Ada rasa tersiksa ketika harus bangun setiap hari di samping orang yang paling tidak kau sukai di dunia ini. Itu yang dirasakan Ipah setiap pagi. Saat ia membuka mata, orang yang ia lihat adalah kakaknya, Rami. Ipah lahir setelah Rami berusia 7 tahun, tapi Ipah tak pernah mau memanggil Rami dengan panggilan Kak, atau Mbak. Rami tidak suka itu. Mungkin itu sebabnya Rami kerap tidak merespon atau pura-pura tidak dengar saat Ipah berbicara dengannya.
Ipah tidur di kasur yang sama dengan Rami dan Emak, di kamar yang sama karena mereka hanya mempunyai satu kamar tidur di rumah itu. Kalau tidak ingat uang yang akan dihasilkan setiap kali ia cepat-cepat keluar dari kamar, suasana hatinya pasti terkurung dalam keadaan sesak. Betapa enaknya, kalau tidak ada Rami di rumah ini. Segala skenario sudah pernah mampir dalam benak Ipah. Rami kawin muda, dibawa suaminya tinggal jauh di luar pulau Jawa sehingga jarang pulang. Rami dapat kerja lagi dan ngekos di tempat jauh. Rami dapat pekerjaan di luar kota. Rami diculik alien dan tidak ada yang bisa menyelamatkannya… Tapi semua itu tidak kunjung terjadi.
Ipah tahu langit masih gelap dari ventilasi kecil di kamar. Namun Ipah juga tahu sudah saatnya bangun karena terdengar suara langkah Emak dari luar kamar. Ada cahaya yang masuk dari celah antara pintu dan lantai. Ipah beranjak dari tempat tidur. Terlalu bertenaga ia membuka pintu kamar, sehingga kalender yang menggantung di sisi luar pintu kamar bergoyang. Itu kalender tahun lalu. Lembarnya sudah tak disobek lagi sejak Agustus 1990, yang menampilkan wajah cantik Desy Ratnasari. Emak suka sekali pada artis itu. Tidak ada yang boleh merobeknya. Desy masih bergoyang-goyang di pintu saat Ipah menuju dapur yang sekaligus tempat makan dan tempat mencuci karena bersebelahan dengan kamar mandi rumah mereka. Sebuah ruang kecil di bagian depan menjadi ruang tamu, ruang keluarga, sekaligus ruang tidur bapak tiap malam. Tangan-tangan Ipah mencari baskom plastik, terigu dan ragi, di tempat ia menyimpannya. Dengan gesit Ipah mencampur ragi dengan air panas dan gula. Ia suka sekali proses campuran itu kemudian berbuih. Aroma tajam ragi yang dulu membuatnya eneg sekarang ditunggu-tunggunya. Dicampurnya ke dalam gundukan tepung terigu dalam baskom. Ada rasa puas saat menyaksikan semuanya tercampur, lebih lagi ketika jari-jarinya meremas adonan hingga tercampur.
Ipah teringat pertama kalinya ia belajar membuat donat. Emak mengomel panjang karena dapurnya kotor berantakan. Tepung berceceran di sana-sini, baskom kotor terjatuh di lantai.
“Mubazir!” teriak Emak sambil mengumpulkan tepung yang tumpah-tumpah ke meja.
Cipratan-cipratan minyak mengotori meja dan lantai dapur, terinjak-injak sehingga membuat seluruh lantai lengket. Ia baru delapan tahun ketika penasaran ingin mencoba membuat donat, setelah sering melihat Emak membuat donat untuk dijual. Tapi Emak tidak pernah mengizinkannya membuat donat. Membantu pun tidak boleh. Ipah hanya diperbolehkan melihat saja. Setelah semua donat matang, Ipah diberi sebuah oleh Emak. Ia juga tidak bilang-bilang Emak ketika hari itu ia mencoba membuat donat sendiri. Saat Emak sedang istirahat di kamar, Ipah diam-diam sibuk di dapur.
Ipah tidak mempedulikan omelan Emak setelahnya. Tidak juga menggubris larangan Emak untuk membuat donat lagi karena begitu banyak bahan yang tumpah dan tercecer, “Ini sama saja buang-buang uang!”
Ipah terus belajar membuat donat sendiri setelah donat pertamanya tak bisa dibentuk tapi dipaksakan digoreng. Sehingga hasilnya adonan yang digoreng tanpa bentuk yang jelas dan rasanya tak karuan. Sampai akhirnya Emak menyerah dan mulai membimbing Ipah saat membuat donat.
Sekarang sudah lima tahun setelah pertama kali ia mencoba membuat donat sendiri. Emak pernah bilang donat buatannya enak. Bahkan Rami sering diam-diam mengambil donat buatannya yang akan dititipkan ke warung. Rami tidak pernah memuji donatnya, atau memuji apa pun. Tapi Ipah yakin Rami menyukai donat yang ia buat.
