Ipah duduk di depan meja telepon.
Ia sudah berdandan rapi sejak sore tadi, hanya untuk menelepon Emak.
Setiap hari Ipah memacak dirinya sehabis mandi. Bagaimana tidak? Ia sekarang punya meja rias sendiri. Meja kayu yang tersambung cermin yang juga dibingkai kayu itu kelihatannya tidak baru. Warna kayunya gelap, tidak pink dan putih seperti yang di kamar Mici. Meskipun begitu Ipah suka sekali. Meja rias itu jadi sudut favoritnya di kamar ini. Berdiri di samping tempat tidur, berseberangan dengan meja yang agak besar. Meja itu juga ada kursinya. Seperti meja belajar atau meja untuk kerja. Ipah merasa tidak perlu ada meja itu di kamarnya, karena hanya dipakai untuk menaruh minum di malam hari, juga jam weker yang disediakan Budhe. Kamarnya pasti lebih lega kalau meja itu dikeluarkan. Tapi Ipah tidak berani menyampaikan itu pada budhenya.
Ipah duduk cukup lama di depan cermin. Memandangi dirinya sendiri. Belum pernah rasanya ia punya kesempatan untuk duduk diam tanpa harus cepat-cepat mengerjakan sesuatu. Apalagi berkaca seperti itu.
Sambil menyisir rambutnya, Ipah memikirkan apa yang akan diceritakannya pada Emak kalau ia menelepon ke rumah Bu Mer nanti. Budhe sudah berulang kali mengingatkannya untuk interlokal dan mengabari Emak. Ipah sudah tahu cara memakai telepon rumah Budhe. Ia juga sudah tahu caranya melakukan panggilan interlokal. Ia banyak belajar hal baru dalam seminggu sejak ia naik bus luar kota untuk pertama kalinya.
Ipah berencana menceritakan seperti apa rumah Budhe. Betapa ia terkesan dengan keadaan rumahnya yang jauh berbeda dengan rumahnya sendiri. Meski tak terlalu besar, rumah itu punya halaman yang lumayan besar, ada garasi, ada teras yang enak buat duduk-duduk santai, banyak hiasan-hiasan menarik ditaruh di sana sini. Ipah juga diberi kamar tidur sendiri, yang meskipun berisi barang-barang yang disimpan budhenya, kamar itu khusus untuknya dan luasnya lebih luas dari kamar tidurnya di rumah yang ia bagi bersama ibunya dan Rami.
Tapi jangan-jangan Emak jadi sedih kalau ia membanding-bandingkan rumah mereka seperti itu. Dalam benaknya, Ipah mencoret cerita tentang rumah.
Ipah kembali menyisir rambut keriting tipisnya ke belakang. Mungkin ia bisa cerita bahwa di rumah ini ada meja rias, seperti yang sudah lama ia inginkan. Ia jadi bisa memacak diri lebih rapi setelah mandi. Menyisir dan mengucir rambutnya lebih rapi, seperti yang selalu diingatkan Emak.
Bercerita bahwa di rumah Budhe, ia memakai shampo yang iklannya ada tertempel di tembok warung dekat rumahnya. Di setiap tarikan, ia berharap rambutnya bisa berubah lurus, tebal dan hitam, seperti rambut mbak-mbak di botol shamponya. “Yang iklannya sering ada di majalah, Mak!” Begitu Ipah membayangkan akan bercerita pada Emak. Tetangga sebelah rumahnya memang sering menumpuk majalah-majalah bekas di teras rumahnya, untuk dibaca siapa saja yang mau. Sudah lama Ipah penasaran dengan shampo merek itu, bisa membuat rambut berkilau seperti mbak yang di iklan. Tapi ternyata tidak langsung berpengaruh pada rambut Ipah. Tentu saja Ipah kesal, tapi baunya wangi sekali, dan bertahan meskipun ia sudah berkeringat. Ia suka sekali sisir sikat yang dibelikan Budhe, membuatnya ingin sering-sering menyisir meskipun Budhe bilang rambutnya akan bagus kalau tidak disisir. “Jangan disisir habis keramas, kasih minyak rambut yang Budhe belikan itu, terus keringkan pelan-pelan pakai handuk… jangan digosok.”
