Larania terbangun dan melihat sekeliling.
Langit-langit putih. Rapi. Terlalu terang.
Bau alkohol menyengat di hidung. Dicampur bau obat yang pahit. Ada juga bau bubur dari meja sebelah.
Bunyi "tit... tit... tit..." pelan. Konsisten. Seperti detak jantung mesin.
Dia mengedip pelan. Sekali. Dua kali. Matanya perih karena lampu neon.
Otak Lana masih nge-lag. _Aku di mana?_
Tangan kanannya terasa berat, kaku, dan ngilu kalau digerakkan.
Saat Lana menunduk, ternyata ada selang infus menancap di punggung tangan. Tangannya kaku karena infus tersebut. Cairan bening menetes pelan dan masuk ke tubuhnya. _Tetes... tetes..._ sesuatu yang terasa dingin mengalir masuk ke tangannya lalu menuju jantung.
"Akhirnya sadar, Lan," suara di sebelah. Perempuan.
Larania menoleh. Itu Rani. Teman kosnya sekaligus teman satu kantor di divisi admin. Rambutnya dicepol, pakai baju kantor tapi rapi. Matanya merah seperti habis begadang.
Larania mau bicara. Tapi begitu membuka mulut, tenggorokannya kering seperti gurun. Sakit.
"...Ini... di mana?" suaranya keluar serak, pecah.
Rani langsung menyodorkan gelas berisi air pakai sedotan. "Pelan-pelan, Lan."
Rani duduk di kursi plastik sebelah ranjang. Tangannya gemetar.
"Tadi aku ke kos kamu mau ngasih laporan kamu yang ketinggalan di meja. Lalu aku dengar tidak ada suara. Aku gedor-gedor, tidak menyahut. Akhirnya aku minta tolong Ibu kos untuk membuka pintu." Suara Rani mulai bergetar. "Dan ternyata aku menemukan kamu pingsan di kamar. Wajahmu pucat dan di sekelilingnya ada sobekan kertas. Aku panik, Lan. Aku langsung membawa kamu ke RS pakai mobil om aku."
Larania memejamkan mata lagi. Kepalanya terasa berat dan dadanya nyeri. Lana memejamkan mata lalu...
"RS lagi..." gumamnya pelan. "Memang benar ternyata aku lemah dan beban."
Rani langsung memegang tangan Larania yang tidak diinfus. Digenggam erat.
"Jangan bicara begitu, Lan. Kamu bukan beban. Kamu hanya sedang sakit. Biasanya kamu bisa hidup sendiri di kos tanpa merepotkan orang. Sekarang kamu sakit dan kami yang jaga kamu. Itu wajar, Lan."
Air mata Larania menetes ke pelipis. "Tidak, Ran. Aku memang beban dan lemah. Buktinya aku sudah beberapa bulan ini sering pingsan dan merepotkan orang-orang. Kamu harus izin kantor."
Rani menggeleng. Dia jongkok agar sejajar dengan mata Larania.
"Dengar, ya. Kita sebagai tetangga dan juga teman harus saling tolong-menolong. Itu sudah janji kita waktu pertama kali kos bareng, kan? Kalau kamu bicara begini, berarti suatu saat kalau aku yang ada di posisi kamu, kamu akan menganggap aku beban juga, ya, Lan?"
Pertanyaan itu menancap. Larania langsung menjawab. "Bukan, Ran. Tidak mungkin aku menganggap kamu beban karena kamu kan teman aku, Ran."
"Nah, jadi jangan menilai dirimu berbeda."
Larania menahan isak. "Tapi aku tidak enak, Ran. Mengganggu kamu dan yang lainnya. Kalau aku tidak sakit, pasti kalian tidak akan repot ke rumah sakit dan juga menungguiku bangun."
Rani tertawa kecil. Sambil menyeka air mata Larania pakai tisu.
"Sudah, Lan. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang kamu hanya perlu fokus ke diri kamu dan juga banyak istirahat agar cepat pulih. Pekerjaan biar aku yang handle dulu sama Mbak Dina. Ibu kos dan kantor sudah aku kabari. Semuanya aman."
Larania mengangguk pelan. Bibirnya dipaksa tersenyum. "Makasih, ya, Ran."
"Sudah. Aku izin pamit dulu, ya, Lan. Mau balik ke kantor, sekalian bawakan baju ganti untuk kamu. Titip ke suster. Kalau ada apa-apa, pencet tombol itu, ya." Rani menunjuk tombol di samping ranjang. "Aku balik lagi habis Magrib."
Setelah Rani keluar, kamar jadi sepi lagi. Cuma ada suara "tit... tit..." dan suara langkah suster di luar.
Lana melirik ke samping, ke arah meja. HP Larania ada di meja sebelah ranjang Lana. Layarnya menyala karena dicolok charger.
23 chat belum dibaca.
Grup Kantor: 15 pesan.
Mbak Dina: 5 pesan.
Ibu: 3 pesan.
Pesan paling atas dari Ibu. Jam 06.03 pagi.
"Bagaimana kabar kamu, Nak? Kamu sudah tidak pernah chat lagi. Mentang-mentang sudah kerja jadi sombong. Kamu sama sekali sudah tidak menghargai aku, ya, Lana?"
Di bawahnya jam 06.30: "Kok tidak dibalas? Dasar anak durhaka?"
Larania tertawa kecil. Keluarnya seperti batuk. Dadanya sakit.
"Iya, Lana memang sombong, Bu. Ini saja Lana sudah mau mati," Lana tertawa masam. Lalu Lana mematikan layar HP-nya.