“Kamu sudah jadi interlokal ke Jakarta?” kata Rustini setelah keluar dari kamarnya.
Diliriknya jam pada dinding dekat meja makan. Ia sudah mengenakan daster batiknya. Ipah sudah hapal. Itu artinya budhenya sudah mau tidur. Rustini tidak pernah memakai daster di dalam rumah kecuali sudah mau tidur. Sepulang dari mana pun, atau sehabis mandi, Rustini selalu memakai blus dan rok atau celana. Tetap rapi meskipun ada di rumah.
Ipah menggeleng.
Ipah ikut duduk di kursi makan, di dekat Rustini yang tengah meneguk air putih.
“Belum. Ipah baru mau telepon ke rumah Bu Meri, tapi tiba-tiba ada telepon masuk. Taunya Evi yang telepon,” Ipah menjawab pertanyaan Rus.
Rus mengerutkan keningnya sesaat. “Oh?” Rus tertawa kecil. “Kangen ya sama Ipah?”
“Ng… iya kayanya.”
“Gimana kabarnya Evi?” tanya Budhe.
“Baik-baik.”
“Lho, kamu kenapa? Kok cemberut?” tanya Rus.
“Nggak papa,” jawab Ipah singkat. Tapi ada yang mengusiknya. Dan Rustini bisa melihat itu.
“Kenapa?” tanya Rustini.
Ipah menceritakan bahwa dari cerita Evi, emaknya mengatakan pada para tetangga bahwa ia dibawa ke Solo oleh Budhe untuk disekolahkan.
“Oh, ya?” hanya itu respon Rustini.
Ipah memutuskan untuk tidak meneruskan topik itu, meskipun masih mengganggunya. Ada yang lebih mengganggu.
“Budhe,” Ipah berhasil menepis keraguannya dan memberanikan diri untuk bertanya, “Ipah kapan mulai kerja?”
Rus membuka mulutnya untuk menjawab.
“Jangan nanti-nanti lagi, Budhe. Ipah udah lama di sini. Budhe kalau ditanya jawabnya nanti-nanti terus,” Ipah memberengut. “Ipah bosen banget,” kali ini matanya mulai berkaca-kaca.
Rustini menghela napas.
“Besok Ipah ikut ke kios ya, Budhe?” rengek Ipah.
“Ya sudah, iya. Besok ikut ke kios.”
“Bener, Budhe?” Raut wajah Ipah berubah seketika.
Budhenya mengangguk. “Sana cepet tidur. Besok dari rumah jam 7 pagi.”
“Iya, Budhe! Makasih, Budhe!”
Sama seperti saat mau berangkat piknik dulu, Ipah sulit tidur. Saking bersemangat dan senang akhirnya diizinkan ke kios dan mulai bekerja. Ipah bahkan mulai sibuk menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan pada Emak jika jadi meneleponnya besok malam. Tentang hari pertamanya bekerja. Atau mungkin nanti saja, ia berubah pikiran. Tunggu waktunya gajian saja. Baru setelah itu menelepon Emak dan mengabari ia akan kirim uang. Terlalu banyak yang bermunculan di dalam kepalanya. Ia menyesal kenapa tadi tidak sekalian bertanya mengenai rincian pekerjaannya besok pada budhenya. Menyesal lupa menanyakan apakah upahnya harian, atau per jam atau berdasarkan penjualan yang berhasil. Ipah menghitung-hitung, kira-kira berapa yang akan ia dapat per hari? Apa sama dengan bayaran kerja di rumah Bu Meri? Tapi tidak mungkin, pekerjaannya jauh berbeda. Ipah tak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan yang mengalir deras tanpa ia tahu jawabannya. Terpikir olehnya untuk mengetuk pintu kamar Budhe Rus saat itu juga untuk mengajukan semua pertanyaan itu, supaya ia bisa tidur.
Namun pikiran-pikiran tak terbendung itu pula yang akhirnya menina bobokannya. Malam itu Ipah bermimpi ke Jakarta, pulang-pergi, hanya untuk mengantar segepok uang untuk Emak.