Ipah tidak pernah dapat tips merawat rambut dari Emak. Tentu Emak mengajarinya untuk keramas, menyisir dan mengikat rambut. Tapi Emak tidak pernah menghiraukan keluhan-keluhan Ipah akan rambut tipisnya-ataupun keluhan Ipah lainnya.
Bukan hanya sisir, minyak rambut, atau tips merawat rambut yang diberikan Budhe untuknya, yang tidak pernah ia dapatkan di rumah.
Tidak mungkin ia mengatakan itu semua pada Emak.
Ipah menimbang-nimbang apakah ia akan bercerita tentang Mbok Sum pada Emak nanti malam di telepon. Apakah Emak jadi kepikiran kalau ia menceritakannya? Selain soal Mbok Sum, semua baik-baik saja. Sangat baik, malah. Dan ia betah sekali di rumah Budhe. Itu dia masalahnya. Ipah tidak ingin Emak tahu bahwa dirinya betah di rumah Budhe. Setiap habis mandi, sambil duduk di depan cermin, perhatian Ipah tertuju pada kedua pipinya yang sekarang berisi akibat setiap hari makanan selalu sudah siap di meja. Pagi, siang, malam di meja makan. Sore, ada makanan kecil dan teh manis di meja teras. Masih asing rasanya bagi Ipah bisa makan setiap hari tanpa harus memikirkan uangnya dari mana. Ia bahkan tidak perlu ikut menyiapkan makanan-makanan itu.
Kalau ia ceritakan semuanya, ia khawatir Emak sedih karena ia betah dan senang di rumah Budhe, sementara Emak susah setelah ia tinggalkan. Kalau ia cerita soal Mbok Sum, ia khawatir Emak akan mengkhawatirkannya.
Ipah sebenarnya ingin bercerita tentang pekerjaan barunya, tapi sampai dua minggu di rumah Budhe, ia masih belum juga mulai kerja. Setiap kali Ipah menanyakan kapan mulai kerja, Budhe menjawabnya dengan jawaban “Nanti saja,” atau “Liburan saja dulu,” atau “Lagi diatur jadwal jaganya dengan yang sekarang kerja di toko.” Ipah tidak mengerti kenapa sampai dua minggu belum juga ada jadwal kerja untuknya. Kalau dari ceritanya selama ini, toko milik Budhe hanya kios kecil di dalam pasar. Bukan toko besar. Kenapa seakan repot sekali?
Ipah menjepit gagang telepon di antara pipi dan pundaknya-ia melihat Budhe sering melakukan ini ketika bertelepon sambil mencari-cari nomor telepon atau mencatat sesuatu-Ipah mencari nomor telepon rumah Bu Mur di buku telepon yang tersimpan di sisi pesawat telepon. Pesawat telepon di rumah Budhe Rus punya kabel melingkar-lingkar yang menghubungkan pesawat ke gagangnya. Bukan gagang telepon yang bisa dipakai mengobrol sambil jalan ke sana kemari seperti yang biasa dilakukan Bu Meri. Di buku telepon Budhe Rus ada nama ayahnya. Hanya saja nomor teleponnya bukan telepon rumah mereka, melainkan nomor telepon rumah Bu Meri dan Evi. Melihat nama Evi tertulis di halaman itu, Ipah teringat Evi dan Chandra sesaat. Tengkuknya memanas, tapi ia langsung menepis pikiran tentang mereka. Mereka hanya cerita lama, katanya pada dirinya sendiri sementara jarinya memijit nomor-nomor di telepon.
Ipah sudah hapal caranya menghubungi Emak. Budhe berulang kali menuturkannya dengan rinci, sambil memeragakan dengan kedua tangannya. Supaya lebih menempel di kepala Ipah. Pertama, cari nomor teleponnya di buku telepon. Budhe menyebut telepon Evi, tapi Ipah menggantinya dengan Bu Meri. Lalu, setelah telepon diangkat oleh Evi--atau Bu Meri--minta tolong kabari ke rumah kalau ia mau menelepon. Lalu tutup teleponnya. Tunggu sampai ada kring, jangan angkat telepon.
“Itu tandanya Emak sudah ada di rumah Evi,” jelas Budhe lagi.
Atau di rumah Bu Meri, kata Ipah dalam hati. Ia mengangguk-angguk.
