Inikah rumah hantu

goresan_pena
Chapter #12

awal baru

Tiga hari setelah Larania sadar, Dokter Rendra menandatangani surat pulang.

"Mbak Lana boleh rawat jalan. Tapi ada 3 syarat," kata dokter sambil menyodorkan resep. "1. Kontrol tiap minggu. 2. Ketemu psikolog tiap 2 minggu. 3. Banyak istirahat. Benar-benar istirahat dari semuanya. Jangan mikirin apa-apa dulu."


Larania mengangguk. Di pangkuannya ada tas plastik isi obat: antasida, penenang, vitamin.

Rani yang menjemput. Dia membawa mobil omnya.

"Gimana, Lan? Deg-degan pulang?"

Larania melihat keluar jendela. Siang itu panas tapi langitnya bersih. "Lana agak takut. Takut balik ke rutinitas lama."


Di kos, kamarnya sudah dibersihkan Rani. Ada bunga melati di meja. Ada surat kecil:

_"Untuk Larania yang baru. Pelan-pelan, ya. - Rani"_


Malam pertama di kos rasanya aneh. Tidak ada suara "tit... tit...". Tidak ada suster.

Jam 22.00 malam HP berbunyi. Ibu.

Larania melihat 3x. Jantungnya kencang. Lalu dia menekan "tolak".

Tangannya gemetar. Tapi dadanya... lega.


Dia membuka buku diary baru. Halaman pertama dia tulis:

__"Hari 1 Awal Baru._

_Hari ini aku menolak telepon dan semuanya baik-baik saja. Dunia tidak kiamat."__

Dia tidur jam 23.00.


---

Senin pagi. Klinik Sejahtera Mental.

Ruangannya adem. Ada lukisan laut. Baunya lavender. Mbak Sari, psikolognya, tersenyum. "Hai, Lana. Bagaimana 3 hari ini?"


Larania duduk. Menggenggam tasnya. "Masih takut, Mbak. Takut kalau semua berantakan."

"Oke. Kita mulai pelan, ya. Kamu ingat pertama kali merasa harus 'kuat'?"


Larania diam. Lalu bercerita. Pelan-pelan.

Cerita umur 4 tahun yang disuruh bungkam.

Cerita umur 5 tahun dia disuruh tidur di gudang karena orang tuanya bertengkar.

Cerita umur 7 tahun disuruh memasak karena Ibu kerja.

Cerita umur 10 tahun disalahkan karena nasi gosong.

Cerita umur 15 tahun sertifikatnya disobek.

Cerita umur 20 tahun dia memberanikan diri keluar dari rumah.


Sambil bercerita dia menangis. Tidak kencang tapi air mata Lana sangat deras. Tubuhnya gemetaran karena mencoba meluapkan beban yang sudah lama dipendam.

Mbak Sari cuma mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi.


"Rani," kata Mbak Sari saat Larania selesai. "Kamu dari kecil diprogram jadi 'penyelamat'. Makanya sekarang badanmu protes. Badanmu meronta dan seolah-olah bilang 'aku capek jadi penyelamat'."


Larania mengangguk. "Lalu bagaimana, Mbak?"

"Kita belajar 3 hal. 1. Batas. 2. Izin untuk capek. 3. Bicara 'tidak'. Mau coba PR minggu ini?"

"PR apa?"

"1x dalam seminggu, bilang 'tidak' ke sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman. Kecil saja. Lalu tulis di diary rasanya bagaimana."

"Oke, Dok," Lana mengangguk paham dan segera pulang.


Pulang dari psikolog, Larania lemas tapi lega. Seperti habis membuang sampah 20 tahun.


Sorenya Mbak Dina chat: "Rani, bisa lembur tidak malam ini? Ada revisi mendadak."

Jantung Larania kencang. Jari Lana sudah siap di atas keyboard.

Dulu dia pasti jawab: "Bisa, Mbak."


Hari ini dia mengetik pelan-pelan: "Maaf, Mbak, malam ini aku tidak bisa. Aku sedang pemulihan. Bisa dikerjakan besok pagi saja, kan, Mbak?"

Enter.

Larania memejamkan mata. Takut akan dimarahi, dimaki, atau dihina. Lana gemetaran dan panik.


5 menit kemudian Mbak Dina membalas: "Oalah, iya. Cepat sembuh, ya, Lan. Besok saja."

Lana menarik napas dan tersenyum. Napasnya lega. Ternyata dia boleh berkata tidak dan semuanya akan baik-baik saja. Ternyata dunia tidak semenyeramkan itu.


Lihat selengkapnya