Ipah

Tika Sofyan
Chapter #1

Prolog


Bu Yana masih mencari kata-kata yang bisa—jika mungkin—memberikan semangat untuk Ipah dan emaknya. Tidak pernah mudah memberikan berita buruk pada orang tua murid tentang anak mereka. Setidaknya berita itu sudah berhasil disampaikan. Mengenai kata-kata motivasi, sejujurnya hati Bu Yana pun mulai ragu. Apalagi yang harus ia sampaikan? Tepatnya, apa yang belum pernah ia sampaikan pada Ipah selama menjadi wali kelasnya? Supaya Ipah lebih memperhatikan guru di kelas, sudah. Supaya Ipah rajin membaca buku-buku pelajarannya di rumah, sudah. Supaya Ipah bertanya jika ada yang belum jelas, sudah. Masih banyak lagi pesan-pesannya untuk Ipah selama ini. Hasilnya tetap sama. Kali ini, rapotnya menunjukkan hasil yang tak jauh beda dari rapotnya tahun lalu. Sama-sama tidak menolongnya untuk bisa naik kelas.

Emak mulai mengangkat kepalanya dan bersuara lirih. “Apa… nggak bisa diusahakan, Bu? Kasih tugas tambahan gitu, Bu?” tanya Emak pada Bu Yana, meskipun tahu pertanyaannya takkan mengubah apa pun. Pertanyaan yang membuat Ipah merasa ingin merosot ke bawah kursi.

“Sudah saya coba, Bu.” Wajah putus asanya menjawab pertanyaan Emak. Bu Yana menatap Ipah. “Coba lagi ya, Pah. Ibu akan bantu Ipah kalau ada pelajaran-pelajaran yang Ipah nggak mengerti.” Akhirnya hanya itu yang bisa Bu Yana pikirkan untuk membangkitkan semangat murid satu-satunya yang harus mengulang tahunnya di kelas lima, untuk kedua kalinya.

Kedua kalinya.


Lihat selengkapnya