“Nah, baru kamu telepon lagi. Baru habis itu teleponan sama Emak,” Budhe Rus menutup penjelasannya.
Kini sambil menunggu nada dering berganti suara manusia, Ipah menyusun kalimat. Apa saja yang mau diceritakannya pada emak. Sungguh, sejak ia meninggalkan rumah banyak sekali pengalaman pertama yang dialaminya. Pertama kali naik taksi (ber-AC dan wangi yang membuatnya eneg), jarak rumahnya ke terminal bus ternyata tidak seberapa jauh, Ipah juga baru tahu itu. Tapi ongkos taksinya mahal sekali! Duapuluh sembilan ribu! Soalnya macet, sih. Kata Budhe, kalau naik taksi ongkosnya bukan dihitung dari jarak, tapi lama perjalanan. Bagi Ipah itu tidak adil. Mereka bisa saja naik bis dari jalan besar dekat gang rumah Ipah untuk ke terminal, tapi kata Budhe nanti lebih lama di perjalanan. Naik bus malam keluar kota, juga pengalaman Ipah yang pertama. Tidak seperti khayalannya, ia tidak bisa berlama-lama menikmati pemandangan luar jendela bus, karena sejam setelah bus berangkat, langit sudah gelap. Setelah meninggalkan pemandangan kota, yang ada hanya gelap dan lampu-lampu kendaraan. Budhe juga menyuruhnya cepat tidur supaya tidak mual.
Bangun-bangun sudah ada sinar matahari di luar jendela, di ujung garis perbatasan langit dan sawah yang luas membentang.
Apalagi? Tentang rumah Budhe, yang lebih besar dari rumah mereka. Sekitar tiga kali lipatnya, tapi tidak lebih besar dari rumah Bu Meri. Tentang kamar tidur yang dihuninya sendirian. Yang dalamnya luas dan terang karena ada jendelanya, tempat tidur untuk ia sendiri, ada lemari baju, bahkan meja rias tempatnya duduk dan menyisir rambut sambil bercermin. Ada juga meja belajar, meski Ipah tidak tahu siapa yang mau belajar disitu.
“Mau telepon ke Jakarta, Pah?” tanya pakdhenya sambil lewat, membuat Ipah melonjak sedikit.
Orang di rumah ini jadi terbiasa dengan pemandangan Ipah nongkrong di depan telepon tapi tidak menelepon.
“Eh, iya…” jawab Ipah ragu.
Pakdhenya penasaran, dalam hati menerka-nerka apakah keponakannya itu akhirnya akan mengangkat gagang telepon dan memberanikan diri bicara dengan ibunya. Ia hanya tersenyum sambil berjalan ke teras.
Ipah mencoret-coret buku notes, meredakan kegelisahannya. Ia tidak pandai menggambar, hanya coretan bentuk-bentuk bunga, awan, kotak, dan sebagainya yang ia buat di atas kertas itu. Entah bagaimana itu membuatnya lebih tenang. Sambil terus berpikir apakah ia sudah siap untuk mengangkat gagang telepon dan memutar nomornya.
Sebenarnya is ingin menunggu sampai ia mulai kerja di kios, sebelum melakukan interlokal ke Jakarta. Ia merasa, idealnya ada cerita tentang pekerjaan barunya untuk diceritakan pada Emak. Sebagai bukti bahwa ia memang ke Solo untuk kerja giat, untuk bisa kirim uang untuk Emak. Acara menelepon Emak ini jadi tertunda-tunda gara-gara sudah dua minggu lebih Ipah belum diajak ke kios oleh Budhe Rus.
Cerita tentang meja rias sajakah? Daripada tidak ada cerita, pikir Ipah.
Suara tuuut di dalam gagang telepon berbunyi. Ipah menghitung dalam hati. Satu… Entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Dua… Masih belum diangkat. Tiga… Aneh, Ipah setengah berharap teleponnya tidak diangkat. Empat…
Bunyi telepon diangkat.
“Halo?” ujar suara di seberang itu.
Ipah cepat-cepat menaruh gagang telepon. Napasnya tersengal. Dadanya masih berdebar kencang.
Eh, kok ditutup? Ipah kebingungan sendiri.