Sambil menunggu adonan mengembang, Ipah pergi ke belakang rumah. Ada ruang terbuka yang dipakai untuk menjemur pakaian. Tali-tali jemuran terpasang berbaris tak beraturan. Ada yang diikat pada tiang kayu yang memang dipasang untuk jemuran. Ada yang diikat pada paku yang sengaja dipasang untuk menambah tali jemuran. Sebagian tali sudah penuh oleh baju-baju yang bukan milik keluarga mereka.
Lena duduk di depan papan penggilas pakaian. Tak ada lagi yang memanggilnya Lena, semua menyebutnya Emak, atau Emaknya Rami atau Emaknya Ipah. Tak ada yang tahu betapa rindunya ia dipanggil dengan namanya sendiri.
Lena menggeser seember besar penuh dengan pakaian-pakaian yang terendam air ke arah Ipah, lalu kembali menggilas pakaian di papan cuci. Ipah paham maksudnya. Ia segera berjongkok di samping ember itu dan membilas satu per satu cucian yang sudah dikucek Emak itu hingga busanya luruh, sebelum kemudian melipat dan memerasnya dan melemparkannya ke ember kosong di sebelahnya. Ia lanjut melakukan hal yang sama pada pakaian berikutnya.
“Bikin donat hari ini?” tanya Emak pada Ipah.
Ipah mengangguk tanpa menoleh, “He eh.”
“Kasih dua buat di rumah, yah.”
Ipah mengangguk.
“Buat Rami sarapan-”
Ipah langsung menoleh pada Emak, “Nggak! Enak banget dia,” sahutnya sambil memeras pakaian berikutnya, kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
“Kenapa, sih, Paah? Bagi rejeki sama kakak sendiri,” kata Emak.
“Lah, dia nggak pernah bagi rejeki ke Ipah,” balas Ipah.
“Ya kan dia belum dapet kerja lagi, Pah,” suara ibunya melembut. “Hari ini dia mau berangkat naro lamaran tuh, katanya ada lowongan di… di mana tuh ya, katanya…”
“Ya dulu lagi ada kerja juga nggak pernah ikut beli makan buat di rumah!” bantah Ipah. “Ipah aja tiap-tiap ada duit sedikit, ikut beli buat lauk, beli beras, beli telor!”
“Ya dia kan dulu harus nyisihin uang buat ongkos jalan, orang tempat kerjanya jauh, lu kan tinggal jalan aja berangkat kerjanya. Itu juga akhirnya pas aja buat dia makan sama ongkos. Paling lebih-lebih dikit ya biar dia yang nikmatin, orang dia yang kerja. Nggak banyak juga. Karena itu juga dia berhenti kerja dari sana… nggak sepadan.”
“Ah, Emak belain dia mulu!” Ipah membanting baju yang habis diperasnya ke ember, dan beranjak. “Ipah mau ngecek adonan.”
Suasana hatinya berubah sekarang. Emak selalu begitu, umpatnya dalam hati, membela kakaknya mati-matian seolah kakaknya itu manusia suci yang tidak pernah salah dan apa pun yang dilakukannya layak mendapat puja-puji. Ipah mendengus sambil membuka kain lap yang menutup baskom. Dua kali lebih besar dari saat Ipah meninggalkannya. Ipah meninjunya dengan puas. Memukul-mukulnya hingga rata dengan tenaga berlebih. Bagian kesukaannya. Ipah tidak perlu memikirkan langkah-langkah berikutnya lagi setiap kali membuat donat. Tangannya sudah hafal apa saja yang harus dilakukannya. Termasuk menyiapkan wadah untuk donat yang sudah digoreng, kotak untuk mengaduk donat dengan gula halus.
Sementara menunggu adonan berbentuk baso-baso besar itu mengembang, ia bisa mandi cepat. Sebelum ada yang memakai kamar mandi. Apalagi kalau Rami yang mandi, akan lama sekali ia harus menunggu. Rami tidak peduli ada orang lain di rumah ini yang juga ingin memakai kamar mandi. Saat Rami berada di dalam kamar mandi, ia sepertinya mer asa kamar mandi itu miliknya sendiri. Ipah baru akan melangkah ke pintu kamar mandi saat mendengar suara siraman air dari dalamnya. Sial, kalah cepat. Ipah melirik pintu kamar tidur yang terbuka. Ia tidak mendengar Rami keluar kamar. Apakah Rami tadi mendengar percakapannya dengan Emak? Mungkin, ya. Tapi Ipah tidak peduli. Bagus kalau memang kakaknya itu dengar semua ucapannya. Siapa tahu bisa sadar.
Ipah mendengus. Suara dengkur ayahnya mengeras dari ruang depan, sebelum kemudian mereda kembali. Ipah melirik ayahnya dari celah tirai yang menutup ambang pintu dari dapur. Bertelanjang dada, ayahnya lelap di atas karpet tipis usang. Rambutnya yang sedikit beruban berkibar-kibar setiap beberapa detik tertiup kipas angin.
“Bapak nggak berangkat, Mak?” tanya Ipah pada emaknya.