*
Kios Budhe lebih kecil dari yang Ipah bayangkan. Menyempil diantara barisan kios-kios batik lainnya, berukuran kira-kira 1,5 x 1,5 meter saja. Tapi tumpukan lipatan kain batik tak terhitung jumlahnya. Di bagian belakang ada sebuah lemari kaca berisi batik-batik yang didominasi warna coklat—coklat muda, coklat kekuningan, coklat tua, coklat kehitaman—yang kata Budhe itu batik tulis. Batik tulis lebih mahal dibandingkan batik lainnya, baik yang dicap atau printingan pabrik, begitu kata Budhe. Ipah tidak bisa membayangkan bagaimana pembuatan batik yang dicap. Dicap pakai stempel yang pernah ia lihat di meja kantor guru di sekolah dulu? Bagaimana caranya? Rustini tertawa, “Nanti kapan-kapan kita ke tempat pembuatan batik. Biar kamu lihat sendiri.”
Sedangkan batik printingan, kata Budhe, itu dibuat dengan mesin di pabrik. Sehingga bisa lebih cepat dan bisa produksi jauh lebih banyak kain. Makanya harganya lebih murah, karena lebih sedikit memakai usaha dan akal manusia.
Tumpukan Dua kategori terakhir ini lumayan tinggi, ditata di bagian depan kios. Di langit-langit kios mungil itu terpasang lampu neon panjang. Dari depan kios, ada pintu kecil setinggi pinggang, dan undakan untuk naik ke ‘panggung’ kios. Di lantai kios berserakan lembar-lembar kantung plastik untuk membungkus kain yang dibeli, tali rafia, dan karung plastik. Tugas pertama Ipah adalah membersihkan dan merapikan kios.
Budhe bagaikan orang terkenal di pasar ketika masuk ke dalam pasar, begitu kesan yang Ipah tangkap. Semua penjaga kios menyapa dan disapa Budhe Rustini.
Ipah sudah siap dengan ide-idenya untuk membantu Budhe menjual lebih banyak batik hari itu, dari menyapa semua orang yang lewat kios dan mengajaknya mampir, menjadi super ramah, menyodorkan beragam batik pada pelanggan, memuji-muji habis penampilan para pelanggan… tapi tugasnya di hari pertama adalah menyortir barang-barang yang baru datang dari pemasok. Sebanyak empat karung besar berisi daster dan kain batik harus disortir untuk ditentukan harga dan tempatnya di kios.
“Yang ini harga sepuluh ribu. Dilihat bahannya,” jari-jari Rustini menggosok bahan daster batik. “Yang bahannya kayak gini. Jangan keliru. Yang karung itu, coba kamu buka. Kalau nggak salah itu kain jarik pesanan Budhe… nah iya. Coba bawa satu kesini.”
Rus membuka satu kain batik sogan. “Yang seperti ini dua puluh lima ribu, boleh ditawar jadi dua puluh aja. Sisanya murah, itu yang lima ribuan.”
Awalnya sulit bagi Ipah membedakan bahan yang lebih murah dan lebih mahal. Tapi tidak sampai satu jam, Ipah sudah hafal pengelompokan barang-barang itu. Ia harus mendata dan menumpuknya dengan rapi di kios yang sudah penuh. Semua itu memakan waktu sampai lewat jam makan siang.
Saat jam makan siang, seorang perempuan datang membawa semacam wadah bundar besar yang terbuat dari bambu dan bertumpuk tiga, digendongnya di punggung dengan selendang seperti menggendong bayi.
“Wah, ada pegawai baru to, Bu Rus?” tanya perempuan berkebaya motif garis-garis coklat hitam itu sambil tersenyum lebar. Rambutnya digulung kecil seperti rambut Mbok Sum. Tubuhnya yang gempal tampak kuat bertenaga menggendong semacam panci besar bertumpuk itu.
“Iya, ini ponakanku dari Jakarta. Sekarang nggantikan Ria. Kenalkan, Pah.” kata Budhe sambil menjawil Ipah.
Ipah tersenyum canggung.
“Ini Bu Kasinem. Langganan tenongan Budhe. Cap jaenya ada bu?”
“Ada, tak simpen dua buat Bu Rus. Mau apa lagi? Masih ada lemper, bolu, lapis… Semar mendem ada.”
“Kamu mau apa, Pah?”