Ipah

Tika Sofyan
Chapter #9

Anak-anak Rumah Depan

Nanti main-main ke rumah ya, Ipah… Nanti main-main ke rumah ya, Ipah…

Ipah masih sering memikirkan ucapan Theo saat mereka berkenalan. Sayangnya, sampai hari ini ajakan itu belum pernah terwujud. Ia terlalu malu untuk datang ke rumah depan. Menunggu mereka yang datang ke rumah dan mengajaknya bermain, tapi itu pun belum pernah kesampaian.

Mungkin karena itu, Ipah senang menghabiskan tiap sore di teras. Diam-diam berharap anak-anak depan menghampirinya. Atau memanggilnya saat mereka sedang bermain di depan rumah.

Biasanya Pakdhe mengajak Ipah menikmati cemilan sore dan teh hangat yang disediakan Mbok Sum. Pakdhe akan mengajak Ipah ngobrol tentang banyak hal. Tentang kucing yang sering ikut nongkrong di teras bersamanya dan terkadang diberi makan kalau sedang ada sisa makanan, tentang lingkungan sekitar, tentang pekerjaannya, tentang kota ini.

Topik kesukaan Ipah adalah pekerjaan Pakdhe. Tarmin adalah seorang penyiar radio. Belum pernah Ipah bertemu penyiar radio secara langsung. Di Jakarta, melalui radio tua di rumah, Ipah punya penyiar-penyiar kesukaan yang suaranya selalu hangat dan ramah. Ia bayangkan wajah mereka sama manisnya dengan suara mereka. Tapi kata Pakdhe, ada teman penyiarnya yang berbadan gagah besar dan bermuka galak, namun suaranya lembut dan lunak. Setelah itu Pakdhe akan memberi komentar yang mendalam.

“Tidak bisa melihat orang itu dari suaranya, dari penampilannya saja. Itu kan bisa saja dibuat-buat. Dilatih sedemikian rupa sehingga mereka itu tampil seperti yang mereka ingin orang lihat.”

Kadang Ipah tidak mengerti maksud pakdhenya, tapi ia setia mendengarkan, karena suara Pakdhe enak didengar, seperti sedang mendengarkan dongeng radio. Bukan hanya Ipah yang menikmati rutinitas baru di sore hari ini. Tarmin pun senang kini punya teman mengobrol di rumah.

“Pakdhe seneng sekarang kalau santai sore di teras ada temannya,” celetuk Tarmin diiringi tawa renyahnya.

Ipah tersenyum-senyum. Sedikit aneh ternyata, ada yang menyatakan senang akan kehadirannya. Di rumahnya, ia selalu merasa dibutuhkan. Untuk cari uang, untuk membantu pekerjaan Emak, untuk menyiapkan makan… tapi, ada yang senang akan kehadirannya, sungguh sekadar ia ada saja, rasa senang di hatinya ini asing.

“Gimana, Pah? Betah kamu di sini?” tanya Tarmin.

“Betah, Pakdhe,” jawaban Ipah sambil mengangguk tegas. “Tapi nggak ada kerjaan, nggak enak. Mau ngerjain kerjaan rumah nggak boleh,” ujar Ipah melirik ke dalam rumah, di mana Mbok Sum berada.

“Kalau Mbok Sum bilang nggak boleh, Pakdhe juga nggak berani,” kata Tarmin lirih, namun tawa yang menyusul kalimatnya ia biarkan lepas. “Mbok Sum itu sudah ikut keluarga Pakdhe sejak Pakdhe kecil… dari Pakdhe masih lebih kecil dari kamu. Terus setelah orang tua Pakdhe nggak ada, Mbok Sum maunya terus ikut Pakdhe. Dia nggak mau pulang ke keluarganya di kampung. Kalau orang dulu itu seperti itu sifatnya, penuh pengabdian. Jadi dia itu merasa orang tua Pakdhe. Pakdhe juga merasanya seperti itu. Galak memang, tapi baik hatinya. Dari Pakdhe kecil dulu, kalau dia bilang tidak boleh ya tidak boleh. Dan Pakdhe nurut aja. Takut.” Tarmin tertawa lagi.

“Dia maunya melayani. Jadi tidak mau membiarkan orang-orang yang dilayani itu sampai mengerjakan pekerjaan dia. Ya sudah, to. Kan enak kamu nggak usah kerja. Kan kamu kesini buat, eh… buat kerja di kios Budhe. Ya budhe sekarang sedang ngatur-ngatur pekerjaan di kiosnya. Tunggu saja sampai Budhe bilang kamu boleh ikut ke kios. Sabar ya. Anggap saja sekarang liburan dulu.”

Ipah tidak senang mendengar penjelasan Pakdhe. Dulu dengan mengerjakan segala pekerjaan rumah, ia merasa punya peran di rumahnya. Sekarang ia hanya diatur dan menganggur.

“Ya… kalau seminggu aja masih enak sih, kaya liburan. Ini kan hampir sebulan Ipah nggak ada kerjaan, Pakdhe. Bosen juga tiap hari kaya gini,” keluh Ipah.

Tarmin hanya tertawa.

Lihat selengkapnya