Ipah tidak merasa perlu pengakuan bahwa dirinya pintar. Cukup tahu bahwa dirinya pintar sejak ia berumur lima tahun, belum sekolah malah. Tahu bahwa dirinya pintar saat ia bisa membaca sendiri tulisan di stiker-stiker kaca jendela tetangga depan rumahnya. Namun ternyata jadi orang pintar bukan berarti bebas memilih. Kalau kau pintar, kau harus pilih yang tinggi-tinggi. Sekolah yang tinggi, kerja di gedung-gedung tinggi. Orang-orang di sekitarmu ikut-ikut membuatkan pilihan untukmu. Harus sekolah. Harus sekolah sampai tinggi. Seakan kecerdasan yang kau miliki adalah milik masyarakat. Awas saja kalau sampai tidak kau gunakan untuk sekolah tinggi-tinggi.
Itu sebabnya Ipah memutuskan untuk lari. Lari dari kenyataan itu, dengan kaki-kaki kurusnya. Secepat yang bisa dilakukan seorang anak yang sejak bisa jalan sendiri dibiarkan bermain diluar rumah bertelanjang kaki dan dibawa main jauh ke kampung sebelah hingga kebon dekat kuburan oleh anak-anak tetangga. Ia berlari dan tak peduli kemana. Tak peduli ketika ia menubruk anak kecil yang berdiri di tengah gang dan tiba-tiba berbalik dan berlari, hingga anak itu menggeblak di jalan semen dan jerit tangisnya mengundang ibunya yang tengah memasak di dalam rumah.
“HEH! Lu apain anak gua!” sembur si ibu sambil mengangkat anaknya.
Tapi Ipah terus lari. Kali ini nyaris menubruk tukang gorengan yang memanggul dagangannya. Ipah terus berlari ketika ada yang memanggil-manggil namanya (“Ehh Paaah… kenapa lo? Dikejar setan?”) Semakin kencang ia berlari. Nggak mau… nggak mau… nggak mau…, hanya itu yang ada di kepalanya. Nggak ada cerita gue idup di Jawa… Sekolah lagi… sekolah pake kain kebaya saban hari kayak Ibu Kartini… kagak ada cerita! Meski ingatan tentang Ibu Kartini membuat jantungnya sedikit berdesir. Rasa bersalah, mungkin, pada wanita yang memperjuangkan hak anak-anak perempuan untuk sekolah. Tunggu dulu, bukannya Ibu Kartini anak orang kaya? Nggak harus cari duit dari kecil. Orang tuanya bisa ngasih makan tiap hari. Ipah membela diri sambil terus berlari kencang. Menyelip saat berpapasan dengan orang-orang yang berlawanan arah dengannya, melompati anak-anak kecil yang berjongkok di tengah jalan, tetap berlari ketika disumpahi pengendara motor yang hampir saja menabraknya.
“Pah! Kenapa lo?! Mo kemana?” tanya sebuah suara yang ia kenal betul saat ia lewat di depan pos Karang Taruna kampungnya. Kali ini ia menoleh. Ipin si ketua Karang Taruna, berdiri di depan pintu pos, memegang gitar, bersama anak-anak cowok lainnya memperhatikannya dengan kebingungan. Chandra ada diantara mereka. Ipah terlalu lama menengok, terpesona oleh sosok Chandra. Membuat Ipah sesaat melupakan kalut di hatinya, tapi juga membuatnya terlambat menyadari ada polisi tidur baru yang cukup tinggi tingginya—sengaja dibuat oleh Pak Hasyim pemilik rumah depan pos Karang Taruna yang geram dengan suara motor ngebut yang setiap hari lewat depan rumahnya—dan… BRUK!
Pertama punggung telapak kaki Ipah menyentuh jalan aspal abal-abal, lalu tahu-tahu lututnya sudah membentur lantai jalan, lalu yang ia ingat pipinya menyerempet permukaan kasar aspal. Semua terasa perih.
Tapi rasa malunya lebih menyakitkan.
*
Ipah sengaja mengambil jalur memutar, takut dikejar, takut ditemukan. Bapak sekarang pasti sedang mencarinya. Emak juga. Mereka pasti khawatir karena dirinya pergi dari rumah. Ipah tidak peduli.
Ipah meringis menahan sakit sampai di depan rumah Evi. Setelah memencet bel di pagar, ia memeriksa luka-lukanya. Pergelangan kaki kanan nya terasa sakit sekali. Tampak lebih besar dibandingkan pergelangan kaki satu lagi. Nyut nyut nyut… hampir seirama dengan yang terasa di pipinya. Benar memang, rasa malu bisa sekuat itu menutupi rasa sakit. Lecet di lututnya lumayan besar, darah berkumpul di permukaan kulitnya yang terkelupas, mulai meluncur ke betisnya.
Ia memencet bel lagi, berulang-ulang sekaligus.
Terdengar bunyi pintu dibuka di dalam. Lembar fiber yang menutup besi-besi pagar rumah Evi membuatnya tidak bisa melihat siapa yang datang.
