Kosnya terasa beda, dulu mejanya penuh sticky note target. Sekarang ada tanaman lidah mertua di pojok. Ada rak buku kecil. Ada diary.
Pagi jam 04.30 alarmnya berbunyi tapi bukan suara notifikasi kantor melainkan suara ayam dan azan dari masjid sebelah.
Larania bangun tanpa pusing. Perutnya masih agak sensitif, tapi tidak sakit seperti terbakar lagi. Dia membuat teh jahe dan duduk di balkon kecil. Melihat jalanan basah habis hujan malam.
HP-nya ada di meja. Sepi.
Grup kantor sudah dia keluarkan. Chat Ibu sekarang seminggu sekali. Isinya: "Jaga kesehatan, ya, Nak."
Bukan makian.
Itu kemenangan kecil, tapi bagi Lana rasanya sebesar gunung.
Siangnya Lana membuka laptop bukan untuk kerja tapi untuk menulis dan menonton.
Tangannya berhenti ketika tidak sengaja mengetik kalimat "memaafkan diri sendiri".
_Memaafkan?_
Dia masih marah sama dirinya umur 10 tahun yang "tidak becus". Masih marah sama dirinya umur 20 tahun yang "tolol nurut terus".
Mbak Sari bilang: "Berdamai itu bukan melupakan. Berdamai itu lukanya masih ada, tapi tidak berdarah lagi tiap disentuh."
Larania memejamkan mata. Menarik napas.
"Oke. Kita coba."
Sorenya Rani datang membawa martabak dan juga makanan kesukaan Lana.
"Gimana proses nulisnya, Lan?"
"Berat, Ran."
"Mau aku temenin?"
Larania mengangguk. "Mau."
Mereka menulis bareng sampai Magrib. Tidak bicara. Cuma ada suara keyboard dan hujan.
Malamnya Larania tidur jam 22.00. Sebelum tidur dia menulis di diary:
__"Hari 240 Awal Baru._
_Hari ini aku memutuskan untuk berdamai._
_Bukan karena sudah sembuh._
_Tapi karena aku capek berperang sama diriku sendiri."__
---
Minggu ini Larania ke psikolog.
"Bagaimana minggu ini, Rani?" tanya Mbak Sari.
"Aku menulis surat, Mbak. Banyak."
"Surat untuk siapa?"
"Untuk Ibu, untuk diriku kecil, untuk teman-teman, dan juga untuk Nenek."
Mbak Sari tersenyum. "Boleh dibacakan satu?"
Larania membuka buku. Tangannya gemetar.
__"Bu,_
_Aku marah._
_Marah karena aku kecil harus dipaksa bungkam._
_Aku marah kenapa aku selalu dipukul._
_Aku marah kenapa aku diperlakukan tidak adil._
_Aku marah kenapa aku harus dicap jahat dan dihakimi karena hanya berharap pelukan Ibu._
_Marah karena sertifikatku disobek._
_Marah karena aku tidak pernah ditanya 'kamu capek tidak?'__
Lana meneteskan air mata.
__Tapi hari ini aku mengerti._
_Ibu juga tidak pernah ditanya begitu._
_Ibu juga capek._
_Jadi maaf kalau aku berteriak lewat diamku selama ini._
_Aku tidak melupakan._
_Tapi aku mau berhenti menyalahkan._
_Biar kita berdua-duanya bisa tenang."__
Selesai membaca, Larania menangis. Tapi nangisnya lega.
"Lalu mau dikirim?" tanya Mbak Sari.
Larania menggeleng. "Tidak. Ini untuk aku. Biar aku yang baca. Biar aku yang dengar."
Pulang dari klinik, dia ke taman. Duduk di bawah pohon. Dia membuka HP. Dan melihat ada chat dari Ibu. Foto adiknya wisuda.
Caption Ibu: "Alhamdulillah. Makasih, ya, Nak, sudah bantu dulu."