Sambil merebah di tempat tidurnya sore itu, Ipah memutar otak bagaimana caranya bisa mulai berjualan donat. Cara berjualan donat bukan yang benar-benar mengusik pikirannya. Ia masih belum percaya sendiri bahwa ia tidak menyukai pekerjaan baru yang sudah dinantikannya sejak ia meninggalkan rumah. Sulit bagi Ipah untuk menerimanya. Tidak mungkin ia bisa mengungkapkan itu pada budhenya.
Sebenarnya berjualan gampang, Ipah sudah melakukan itu sejak kecil. Tapi bagaimana mau membuatnya kalau Mbok Sum jelas-jelas tidak mengizinkannya memakai dapur? Berdiri di dapur saja sudah diusir-usir.
Lembar-lembar uang berjumlah sepuluh ribu di tangannya tidak bertambah atau berkurang setelah lewat satu jam ia genggam dan hitung-hitung ilang. Setelah melewati sepuluh hari yang membosankan di kios batik Budhe Rus, total ada sepuluh ribu yang diterimanya. Budhe Rus mengupahnya seribu per hari, berapapun penjualan yang berhasil Ipah buat. Memang belum sebulan penuh Ipah bekerja, tapi Rustini memutuskan menggajinya karena sudah masuk tanggal satu. Ipah tercenung sambil menatap lembaran-lembaran uang di tangannya. Baunya sudah menempel di jemarinya. Sepuluh ribu. Biasanya ia dapatkan dari kerja di rumah Bu Meri selama satu minggu, atau setelah dua hari kerja. Bu Meri termasuk royal di antara tetangga-tetangganya, memang. Selain upahnya, Bu Meri juga kerap memberinya makanan selesai ia kerja.
Ipah bisa mengirim semuanya ke Jakarta. Ia tidak membutuhkannya. Semua yang ia perlukan sudah tersedia di rumah ini. Tapi Ipah merasa tidak enak sudah sebulan lebih di Solo, tapi hanya mengirim uang sepuluh ribu. Apa tidak akan ditertawakan Rami nanti? Paling tidak seharusnya ia mengirim tigapuluh ribu, gajinya satu bulan penuh.
Itu sebabnya Ipah memutuskan untuk mulai berjualan donat lagi untuk menambah uang yang akan ia kirim untuk Emak nanti.
Modalnya tidak perlu banyak, tidak sampai sepuluh ribu juga cukup untuk memulai. Tidak apa-apa kalau hasilnya tetap tidak sebanyak yang ia dapatkan saat masih di Jakarta. Daripada tidak sama sekali? Bulan depan bisa mengirim lebih banyak.
Sambil menghela napas, ia memasukkan semua uangnya ke dalam amplopnya kembali.
Kata Pakdhe, uangnya bisa ia kirim lewat kantor pos dekat rumah. Rumah Budhe dan Pakdhe memang strategis, begitu keluar ke jalan besar, semua ada. Kantor pos, bank, toko swalayan kecil, toko bahan kue, bengkel, rumah makan, klinik dokter. Beruntung sekali pakdhe dan budhenya punya rumah di sini, pikir Ipah. Jauh sekali dengan keberuntungan orangtuanya di Jakarta. Keberuntungankah itu? Beruntung, Ipah yakin. Beruntung Pakdhe bertemu dengan pekerjaan yang bagus. Beruntung Budhe punya kemampuan untuk buka usaha yang laris. Meski kadang sepi, tapi Budhe Rus sudah punya pelanggan-pelanggan tetap.
Ipah menarik paksa pikirannya untuk kembali memikirkan bagaimana caranya membuat donat. Kapan Mbok Sum tidak ada di rumah? Mbok Sum punya rutinitas belanja ke warung dan pasar, memang, tapi tidak cukup lama untuk Ipah selesai membuat donat. Ia perlu waktu untuk membuat adonan, menunggu adonan mengembang dua kali, menggoreng, membedakinya dengan gula halus, lalu membereskan dapur. Semua memakan waktu kira-kira lebih dari dua jam. Bisa tiga jam malah.
Bibir Ipah mengerut kecut. Cuma ada satu cara, Ipah menyimpulkan jawabannya.
*