Ipah

Tika Sofyan
Chapter #2

Rapor Terakhir

Jakarta, 1992.

 

Sampai tua sekali pun, Ipah ingat hari itu. Akhir bulan Juni. Ia masih gadis kecil yang benar-benar tidak bisa dibilang kecil. Baru dua bulan setelah ulang tahunnya yang ketiga belas. Dua bulan lalu, ia merasa bangga dengan umurnya yang setahun lebih tua, meski tak ada perayaan apa pun seperti biasanya. Tak ada yang memberi selamat ulang tahun kecuali emaknya sendiri, juga Bapak-setelah diingatkan oleh Emak. Rami, kakak perempuannya, sama sekali tidak mengucapkan apa-apa bahkan setelah diingatkan oleh Emak. Ipah tidak sakit hati, sudah lama ia tidak berharap apa pun pada saudara kandung satu-satunya itu. Evi, sahabatnya sejak balita, memberi ucapan selamat ulang tahun sehari setelahnya ketika mereka berpapasan di depan warung Bu Isah.

Semua orang sudah lama pergi meninggalkan sekolah. Bu Yana, wali kelas Ipah, adalah orang terakhir yang meninggalkan sekolah dengan motor bebek merahnya. Setelah satu jam sebelumnya menyampaikan berita buruk untuk Ipah. Bahwa Ipah terpaksa tinggal di kelas lima lagi. Lagi. Untuk kedua kalinya. 

Ekspresi Emak yang hari itu datang ke sekolah untuk mengambil rapor, terekam jelas dalam ingatan Ipah. Emak kelihatan lemas seperti sakit. Tubuh kecilnya duduk membungkuk di kursi, berhadapan dengan gurunya. Meski tak ada tangis, tampak jelas kesedihan di rautnya.

Emak menunduk dalam diam. Mata lelahnya, yang sudah tak pernah membaca lembar-lembar buku sejak ia tamat sekolah dasar, berulang kali menelusuri angka-angka berwarna merah di lembar hasil prestasi anaknya selama satu tahun ajaran. Terpaku pada kalimat ‘TIDAK NAIK KELAS’ yang dilingkari oleh sang guru.

Rekaman yang kini diputar kembali dalam benak Ipah itu membuat air matanya menetes lagi. Dibiarkannya begitu, karena tidak ada yang akan melihatnya.

Ipah terbiasa pergi dan pulang berjalan kaki sendiri. Bersama beberapa teman, jika beruntung. Kalau saja ada arloji melingkar di pergelangan tangannya, ia akan tahu hampir tiba waktu Ashar.

*

Lihat selengkapnya