Ipah merasa ada yang menggoyang-goyangkan lengannya. Menariknya kembali ke kesadaran. Ipah tidak ingat bagaimana akhirnya ia tertidur. Ia merasa membuang waktu untuk menikmati perjalanan ke luar kota seperti ini. Tidak ada rencana untuk melewatkan sedikit pun pemandangan di luar jendela bus. Tapi kantuk dan lelah yang menang.
Dari atas—begitu perasaan Ipah, karena bus besar yang dinaikinya lebih tinggi dari kendaraan-kendaraan lain di jalan—Ipah bisa melihat bus yang dinaikinya sedang melambat dan sopir tengah memarkirnya di tempat yang luas.
Ipah menurunkan kedua kakinya yang menekuk di atas kursi. Dingin membuatnya meringkuk dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut yang tadi dibagikan kondektur. Baju hangat yang dipinjami Budhe tidak cukup untuk menahan dinginnya AC, meski AC di atas tempat duduknya sudah dimatikan oleh Budhe.
Bus berhenti.
Ipah mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sudah sampai, Pah,” kata budhenya, yang mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan berkaca sambil merapikan rambutnya.
Ipah menempelkan dahi dan hidungnya ke kaca jendela. Bus mereka merapat ke deretan bus yang sudah lebih dulu terparkir di terminal. Langit terang-benderang. Rupanya ia tertidur semalaman.
“Semalam Budhe bangunkan kamu untuk makan malam, tapi kamu nggak bangun. Ya sudah, Budhe juga nggak makan,” ujar Rustini sambil tertawa kecil.
Budhe sudah berpesan, biasanya malam sekitar jam sembilan atau sepuluh, bus akan berhenti di tempat makan. Berarti lama sekali ia tertidur. Lagi-lagi merasa menyesal karena melewatkan pengalaman makan malam saat naik bus.
Seperti membaca pikirannya, Rustini berkata, “Nggak apa-apa, nanti sampai rumah, kita langsung makan.”
Budhenya beranjak, merapikan pakaiannya dan mengangkat tas besar dari bawah kursi. Ipah ikut berdiri. Menjaga diri untuk terus berada di belakang Rustini saat mengantri keluar bus.
*
Setelah hampir lima belas jam berada di dalam bus, Ipah ingin sekali bisa berjalan kaki saja dari terminal ke rumah Budhe. Ia tidak pernah menyangka dirinya akan bisa lebih memilih berjalan kaki ketimbang naik mobil. Badannya terasa kaku dan pegal. Belasan jam duduk dan digoyang-goyangkan ke kanan dan kiri di ruangan dingin itu membuatnya eneg. Meskipun ia tidak sampai muntah di bus, pagi itu, sesampainya di Solo, angin di dalam perutnya seakan menaklukan kekuatan tubuhnya. Ipah ingin segera bergerak. Melakukan apa saja yang bisa dikerjakannya, alih-alih hanya duduk-duduk lagi. Badannya jadi pegal tak karuan. Tentu saja Ipah menyimpan segala keluhan itu dalam hati. Apalagi saat ada suami Budhe Rus yang baru pagi itu dikenalnya. Meski menurut Pakdhe, ia sudah pernah bertemu dengannya. Dulu sekali, sewaktu Ipah baru lahir.
Sosok pakdhenya samasekali diluar bayangan Ipah. Entah kenapa, selama ini ia membayangkan pakdhenya sudah tua sekali, hampir botak, bertubuh gemuk besar, berwajah garang. Ternyata laki-laki yang berdiri menunggu di terminal sambil tersenyum dan segera mengulurkan tangan saat melihat Ipah, adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi dan ramping, memakai kaos tak berkerah warna coklat dan celana jeans biru muda. Sementara dalam bayangan Ipah, suami budhenya itu jenis bapak-bapak yang selalu memasukkan baju atasannya ke dalam celana kainnya, lengkap dengan ikat pinggang kulit bergesper emas. Gaya berpakaian pakdhenya yang di luar imajinasinya ternyata mirip-mirip para pemuda Karang Taruna di tempat tinggalnya di Jakarta. Ipah membayangkan mereka menggemari jenis musik yang sama. Yang lebih mengejutkan adalah rambut gondrongnya, lurus dan diikat ke belakang. Kalau diurai mungkin panjangnya melebihi bahu. Dari wajah dan gaya penampilan, pakdhenya terlihat lebih muda dari budhenya. Rautnya jauh lebih ramah dari yang ia bayangkan, yang sebelumnya ia sangka serius atau bahkan tidak ramah. Ia sudah bersiap tinggal serumah bersama bapak-bapak galak, dan itu tidak mengurungkan semangatnya untuk bekerja keras. Kontras sekali dengan budhenya yang cara berpakaiannya apik dan rapi, dan gayanya sesuai perempuan seusianya.
