Zanna membuka mata perlahan, melihat di sampingnya sudah tidak ada siapa-siapa. pukul 07.12 masih terlalu pagi untuk bangun di hari libur, akan tetapi kantuknya sudah hilang dan memilih ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajah.
Merasa fress setelah mencuci wajah, Zanna keluar kamar, kini dapur adalah tujuannya. Turun ke bawah, ia melihat Arkan kini berdiri di tengah-tegah dapur memegang spatula depan kompor, tampak ia sedang memasak sesuatu di atas teplon.
Mendengar derap langkah Zanna, Arkan menoleh sekilas lalu kembali fokus pada kegiatannya.
"Udah bangun?" pertanyaan retorika ia lontarkan.
Zanna yang mencium sosis dan telor yang digoreng melangkah mendekat. Duduk di kursi di sisi konter dapur memandang punggung tegap Arkan yang masih berkutat di depan kompor.
Beberapa menit kemudian, Arkan memberikan secangkir susu hangat di atas meja di hadapan Zanna dan juga piring yang berisi sosis dan ommelet yang baru saja matang. Ia juga mengisi piringnya dengan menu yang sama kemudian duduk di hadapan gadis itu, melahap hasil masakannya sendiri.
Berdua saja di rumah karena orang tua mereka sedang berada di luar kota menghadiri acara pernikahan anak laki-laki tante Naya kakaknya Mamanya mengharuskan mereka untuk meginap di sana. Kenapa ia dan Arkan tidak ikut? Sebab ia beralasan tak bisa ketinggalan pelajaran padahal dia ingin pergi ke perayaan ulang tahun sepupu Cassy, sementara Arkan pada saat itu masih berada di Bandung mengurus kerjaaannya di sana.
Zanna menyelesaikan sarapannya, membawa piring kotor ke westafel mulai mencucinya. Arkan juga ternyata sudah selesai, merasakan Arkan yang mendekat dengan membawa piring kotor miliknya, Zanna inisiatif mengambil piring dan gelas di tangan Arkan untuk dia cuci, "aku aja kak" ujarnya menghindari menatap langsung wajah Arkan.
Melihat tingkah kikuk dan canggung gadis itu membuatnya merasa geli. Barangkali ciuman itu seharusnya tidak dia lakukan dan kini Zanna terkesan berusaha menghindari, tak mau menatapnya, beruntung gadis itu masih bersedia sarapan dengannya. Tapi ciuman semalam sama sekali tidak meninggalkan penyesalan untuknya yang dia sesali adalah durasinya yang begitu singkat terlalu singkat. Masih ia ingat betapa tegangnya Zanna di saat bibir mereka menyatu. Di malam-malam sebelumnya ia selalu memimpikan gadis itu, membayangkan adiknya membuka diri untuk ia sentuh, dan semalam mimpi itu terwujud, ia merasakan manisnya bibir ranum gadis itu.
Selama ini dia selalu berusaha menghindari Zanna apabila gadis itu mendekat, mencegah gadis itu bermanja padanya seperti yang biasa mereka lakukan disaat Zanna masih kecil. Memfokuskan diri pada pekerjaan dan rela bolak balik Jakarta-Bandung semata-mata untuk menghindari adiknya, mencegah dirinya berbuat buruk pada adiknya. Tapi semua pertahanannya kini runtuh, bagaikan karet yang terus ditarik hingga pada akhirnya lepas membuatnya sudah lepas kendali tak mampu menahan lebih lama lagi terbukti dengan dirinya yang secara impulsif mencium bibir merah jambu gadis itu. Tuhan tau dia seberapa keras berusaha untuk menghilangkan perasaan yang seharusnya tidak ada, berusaha menjaga adiknya dari bejadnya dirinya. Tapi sekarang ia sudah tidak peduli, ia akan membiarkan hati dan tubuhnya yang seolah memaksa untuk terus mendekat dan berbuat lebih
Zanna menegakkan punggung tegang akibat tangan kekar yang kini memeluknya. Seolah tak cukup untuk membuat jantungnya berdebar kencang seolah ingin melompat, kini Arkan menyandarkan dagunya di bahunya, napas berat laki-laki itu berembus di leher membuat tubuhnya meremang.
"Kak?" Zanna mencuci tangannya dari bekas sabun cuci piring. "Kak lepasin" pintanya gugup.