Ipah

Tika Sofyan
Chapter #6

Bus Malam dan Perasaan Tak Enak

Budhe sudah menggosok perut, leher dan punggung Ipah dengan minyak kayu putih sebelum berangkat tadi.

Ipah menurut saja. Ia tidak mau muntah di perjalanan. Ingin menikmati pemandangan di jalan. Sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini. Terakhir ia pergi jauh naik bis seperti ini adalah waktu piknik bersama satu sekolahnya ke Ancol. Acara jalan-jalan paling berkesan bagi Ipah, pertama dan terakhir sebelum ini. Itu pun Ipah hampir tidak ikut, karena ibunya tidak ada uang untuk membayar biaya pikniknya. Waktu itu Ipah masih kelas tiga, ia belum punya pekerjaan tetap. Sehari sebelum hari keberangkatan, barulah ibunya ada uang untuk membayar piknik. Mereka harus ke rumah guru Ipah untuk menyerahkan uang pikniknya. Sepulang dari piknik, hingga seminggu berikutnya, Ipah tidak bisa berhenti membicarakan pengalaman pikniknya bersama teman-temannya.

Terminal tidak terlalu ramai ketika Ipah dan budhenya tiba di sana. Bukan musim liburan sekolah atau Lebaran. Ia sempat protes pada budhenya, kenapa tidak naik bus saja ke terminal, meski dalam hati ia senang juga bisa naik taksi. Sambil canggung, ia senyam-senyum mengawasi pemandangan kota tempat tinggalnya yang tak pernah dilihatnya. Ini juga pengalaman pertamanya naik taksi. Hari itu Ipah merasa berkelimpahan. Begitu banyak pengalaman pertama dalam sehari: naik taksi, naik bus malam ke luar kota, pergi ke luar kota, melihat terminal bus yang sebenarnya tak terlalu jauh dari rumahnya.

“Kita harus tepat waktu, kalau naik bus tidak bisa diprediksi sampai di terminal jam berapa,” jawab Budhe saat di dalam taksi. 

Langkah Ipah tidak secepat budhenya, karena ia sibuk memperhatikan segala sesuatu yang ada di terminal. Para pedagang makanan yang menjual keripik, nasi bungkus, gorengan, manisan, minuman-minuman kotak… Ipah menelan ludah. Orang-orang yang duduk di bangku dengan tas-tas besar, ada pula yang tidur di lantai dekat tembok. Orang-orang yang baru turun dari sebuah bus mengular lalu berpencar ke berbagai arah.

“Pah!”

Budhe sudah berada sekitar lima meter dari tempatnya berdiri dan terbengong-bengong mengawasi suasana terminal. Ipah baru sadar ia sudah berhenti melangkah selama beberapa menit. Ia berlari menyusul tempat Budhe berdiri, tas merahnya yang menggembung berayun-ayun di tangannya, sebelum akhirnya ia angkat dan dekapkan ke dadanya.

“Jangan meleng begitu! Bahaya. Nanti kamu bisa hilang!” Kata budhenya sambil mengulurkan tangan ke arahnya.

Ipah balas mengulurkan tangannya dan segera menggenggam tangan budhenya begitu sampai di dekatnya. Rus tidak menyesuaikan langkahnya dengan langkah Ipah, sehingga terpaksa Ipah setengah berlari demi bisa menyamakan iramanya. Budhe berjalan cepat dan panjang ke arah deretan bus yang parkir di sisi seberang halaman terminal. Ada beberapa bus yang mulai berangkat.

“Busnya udah mau berangkat, Budhe?” Ipah terengah.

Rus mengangkat tangan kirinya ke depan wajahnya. Arloji kecil dengan tali kulit di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 3 lebih 50 menit. Tiba-tiba ia berhenti. Ipah nyaris menubruknya. Rus mengarahkan pandangannya ke seberang ruang duduk terbuka, di area parkir puluhan bus besar dan kecil. Lalu matanya mencari-cari sesuatu. Atau seseorang. Seolah sudah menemukannya, Rus mengganti arah berjalannya ke arah seorang laki-laki berseragam yang berdiri di dekat loket. Rus menarik tangan Ipah tanpa menoleh ke arah keponakannya. Ipah tergopoh.

“Cendrawasih tepat waktu, Pak?” tanya Rus ketika sudah di dekat laki-laki berseragam itu.

Laki-laki itu menoleh.

“Ke Jogja?” tanya laki-laki itu.

Rus menggeleng, “Solo.”

Laki-laki itu menunjuk ke sebuah bus di halaman parkir terminal yang luas, “Sudah datang busnya. Tapi silakan menunggu dulu, Bu. Masih sekitar satu jam lagi.”

“Langsung masuk ke bus saja bisa, ya?” tanya Rus.

Laki-laki itu mengerutkan keningnya, lalu tertawa, “Mesinnya belum dinyalakan, Bu. Meleleh kepanasan nanti di dalam. Silakan menunggu di sini saja,” kata laki-laki itu sambil mengarahkan tangannya ke deretan bangku.

Rus mengangguk cepat dan tersenyum kecil pada laki-laki itu. Keringat mengucur di leher dan keningnya.

“Di situ saja, Pah.” Kata Budhe, menunjuk ke bangku panjang yang kosong.

Segera setelah duduk dan mengatur barang bawaannya, Rus membuka resleting tas tangannya, mengaduk-aduk isinya sampai ia menemukan kipas kecil. Dengan cepat ia mengipas-ngipaskannya ke arah leher sambil memejamkan mata.

“Panasnya Jakarta ini luar biasa. Seperti neraka,” kata Rus.

“Kalo di Solo nggak panas, Budhe?” tanya Ipah.

“Ya panas juga! Tapi beda. Di Jakarta itu apa ya… panasnya ngelekep, gitu. Ehm—” Rus tersadar Ipah pasti tidak tahu apa artinya. “Panasnya seperti dikurung di dalam ruangan hampa udara!”

Ipah memerhatikan budhenya yang terus mengibaskan kipas kecilnya ke leher dan wajahnya. Rambut ikal tipisnya yang tergerai sebahu seakan berpegangan erat pada kulit kepalanya supaya tidak terlepas. Bagian punggung baju Ipah sudah dibasahi keringat sedari tadi, tapi Ipah sudah biasa begitu. Ia hanya peduli untuk mengecek aroma ketiaknya kalau kebetulan berpapasan dengan Chandra.

Chandra lagi. Ipah mengutuk dirinya dalam hati.

Apaan sih, pikirnya. Seketika rasa panas yang familiar merambati dadanya hingga terasa ke punggungnya. Kekesalannya pada Evi cukup sekali untuk bisa memutuskan persahabatan mereka. Kesal. Kesal. Kenapa dia kesal pada Evi?  Pikirnya lagi. Seperti ada bagian dirinya yang memisahkan diri dan sekarang berdiri di hadapannya sebagai lawannya. Lo sama Chandra kan nggak ada apa-apa, selain lo punya perasaan ke dia? Jadi kenapa kesal pada Evi? Apa salah Evi?

Salah.

Lihat selengkapnya