Wajah Evi menyembul diantara celah pintu pagar setelah ia membukanya. Evi terlihat rapi seperti mau pergi. Rambutnya tertata, lurus jatuh di bahu kanan kirinya, dengan bandana kotak-kotak menghias kepala. Baju atasannya, kaus longgar dimasukkan ke celana jeans biru pudar. Sekilas, bahkan sepertinya Ipah melihat bibirnya dipoles lipstik tipis-tipis.
“Pah?” serunya. Matanya segera beralih ke kakinya yang tidak menapak ke jalan. Ipah memegangi sebelah pahanya, dan satu tangannya berpegangan ke pagar.
“Kenapa lo?” tanya Evi.
Ipah memandangi Evi dari atas ke bawah, “Lo mau pergi?” ujarnya balas bertanya.
Evi menggeleng cepat.
“Kok rapi bener?” tanya Ipah.
“Ya… lagi pengan aja. Lo dari mana?”
Evi membuka pintu pagar lebih lebar. Ipah melangkah pincang, spontan Evi memegangi lengan sahabatnya untuk membantunya melangkah.
“Kenapa ini? Jatoh? Jatoh di mana?” tanya Evi lagi, mulai kesal karena rasa penasarannya masih belum terjawab.
“Iya, jatoh. Depan sekre,” Ipah menyengir, menahan sakit.
Tiba-tiba ia berhenti. Evi mengira ia tidak sanggup jalan lagi saking sakitnya. Tapi Ipah menepuk lengan Evi dengan keras.
“Gua jatoh depan Chandra, tau nggak! Maluuu!” Ipah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Meringis-ringis, antara kesakitan dan membayangkan Chandra.
“Hah?” Evi masih bingung. “Lo gimana ceritanya bisa jatoh? Ngapain?”
“Gua lari. Kabur.” Jawab Ipah.
“Kabur? Kenapa?”
Ipah meringis lagi ketika berusaha melanjutkan langkahnya ke kursi teras. Evi cepat-cepat memeganginya lebih kuat. Ia mengkhawatirkan sahabatnya, tentu. Tapi ada yang lebih dikhawatirkannya lagi.
Ipah duduk perlahan di kursi teras rumah Evi.
“Boleh minta minum, nggak?” tanya Ipah.
Evi cepat-cepat masuk ke rumah, dan kembali lagi beberapa menit kemudian membawa segelas air.
Ipah meneguk habis air yang dibawakan Evi. Lalu ia ceritakan semuanya pada sahabatnya itu.
*
“Ke Jawa?” tanya Evi, sambil memegang gagang sapu dan berdiri di teras. Sesekali ia melongok keluar pagar. Sapu di tangannya berayun-ayun di tangannya.
Ipah menceritakan semuanya setelah mereka duduk di kursi teras, setelah Evi mengambilkan seplastik es untuk mengompres pergelangan kakinya, juga kapas, obat merah, dan plester. Sebelah pipi Ipah sekarang seperti diberi pemerah pipi.
Rumah Evi sepi. Tak ada suara siapa pun. Evi adalah anak tunggal. Papanya tengah bekerja di kantor seperti biasa, dan mamanya sedang pergi entah kemana, Evi sendiri tidak tahu. Evi sudah biasa di rumah sendirian. Lingkungan tetangga yang akrab seperti saudara sendiri membuat kedua orangtua Evi enteng meninggalkan Evi di rumah sendirian.
“Bukannya bagus ya kalo Budeh bisa sekolahin lo?” Evi tidak bisa melafalkan budhe.
“Sekolah lagi? Di Jawa? Ogah ah!”
“Emang kenapa? Lo nggak kuat jauh-jauh dari Emak, ya? Bakal kangen disuruh cuci setrika?” Evi meledek.
“Apaan sih lo?” Ipah tak suka mendengarnya. Kakinya terasa tambah sakit, ia semakin mudah terpancing emosinya.
“Elo tuh yang apaan! Mau disekolahin bukannya terima kasih, malah kabur!”
Ipah ternganga, tak mengira samasekali sahabatnya mengomentarinya seperti itu. Sungguh, ia mengira Evi akan membelanya.
“Lo nggak ngerti aja.” Nada bicara Ipah meninggi.
“Nggak ngerti apa? Emang lo males sekolah aja kan?”
Ipah diam. Mengingatkan dirinya bahwa ia butuh tempat persembunyian, jadi ia tidak boleh bertengkar dengan Evi.
“Lo mau sampe kapan ngumpet di sini?” tanya Evi, nadanya kesal sekali.
“Tau, ah. Brisik!” Ipah gagal mengendalikan emosinya.
“Takut banget sih ketemu Budeh? Dia kan baek banget sama lo! Suka ngirim baju, ngirim makanan. Malah gua juga suka kebagian rejeki. Pulang sono, siapa tau Budeh bawa oleh-oleh banyak.”
“Lo ngusir?” Ipah melotot. Kesal juga lama-lama sahabatnya ini tak bisa jadi tempat berlindung.
