Inikah rumah hantu

goresan_pena
Chapter #11

Puncak amarah

Lana membuka mata tapi Lana tidak melihat apa-apa.  

"Gelap. Kenapa tidak ada lampu?"  


Bukan gelap yang kosong. Ini gelap yang berat. Seperti diselubungi selimut basah, lengket, tidak bisa dilepas.  

Tidak ada suara. Tidak ada waktu. Tidak ada Larania.  

Cuma ada napasnya sendiri. _Huuh... huuh..._ pelan. Tersendat.  


Tiba-tiba ada yang menarik Lana. _Sessss..._  

Disusul suara bentakan yang sudah dia kenal sekali. "Dasar anak tidak becus!" dan sapu pun mendarat di tubuh Lana!  

Lalu tiba-tiba Lana mendengar suara tangisan anak kecil yang ditahan.  


Larania melihat cahaya kecil lalu mengejarnya. Dia ada di dapur rumah masa kecilnya di kampung. Lantainya keramik hijau yang sudah retak-retak dan terdapat bau minyak jelantah bercampur nasi gosong.  


Di depannya ada Lana kecil umur 7 tahun. Rambut pendek dan berantakan dengan baju SD kebesaran, lengannya digulung. Tangan kecil gemetar memeluk dirinya sendiri.  


Pintu dapur terbuka keras. Ibu masuk memakai daster bunga-bunga. Mukanya merah dan berkeringat karena habis dari pasar.  

"Rania! Kamu berkelahi lagi. Kenapa sih nakal sekali, tiap hari berkelahi sama saudaramu. Kenapa sih masih kecil tapi hatimu busuk. Kamu iri, kan, sama saudaramu makanya berkelahi terus!"  


Larania kecil menunduk. "Maaf, Bu..." *PLAK.*  

Tamparan mendarat di pipi Larania kecil. Badannya terhuyung ke samping dan dia jatuh terduduk di lantai. Lututnya lecet kena keramik.  


Larania yang besar cuma bisa melihat dari pojok dapur. Mulutnya mau berteriak "BERHENTI" tapi tidak keluar suara. Tangannya mau menahan tapi tembus.  

"Kerja sedikit saja tidak becus! Sana menyapu! Sampai kinclong! Kalau tidak selesai tidak usah makan!" bentak Ibu lagi, lalu membanting pintu sampai gagang pintunya copot.  


Larania kecil menangis. Dia paling benci kalau menangis kencang karena nanti dibilang "lebay dan tukang drama".  

Dia merangkak ke sapu lidi di pojok. Bahunya naik-turun. Air matanya menetes ke lantai.  


Larania yang besar duduk di sebelahnya. Lana mencoba mengusap kepala anak itu tapi tidak bisa.  

"Maaf, ya... maaf aku tidak bisa menolongmu waktu itu..." bisiknya. Suaranya pecah. "Kamu hebat. Kamu sudah usaha."  

Tapi Larania kecil tidak mendengar. Dia cuma menyapu sambil tersedu.  


---  

Sekarang Lana melihat Lana waktu SMP. Kelas 8 yang sedang berada di aula sekolah.  

Larania berdiri di depan. Memegang sertifikat dilaminating. Juara 2 Lomba Menulis se-Kecamatan. Mukanya sumringah. Itu pertama kalinya dia menang.  


Sorenya dia lari pulang. "Bu, aku juara 2! Dapat piala juga!"  

Ibu sedang menyetrika di teras. Tidak menoleh.  

"Taruh situ. Bantuin melipat baju. Banyak."  


"Bu, ini sertifikat pertama Lana... Aku menulis cerpen tentang Nenek dan juara, Bu..."  

"Buat apa sertifikat? Bisa dijual? Bisa untuk bayar listrik? Bisa untuk bayar sekolah adikmu?"  


Ibu menyambar kertas itu dari tangan Larania. Sobek. Dua kali. Suaranya keras. Dibuang ke tempat sampah depan teras.  

"Kerja yang benar. Jangan berangan-angan jadi penulis. Tidak ada uangnya. Sekolah yang benar biar pintar."  


Larania kecil berdiri kaku. Matanya panas. Tapi dia menahan. Dia sudah ahli menahan sejak umur 7 tahun.  

Dia memungut sobekan sertifikat dari tempat sampah. Merapikan pelan-pelan pakai lakban. Air matanya menetes di atas kertas. Tintanya luntur.  


Larania yang besar ikut duduk di teras. Dia mengambil sobekan itu dari tangan anaknya.  

"Aku bangga sama kamu," bisiknya. "Tulisanmu menyelamatkan aku bertahun-tahun kemudian. Makasih, ya."  


---  

Muter lagi.  

Umur 20 saat Lana menang lomba menulis dan memutuskan untuk ngekos. Kamar 3x3 dengan kasur di lantai. Lana menerima gaji pertama 5 juta. Dia mentransfer semua ke rumah. Menyisakan untuk menabung dan kebutuhan Lana untuk makan sebulan. Lana merasa senang karena bebas dari rumah hantu.  


---  

Semua adegan yang bagi Lana punya memori itu berputar terus bergantian seperti film rusak. Tidak ada jedanya.  

Bentakan, sobekan, makian, pukulan. "Kamu harus kuat." "Kamu anak perempuan." "Jangan mengeluh." "Kamu kan perempuan, harus bisa."  


"BERHENTI..." teriak sesuatu di dalam tubuh Lana. "AKU SUDAH CAPEK! AKU SUDAH CAPEK JADI KUAT TERUS!"  

Tapi tidak ada yang menjawab. Cuma gema suaranya sendiri yang memantul. Dia berlari di kegelapan itu. Tidak tahu mau ke mana. Kakinya lecet. Napasnya ngos-ngosan.  


---  

Lihat selengkapnya