Ipah

Tika Sofyan
Chapter #4

Rustini dan Pelarian

Langit samasekali tak berawan siang itu. Mempersilakan matahari menebar sinar panasnya ke segala arah, termasuk ke ubun-ubun Ipah. Ia mengibas-ngibaskan bagian kaus usangnya di bagian dada. Terasa ada angin menyejukkan ketiaknya, untuk beberapa detik saja. Sekilas bau tubuhnya terbawa ke lubang hidungnya. Ipah mengerutkan hidungnya. Menyesal tidak mandi dulu sebelum pergi tadi pagi.

Rencananya, Ipah langsung pulang setelah selesai kerja di rumah Bu Meri. Jam dinding di rumah Bu Meri menunjukkan setengah satu lebih saat Ipah meliriknya saat mau pamit tadi. Perutnya sudah minta diisi. Ia menebak-nebak apa yang dimasak Emak hari ini. Kemarin Ipah sudah membelikan tempe. Mungkin itu yang Emak masak. Air liurnya berkumpul di mulut membayangkan nasi panas dan tempe goreng. Kadang ia beli lauk di warung nasi. Emak tidak suka kalau ia beli lauk, boros katanya. Tapi kadang Ipah tak bisa melawan diri sendiri ketika melewati warung itu. Dari pintunya yang terbuka dan jendela kacanya, terlihat wadah-wadah lauk dan sayur beraneka macam. Lagi-lagi ia menyesal, karena jalan yang dilewatinya siang itu adalah jalan yang searah dengan warung nasi kesukaannya. Terpaksa ia harus menahan diri untuk tidak membeli apa-apa, mengalihkan pandangan dari warung itu.

Ipah sampai beberapa meter dari warung nasi itu, tiba-tiba kakinya lemas. Bukan karena ngiler membayangkan lauk pauk yang ada di dalamnya, melainkan karena sosok yang baru saja ia lihat memasuki warung itu.

Chandra. Tiba-tiba napasnya tertahan.

Tangan Ipah refleks menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Berharap tadi menyempatkan diri untuk memeriksa penampilannya di cermin ruang tamu Bu Meri. Ia menunduk ke arah ketiak kanan-kirinya, memeriksa baunya. Hasilnya cukup membuatnya gelisah. Pandangannya terlempar kembali ke arah warung itu. Napasnya tak beraturan dan tiba-tiba ia bisa merasakan debar jantungnya. Sudah bebeberapa minggu ia tidak melihat Chandra. Cowok yang sudah hampir setahun ini disukainya, yang rumahnya tak jauh dari rumah Evi, yang tahun ini baru saja lulus SMA, sehingga ia bisa memanjangkan rambutnya hingga sebahu. Menurut Ipah, Chandra semakin ganteng dengan rambut gondrongnya yang saat itu diikat ke belakang, sama seperti rambut Ipah sekarang. Tanpa sadar, Ipah tersipu sendiri karena mereka sama-sama mengucir rambut ke belakang.

Sebisa mungkin Ipah berusaha menenangkan diri, dan berjalan cepat dan berhenti di depan pintu warung.

Cowok manis bertubuh kurus itu berdiri memerhatikan menu yang terhidang dibalik etalase kaca. Samasekali tidak menoleh padanya. Mengenakan jaket jeans dan kaos putih, juga celana hitam. Karena badannya yang tinggi, Chandra kerap berdiri sedikit membungkuk, seperti sekarang saat ia memilih-milih makanan di hadapannya. Ipah ragu, apakah sebaiknya menyapanya, mengajaknya mengobrol, atau langsung pergi saja. Ia ingin sekali mengambil kesempatan yang pasti sudah menjadi takdir Tuhan itu untuk mengobrol lama dengan Chandra. Hanya sekali Ipah pernah mengobrol dengan Chandra. Itupun bukan mengobrol berdua, tepatnya juga tidak saling berbalas ucapan.

Chandra tersenyum pada ibu pemilik warung, membuat Ipah semakin berdebar. Satu… dua… tiga… , Ipah berhitung dalam hati. Melangkah masuk ke warung itu.

“Eh, Chandra,” sapa Ipah. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah suaranya terdengar gemetar.

Chandra menoleh, sesaat tak berekspresi, tapi lalu ia tersenyum. “Eh… Ipah,” kata Chandra sambil mengangkat sebelah tangannya.

“Mau makan siang, ya?” tanya Ipah.

“Yoi,” jawab Chandra, menunjuk orek tempe saat ibu warung mengelap piring untuknya. Chandra tampak melongok keluar warung. “Nggak sama Evi?” tanyanya.

Ipah menggeleng, “Nggak, Ipah abis kerja. Evi paling baru pulang sekolah,” jawab Ipah. Dalam hati mengecek ulang jawabannya. Apakah menyambung dengan pertanyaan Chandra? Apakah jawabannya tepat? Apa terdengar aneh?

“Makan di sini apa bungkus?” tanya Ipah lagi, mencoba memperpanjang percakapan. Sungguh ia berusaha keras untuk tidak gemetar, tapi akibatnya kedua tangannya terlalu banyak gerakan. Sedikit-sedikit merapikan rambutnya, merapikan pakaiannya, bertolak pinggang sesaat lalu lurus kembali di samping tubuhnya, atau mengetuk-ngetuk pahanya.

Chandra menoleh pada Ipah lagi, “Makan sini.”

Ipah tidak tahu lagi mau mengatakan apa ketika Chandra kembali fokus memilih lauknya.

“Oh,” balas Ipah dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Chandra mendengarnya.

Tapi Chandra hanya menoleh sekilas sambil tersenyum. Dalam dada Ipah serasa ada yang jatuh ke bawah.

Sesaat Ipah mempertimbangkan untuk membeli lauk, supaya tidak terlihat aneh datang ke situ tapi tidak membeli apa-apa. Di sisi lain, ia tahu Emak akan marah kalau ia beli-beli lauk.

“Makan di sini?” tanya bu warung pada Ipah.

Chandra sudah duduk dan menyendok nasinya ke mulut, tanpa menengok lagi ke arah Ipah.

“Eh, nggak… Es teh aja dibungkus, Bu.” Ipah senang menemukan jawaban tepat di saat yang tepat. Ibunya tidak akan marah kalau ia sekadar membeli es teh. Tidak akan protes di rumah juga ada, karena di rumah tidak ada es batu, karena mereka tidak punya lemari es.

Lihat selengkapnya