“Iya! Gua banyak kerjaan.” Evi benar-benar marah rupanya. Ini lebih mengagetkan. Bukannya Ipah tak pernah melihat Evi marah, apalagi marah dan tak mau bicara padanya sekian hari. Itu pernah terjadi beberapa kali. Mereka teman sejak bayi. Begitulah layaknya pertemanan kanak-kanak. Sebentar bermain, sebentar bertengkar. Menciptakan kelekatan emosi di antara mereka. Namun yang membingungkan bagi Ipah, biasanya Ia tahu persis kenapa Evi marah. Kali ini tidak.
“Kenapa sih lo? Lagi berantem sama Mamah?”
“Nggak.” Evi tak memandang Ipah barang sedikit pun, mengayunkan sapu di tangannya dengan lebih kencang dari seharusnya. Ipah memandangi lantai teras rumah Evi yang lebih luas dari ruang depan rumahnya sendiri. Keramik kremnya masih baru, Ipah baru menyadari. Terakhir Ipah ke rumah ini, keramik terasnya belum diganti. Lantai terasnya sudah bersih, menurut Ipah, tidak perlu disapu lagi.
“Kok sewot gitu? Gua kan nggak ganggu lo, cuma numpang diem di sini. Lo sambil kerja juga nggak apa-apa. Sini deh gua bantu,” Ipah bermaksud mengambil sapu dari tangan Evi, tapi Evi mempertahankan sapi di tangannya.
“Nggak usah!”
“Siniiii gua bantuu...” Ipah memaksa.
Sepasang sahabat itu berebut sapu. Makin lama tenaga mereka semakin kuat. Keduanya makin kesal. Selebihya Ipah kesal karena makin tak mengerti kenapa Evi bertingkah aneh, tidak merasa tindakannya untuk kabur ke rumah Evi bukannya aneh. Tubuh Ipah memang lebih kecil dari Evi, tapi tenaga Ipah lebih besar. Tangan Ipah lebih kuat menarik sapu hingga ujung sapu menyodok keras ke hidungnya sendiri.
Ipah refleks menjatuhkan sapu dan menutup hidungnya. “Aaaah!” Ipah menjerit. Yang pertama dirasakan Ipah adalah rasa perih bercampur mati rasa secara bersamaan. Kemudian rasa panas menjalar ke hidungnya, tahu-tahu darah mengalir melalui sela-sela jemarinya. Evi hampir spontan mengambilkan handuk dari jemuran di teras rumah sebelum lantas teringat kalau dia sedang marah pada Ipah. Ia hanya ternganga dan kebingungan di hadapan sahabatnya yang sekarang menengadahkan kepalanya ke atas sambil menutupi hidungnya. Terbatuk-batuk karena udara berebut mengalir dengan darah. Air mata kesakitan tumpah dari kedua mata Ipah. Sudah pergelangan kakinya keseleo, lutut dan pipinya terluka, sekarang hidung berdarah pula.
Melihat darah mulai menetes ke pakaian Ipah, Evi akhirnya menyambar handuk dari jemuran dan memberikannya pada Ipah, yang cepat-cepat memakainya untuk menyumbat lubang hidungnya. Hampir seluruh wajahnya tertutup oleh handuk itu. Sekarang keadaannya terlalu canggung. Tak mungkin ia pulang dalam keadaan begini. Tapi tetap berada di sini juga sangat tidak nyaman. Di hari kemudian, peristiwa ini pasti akan dikenang dengan tawa mengingat kedua anak tanggung ini sama-sama salah tingkah. Seorang menutupi hidungnya yang berdarah dan seorang lagi bengong antara iba dan marah. Mendadak kaki-kaki Ipah memutuskan untuk melangkah ke pintu pagar, sambil tetap memegang handuk ke wajahnya.
Sambil menahan sakit pergelangan kakinya, ia melangkah pincang dan luar biasa lambat. Setengah berharap Evi menghalanginya pergi. Tapi Evi diam. Membiarkannya pergi sambil kesakitan.
Ipah menoleh ke belakang, pada Evi. Memastikan, meyakinkan dirinya kalau sahabat kecilnya benar-benar tega membiarkan dirinya pergi dalam keadaan kesakitan, tanpa sandal pula. Tapi Evi tidak membalas pandangan Ipah. Matanya sibuk memperhatikan bayangan yang bergerak dibalik fiber pagar rumahnya. Suara motor berhenti, dan seseorang memarkir motornya di depan. Ipah ikut mengawasi bayangan itu. Dari celah bawah pagar, terlihat kaki-kaki melangkah dari roda motor ke pintu pagar yang masih terbuka setengah.
Ipah berhenti di depan pintu pagar. Bukan karena jalannya terhalang sosok itu. Karena ia tak percaya siapa yang datang.
“Eh Pah. Lari ke sini, ternyata. Tadi mau ditolongin anak-anak malah kabur,” Chandra tertawa kecil, “Nggak apa-apa?”
Ipah terlalu beku untuk menjawab pertanyaan Chandra. Kali ini bukan karena gugup, atau menyusun kalimat yang tepat. Dirinya diliputi terlalu banyak emosi sehinga ia tak sanggup mengucapkan apa-apa.