Insane Man

Ulfa Aida
Chapter #7

Sentuhan lembut

"Guru yang dikenalin temen aku katanya udah profesional dan denger-denger dia mantan koki, dia sudah 12 tahun berpengalaman jadi koki restoran dan 3 tahun terakhir menjadi guru les masak. Coba mas pertimbangkan, aku rasa dia cocok jadi guru les Zanna" ujar Arabella seraya sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.

Suasana pagi berjalan seperti biasanya, Zanna sudah siap dengan seragam sekolahnya duduk di meja makan sarapan bersama orang tuanya. Hanya saja kali ini mereka cuman bertiga, Zanna tak mendapati Arkan duduk di meja makan. 'Apa Arkan sudah berangkat ke kantor?' pikirnya karena memang biasanya jika ada keadaan di kantor yang mendesak Arkan akan berangkat pagi-pagi bahkan kadang pergi ke Bandung mengurus kerjaannya di sana. Rasanya sia-sia mencari cara agar bersikap biasa saja saat bertemu Arkan nyatanya pria itu tidak sedang berada di sini.

"Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Revan. "Kamu tau sendiri kita sering pergi-pergi, aku tak tenang kalau membiarkan Zanna di rumah bersama dengan guru laki-laki" lanjutnya.

Zanna hanya menyimak pembicaraan kedua orang tuanya, sejujurnya belajar masak hanyalah alasan yang ia gunakan agar bisa pergi dari rumah saat akhir pekan, siapa sangka orang tuanya begitu serius menanggapi ucapannya.

"Dia perempuan mas" jawab Arabella, ia menuangkan segelas susu dan meletakkannya di sisi Zanna kemudian mengambil tempat di samping Revan. "bagaimana menurut mas? Apa aku hubungi dia saja?"

"Terserah kamu, Aku percaya pilihanmu sayang" ucap Revan membuat Arabella tersenyum malu-malu.

"Dimana Arkan?" Revan bertanya mewakili pertanyaan di benak Zanna.

"Jam 3 pagi dia ngirim pesan, dia pamit pergi ke Bandung katanya ada urusan mendesak di sana" Arabella berucap prihatin, "kalau tahu dia akan berangkat sepagi itu, seharusnya aku bangun cepat menyiapkan bekal, kira-kira dia sudah sampai nggak ya? Apa dia sempat sarapan?"

"Dia sudah besar sayang, tidak usah khawatir berlebihan seperti itu?" sahut Revan terlihat cuek.

***

Tiga hari berturut-turut Arkan belum pulang dari Bandung membuat perasaan Zanna tenang dan bebas, sebab tidak ada pembuat masalah yang membuatnya berjaga-jaga sewaktu-waktu ada yang menciumnya yang dapat mengakibatkan hal itu diketahui orang tua mereka.

Setiap malam sebelum tidur ia selalu meng-afirmasi bahwa semua yang Arkan lakukan hanya kegilaan sesaat dan pria itu akan normal kembali, menjadi kakaknya yang dulu.

Hari-hari ia lalui seperti biasa, hari kamis setelah pulang sekolah ia akan les bahasa Spanyol, jumat latihan paduan suara, dan sabtu ia kumpul dengan anggota klub buku, tapi kemarin ia tidak hadir sebab menemani Cassy belanja skincare.

Minggu pagi ini, kedua orang tuanya sibuk berkemas dan pak Adam yang membantu mengangkat barang mereka.

"Mama sama papa berapa hari di sana? Aku ditinggal mulu nih parah" keluh Zanna.

Arabella mengelus puncak kepala Zanna menenangkan, " nggak tau berapa lama, mama sama papa cuman bentar kok di sana, kan Zanna tau sendiri mama sama papa nemenin nenek chek up" hiburnya.

Tentu saja Zanna tau orang tuanya tidak hanya menemani sang nenek chek up, pasangan itu pasti akan menikmati liburan bersama layaknya pengantin baru. Terkadang Zanna bahagia melihat orang tuanya masih begitu mesra seperti pasangan muda yang suka liburan dan berkencan, akan tetapi sesekali ia merasa kesal kalau terlalu sering ditinggal sendirian.

"Lain kali ajak Zanna ya ma" pinta Zanna, ia juga merasa bosan terus-terusan di rumah dan melakukan rutinas yang itu-itu saja, sekolah dan les.

"Tentu sayang, papa sama mama bakalan ajak Zanna juga, tapi liburam semester nanti, ya kan sayang?" tanya Revan menoleh ke Arabella.

"Tentu" jawab Arabella kemudia mengecup kening Zanna. "Mama sama papa beragkat dulu ya" pamitnya.

Lihat selengkapnya