Emak tak langsung menjawab. Disekanya titik keringat yang hampir sampai ke matanya dengan punggung tangannya. Udara di luar rumah pagi itu tak terlalu panas, tapi suhu ruang dapur kecilnya selalu beberapa derajat lebih panas. Menjelang empat puluh, Lena tampak lebih tua dari usianya. Kulit wajahnya tak mengenal krim perawatan apa pun. Kerut-kerut di ujung matanya terlihat jelas dan panjang ketika ia tertawa. Tapi jarang orang bisa melihatnya.
“Belum ada yang manggil kerja lagi,” jawab Emak, sambil meletakkan keranjang yang penuh dengan baju kering, lalu menata meja makan untuk siap jadi meja setrika.
“Kan bisa cari-cari kerjaan apa kek,” cetus Ipah, sehati-hati mungkin tapi tetap saja tidak akan enak didengar, Ipah tahu itu. “Masa nunggu ada yang manggil terus.”
Omongan Ipah tidak digubris oleh emaknya.
Ipah sudah mulai menggoreng donat-donatnya saat Rami keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Ia mengenakan daster yang dipakainya tidur semalam.
“Jadi masukin lamaran, Mi?” tanya Emak pada Rami, sambil mengambil jemuran yang sudah kering dan menaruhnya di ember besar.
Rami sama sekali tidak menoleh. “Jadi.”
“Di mana? Jauh?” ibunya bertanya lagi.
Rami menarik kursi makan, dan menjatuhkan bokongnya di sana. Ipah menaruh curiga pada kakaknya yang tatapannya tak lepas dari donat-donat yang sudah ada di saringan, menunggu garing sebelum nanti dibedaki dengan gula halus. Ipah menghentikan kegiatannya, awas memperhatikan kakaknya.
“Pah, minta donatnya buat sarapan Rami, Pah!” seru Emak.
“Ih, nggak! Orang ini buat dijual!” protes Ipah.
“Pah, Emak nggak ngajarin pelit kaya begitu sama sodara sendiri. Punya rejeki, bagi sama sodara,” Emak mencolokkan kabel setrika ke terminal listrik yang ditarik dari ruang depan tempat bapak tidur. Kipas angin terpaksa harus dimatikan karena kabelnya tidak cukup panjang sampai ke belakang.
“Harusnya Emak bilang gitu ke dia, bukan ke Ipah! Siapa yang kalo terima gaji nggak bagi-bagi rejeki sama keluarga?” tantang Ipah.
Rami seperti tak mendengar omongan adiknya. Dengan tenang, ia beranjak dan masuk ke kamar, “Nggak usah sarapan, Mak. Mau cepet-cepet berangkat,” ujar Rami sambil menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk.
“Pura-pura nggak denger lagi!” Ipah melemparkan pandangan menusuk punggung Rami, membayangkan pandangannya bisa melemparkan panah betulan.
“Berisik!” teriak Rami dari dalam kamar.
Ipah bergegas menuju kamar. Tapi Lena menahan lengannya.
“Udah! Pah, udah!” Lena segera melerai dari tempatnya duduk. Dengan mata melebar dan nada tegas dan tinggi, senjatanya seperti biasa. Tangan kanan emaknya masih memegang gagang setrika. Ipah sedikit ngeri membayangkan kemungkinan seterika panas itu bisa melayang ke kepalanya.
“Emak belain Rami terus. Ipah kerja cari uang ikut beli beras, bantuin Emak, nggak pernah dibelain. Rami kalo punya uang nggak pernah bagi-bagi rejeki sama keluarga, kaya gitu masih dibelain aja,” Ipah lanjut mengomel, suaranya terdengar pilu.
“Emak nggak pernah belain siapa-siapa. Kalau salah ya salah. Emak nggak mau punya anak dua nggak saling akur. Udah. Pagi-pagi nggak usah ribut. Mau ngelamar kerja, tuh, dia. Mending lo doain kakak lo cepet dapet kerja,” tutur Lena.
Ipah lanjut menggoreng donat. Setelah kloter donat terakhir selesai ia campur dengan gula halus, ia memukulkan telapak tangannya ke tutup wadah donat-donat sampai rapat, ia lupa berapa donat yang berhasil dibuatnya, gara-gara tidak bisa konsentrasi saat menghitung tadi. Terlalu terbawa emosi. Ia mengangkat kotak donat dan meninggalkan dapur membawa bekal kekesalan.
“Slamekom!” kata Ipah cepat tanpa menengok ibunya, dan langsung berjalan cepat keluar rumah.
“Pah! Nggak mandi?” seru ibunya dari belakang.
“Ntar siang aja!” jawab Ipah sambil melangkah ke ruang depan.
Di depan pintu, langkah Ipah berhenti.
Bapak bangun dari tidurnya dan duduk sambil mengucek-ucek matanya. Ipah bertanya-tanya apa apakah ayahnya mendengar keributan tadi. Menunggu lelaki paruh baya itu membelanya setelah terbangun karena keributan tadi.
Bapak mendongak ke arah Ipah.
“Kerja, Pah?” tanyanya.