Tarmin, namanya. Ia menyebutkan namanya saat menjabat tangan Ipah, sebelum Ipah mencium tangannya. Caranya mengucapkannya seperti perkenalan resmi antara dua orang dewasa. Seolah Tarmin tidak menganggap Ipah sebagai anak-anak, dan Ipah menyukai perlakuan itu. Tarmin segera mengambil tas besar dari tangan Rustini dan mengajak mereka ke tempat mobilnya diparkir.
“Maaf, berhubung mobilnya mobil tua, nggak ada AC. Kita pakai AC alami, ya Pah!” ujar Tarmin sambil tertawa, memutar tuas kaca jendela pintu belakang, sebelum kemudian menutup pintu dan berjalan ke pintu pengemudi.
“Kalau mau punya mobil yang lebih baru ada AC-nya sebenarnya bisa saja, Pah. Tapi pakdhemu ini,” Budhe Rus menunjuk suaminya dengan dagunya, “Ngotot sekali pingin punya mobil tua ini.” Rus menepuk-nepuk langit-langit mobil di atas kepalanya.
“Biar mobil tua, ini mobil idaman saya dari kecil,” sahut Tarmin, mulai menyalakan mesin mobil. “Holden FC! Oh, sudah jarang yang punya ini. Kalau ada kenalan lihat mobil ini di jalan, mereka tahu ini pasti saya!” Tawa Tarmin pecah.
“Gayamu!” ledek Budhe Rus sambil tersenyum-senyum.
“Lho, memang iya,” Tarmin memandang Ipah dari kaca spion. Ipah tidak bisa melihat keseluruhan wajah pakdhenya dari tempatnya duduk, tapi ia tahu laki-laki itu tengah berbicara padanya. “Di Solo ini sekarang hanya ada tiga mobil yang modelnya persis ini. Yang dua warnanya sama, krem. Yang dua warna seperti ini, krem dan ada merahnya begini, ya cuma punya saya!” ia menutup kalimatnya dengan tawa lagi.
Ipah memperhatikan interior mobil yang ditumpanginya. Kursinya dibalut sarung jok kulit warna krem terang, dinding-dinding pintu dan langit-langitnya juga. Ipah tidak akan menebak ini mobil lama kalau bukan pakdhe dan budhenya yang bilang sendiri. Tahu apa ia mana mobil lama dan mobil model baru. Dan mobil ini bagus juga mulus sekali. Buat Ipah, mobil itu kelihatan baru. Luar dalam bersih mengkilap. Dan baunya, Ipah mencoba menyimpulkan bau apa yang masuk bersama udara yang dihirupnya. Bau khas dari jok kulit dan besi-besi pada interior mobil mendominasi, tanpa Ipah tahu bahwa asalnya. Sejuknya angin yang meniup leher dan wajahnya terasa lebih akrab dibandingkan dingin AC di bus tadi. Pandangan dan pikirannya terlempar ke luar mobil. Pohon-pohon tinggi mengapit di kanan kiri jalan. Sisi-sisi jalan tampak Ia tak begitu menyimak cerita Pakdhenya tentang bagaimana beliau mendapatkan mobil tua itu.
“…dia satu-satunya orang di kampung saya yang punya mobil. Mobilnya persis ini! Saya mau pegang aja nggak boleh! Mobilnya itu kan mengkilap, gitu! Waktu itu saya masih SD kelas satu. Namanya juga anak kecil, saya itu kepingin pegang mobilnya,” pakdhenya terkekeh, “Eh, belum sampe tangan saya nyentuh mobilnya, tangan saya ditampik, gitu. Wih, sakit hati rasanya. Sejak itu dalam hati saya bertekad suatu saat saya akan punya mobil seperti ini.” Lagi-lagi tawa menyelangi kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya.
