sobek lagi sampai jadi hujan kertas kecil di lantai. Larania menyobek kertas sehalus mungkin sampai amarahnya reda.

"Aku takut. Aku takut gila. Aku takut kalau aku melakukan hal yang bodoh."

"Aku ingin pulang."


Setelah itu dia menangis. Kali ini agak kencang. Karena sudah tidak ada siapa-siapa yang mendengar.

"Bu..., Ayah," panggilnya pelan. "Aku capek jadi kuat terus. Apakah aku sekuat itu menurut kalian?"

Tidak ada jawaban. Larania bangkit, berjalan pelan, dan berbaring di kamar. Kamar tersebut sepi. Cuma suara kipas angin dan cicak yang terdengar.


----

Jam 01.00 Larania baru tidur. Dengan perut sakit dan dada sesak.

Dia tidak tahu, besok pagi dia tidak akan kuat bangun. Larania bangun dan merasa dadanya penuh, sesak, dan sangat sakit.


Jam di HP menunjukkan 07.43.

Dia terlambat 1 jam.

Grup kantor sudah 67 chat. Yang paling atas dari Mbak Dina:

"Kak Lana, kamu ke mana? Rapat sudah selesai. Klien menunggu revisi."


Larania mau menjawab. Tapi tangannya gemetar. Dia duduk dulu di kasur. Kepala Larania pusing. Dunia di sekitar Larania masih berputar.

Perutnya kosong, tapi tidak bisa makan karena mual. Larania bolak-balik ke kamar mandi. Muntah. Larania memuntahkan cairan bening seperti air dan rasanya asam, pahit.

Mukanya pucat seperti kertas, berantakan seperti setan. Mata bengkak. Bibir kering.


"Bagaimana cara selamat..." bisiknya lagi.

Tapi hari ini dia tidak bisa berpikir. Yang dia bisa cuma pasrah dan mencoba bertahan sampai malam.


Dia memaksa mandi air hangat, ganti baju. Minum obat lambung yang dikasih dokter 2 minggu lalu.

Jam 11.30 dia berangkat ke kantor. Naik angkot. Sepanjang jalan dia menekan perutnya. Setiap angkot mengerem, perutnya seperti ditusuk.


Sampai kantor....

"Kak Rani sakit, ya? Pucat sekali."

"Iya, maaf. Begadang mengerjakan laporan," bohong Larania sambil tersenyum. Senyum untuk menutupi luka. Itu capek tapi dia sudah ahli.


Seharian di kantor dengan perut yang sakit, badan lemas itu terasa seperti neraka.

Saat Larania mencoba fokus untuk membuat pekerjaan kantor, otaknya berisik.

__Kamu gagal._

_Kamu lambat._

Lihat selengkapnya