"Zan, sudah pulang?" Arkan berbasa-basi ketika melihat Zanna yang masih memakai seragam sekolah berjalan melewatinya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Awalnya ia fokus pada laptop di depannya tetapi melihat gadis itu membuatnya tak lagi memperdulikan benda elektronik itu.
Zanna mengehentikan langkah, menoleh ke arah sumber suara. "Kak Arkan? Gak ke kantor?" tanyanya.
"Enggak" Arkan menjawab singkat, kemudian jarinya mengail meminta gadis itu mendekat. "Sini dulu" ucapnya.
Zanna menghampiri Arkan. Kini ia berdiri di depan pria itu dengan sebuah meja di antara mereka.
Arkan menepuk pahanya, mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Dan ia terkekeh geli ketika melihat Zanna memutar bola mata jengah tetapi tetap menuruti permintaannya. Gadis itu mengitari meja dan duduk di atas pahanya saling berhadapan.
Arkan meraih tengkuk Zanna kemudian menariknya mendekat, mulutnya sedikit terbuka ketika mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu, melumatnya seperti yang akhir-akhir ini sering mereka lakukan.
Semenjak Arkan yang memaksa Zanna untuk memuaskan miliknya dengan mulut gadis itu, ia menjadi semakin sering menciumi Zanna sesukanya, beberapa kali memasukkan tangannya ke dalam pakaian Zanna guna meremas buah dadanya, dan sesekali meminta Zanna untuk menyentuh miliknya setelah ia memuaskan gadis itu. Apalagi orang tua mereka sekarang masih tidak ada di rumah, jadi Arkan bebas melakukan apapun, tetapi hanya sekedar ciuman dengan lidah dan petting tidak pernah sampai memerawaninya karena dia tau Zanna belum siap untuk itu.
Bibir Arkan turun menuju leher Zanna, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu kemudian memberikan kecupan beserta gigitan kecil di sana sementara tangannya tak tinggal diam awalnya mengelusi punggung Zanna merambat turun meremas kedua bongkahan pantat gadis itu.
"Eugh" erangan memalukan itu keluar dari bibir Zanna kala Arkan menghisap lehernya agak kuat.
"Kak udah" protes Zanna.
"Udahan?"
"Mm" Zanna mengangguk
"Masa udahan?" ucap Arkan seolah tak rela.
Zanna hendak turun tetapi Arkan menahan pinggangnya agar tetap diam di pangkuan pria itu. Arkan menyentuh surai lembut gadis itu dan menatapnya intens.
"Kak jangan kenceng-kenceng" Zanna mengeluh lantaran Arkan dengan sengaja meninggalkan bekas.