Ipah tersenyum, supaya terlihat sopan menanggapi cerita pakdhenya, tapi juga—sebenarnya—sebentuk ungkapan jujur perasaannya karena bisa tiba di kota tempat tinggalnya yang baru, kehidupannya yang baru. Jalan-jalan raya di kota ini beraspal dan lebar-lebar. Tidak seperti yang dibayangkannya. Ia pikir jalan-jalannya sempit, masih jalan tanah bebatuan, sawah di kanan-kiri.
Sementara Pakdhe Tarmin masih bercerita panjang tentang pengalamannya membeli mobil itu. Ipah tidak menyimak.
Di kedua sisi jalan, pohon-pohon tinggi berdiri setiap beberapa meter saja. Kadang pohon-pohon yang sama, kadang pohon-pohon yang beda jenisnya. Ipah membayangkan memanjat pohon-pohon itu. Membayangkan asyiknya duduk di salah satu dahannya yang kokoh sambil memandangi kendaraan-kendaraan lalu-lalang dibawahnya. Ingin ia menanyakan pohon-pohon apa saja itu, tapi pakdhenya belum berhenti bercerita, Ipah segan memotongnya.
“…akhirnya kesampaian juga cita-cita punya mobil impian sejak kecil!”
Di depan, suasana tidak setenang jalan-jalan sebelumnya. Mobil, motor, becak dan sepeda lebih banyak terlihat. Mobil Pakdhe melambat ketika melewati keramaian. Toko-toko berjajar di kanan kiri jalan. Di trotoar yang lebar, para pedagang dengan gerobak dan tenda tak kalah ramai menawarkan dagangannya. Pasar.
“Ini pasar tempat tokonya Budhe, ya? Tokonya Budhe sebelah mana? Kita mau langsung ke toko, ya Budhe? Ipah langsung kerja sekarang nggak apa-apa kok.” Tanya Ipah, punggungnya menegak, lehernya memanjang, mencari-cari toko yang ada tumpukan kain-kain batik di dalamnya. Seolah ia tahu seperti apa.
Ipah tidak melihat pakdhenya menoleh pada istrinya, bertukar pandangan sesaat sebelum budhenya menjawab, “Bukan, Pah. Kiosnya budhe bukan di pasar yang ini. Kios Budhe di Pasar Klewer, kalau ini Pasar Gede.”
“Besok kita jalan-jalan kesini, ya. Disini ada bakso enak langganan Pakdhe. Sama es. Kamu suka es to pasti? Sukanya es apa?” timpal Pakdhe.
“Es? Es apa, pakdhe?”
“Es, es… ada es dawet, es campur, es teler…”
“Oh… es itu. Apa aja suka.”
“Besok ya, kita makan bakso, terus jajan es!” tawa renyahnya lagi.
“Abis itu ke tokonya Budhe?”
Kali ini Ipah menangkap keduanya bertatapan.
“Iya, boleh. Biar Ipah tahu tokonya dimana ya,” jawab Pakdhe.
“Langsung kerja aja, Pakdhe.”
Tarmin terkekeh.
“Ada apa to, Pah, kok mau cepat-cepat kerja? Baru juga sampai kamu ini. Istirahat, penyesuaian dulu dengan tempat baru. Nanti kita pergi keliling-keliling. Biar kamu kenal sama tempat tinggalmu yang baru.”
“Ipah harus cepet-cepet kirim uang untuk Emak soalnya.” Sahut Ipah.
Kali ini pakdhenya meliriknya melalui kaca spion. Dari sudut pandangnya, Ipah bisa melihat kening pakdhenya berkerut.
“Ooo…”
Budhe Rus menimpali, “Nanti aja ke tokonya. Budhe juga masih mau libur. Sekarang di toko masih ada pegawai yang jaga sampai dia cuti melahirkan pertengahan bulan depan.”
“Bulan depan, Budhe? Jadi Ipah baru kerja bulan depan?” suara Ipah mulai gusar.
“Sudah, sudah. Nanti kita atur. Jangan ngomongin kerja dulu, ah. Pokoknya kita liburan dulu,” Rustini segera menyudahi.
Sebelum Ipah sempat melanjutkan topik kerja di toko, Tarmin menimpali, “Iya, Pah… Kita jalan-jalan dulu, ya? Kamu terakhir liburan kapan, hayo?”