Kantor pos terdekat rumah Budhe bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar kurang dari 10 menit. Ipah meninggalkan kantor pos dengan rasa puas dan lega. Perasaan yang ia tunggu-tunggu sejak ia menginjakkan kaki di kota ini. Dalam amplop surat yang ia kirim untuk Emak, tersemat lipatan lembar-lembar uang kertas hasil penjualan donat yang ia titipkan ke warung dekat rumah. Lumayan, ditambah upahnya dari kerja di kios. Donat yang dibuatnya tidak habis terjual, tapi Ipah cukup senang. Sisa tiga donat, yang ia berikan semua pada Mbok Sum. Ipah yakin sekali sempat melihat Mbok Sum tersenyum kecil saat menerima donat itu.
Teringat Mbok Sum, ia mempercepat langkah kakinya untuk kembali ke rumah. Jangan sampai Mbok Sum menemukan kamarnya kotor berantakan sebelum ia sampai di rumah. Ia meninggalkan sobekan-sobekan kertas berserakan di kamarnya. Surat-surat yang gagal Ipah selesaikan. Sulit ternyata menulis surat untuk orang terdekat yang tinggal bersamamu setiap hari sejak bayi. Membicarakan apa-apa yang terlihat di depan mata bersama-sama ternyata berbeda kalau harus memikirkan dulu apa yang mau disampaikan secara tertulis.
Emak, apa kabarnya? Ipah baik-baik.
Setelah itu Ipah berhenti menulis. Berpikir. Lalu menulis lagi.
Maaf Ipah baru kirim uang sekarang. Baru kekumpul uangnya.
Ipah berhenti lagi.
Nanti Ipah kirim lagi.
Ipah.
Yang penting kirim uang, begitu pikir Ipah.
Sempat terpikir olehnya untuk sekalian menulis surat untuk Evi. Tapi justru terlalu banyak yang ingin diceritakannya pada Evi, sampai-sampai belum selesai juga ia menulis surat untuk Evi.
Surat yang dikirim kilat akan sampai dalam dua hari saja, begitu kata petugas posn ya berkali-kali karena Ipah juga bertanya berulang kali kapan surat itu akan sampai di alamat.
Hari itu hari Selasa, kios libur. Ipah tidak tahu kenapa Budhe Rus menetapkan hari Selasa sebagai hari libur kios. “Kebiasaan saja,” kata Budhenya. “Asal jangan Jumat, Sabtu dan Minggu. Banyak yang datang,”
Siang itu terik sekali. Meski sudah biasa keluar rumah saat matahari lurus di atas kepala seperti ini, Ipah memilih langsung pulang. Keringat yang bercucuran dari kepala hingga lehernya membuatnya tidak tertarik berlama-lama di luar. Ipah heran sendiri. Dulu, sebelum pindah, Ipah tidak pernah ingin cepat-cepat pulang kalau bukan karena kelaparan. Tapi di Jakarta, ada tempat-tempat yang ditujunya untuk mencari bekerja. Sekarang, tujuannya bekerja adalah di rumah.
Sejak insiden donat di tengah malam itu, Mbok Sum lebih lunak pada Ipah. Masih tidak ramah, tapi ia membiarkan Ipah melakukan pekerjaan rumah. Ipah tetap tidak bisa memilih pekerjaan apa yang mau dikerjakannya, tapi ini tidak masalah. Ipah sudah mencapai titik puncak kebosanan. Bosan tidak ada pekerjaan saat di rumah, bosan dengan pekerjaan di kios yang setiap hari hanya duduk-duduk saja.
Mbok Sum masih tidak berbicara pada Ipah. Caranya menyuruh Ipah mengerjakan sesuatu hanya dengan telunjuk jarinya. Bagi Ipah, ini bentuk komunikasi yang sangat jelas. Jika Mbok Sum menunjuk ke ember yang berisi baju-baju kering, artinya Mbok Sum ingin Ipah mencucinya dengan cara mengucek. Jika Mbok Sum menyodorkan ember berisi air dan sehelai kain, artinya ia ingin Ipah mengepel. Sepertinya Mbok Sum juga cocok dengan hasil kerja Ipah, karena ia tidak pernah mengomelinya.
Selesai membersihkan kamarnya. Ipah sengaja mencari Mbok Sum di belakang. Seperti dugaannya, Mbok Sum punya tugas untuknya. Perempuan bergigi dan bibir merah itu menunjuk sekeranjang baju yang ada di lantai dekat meja kayu berat yang biasa digunakan Mbok Sum untuk menyeterika. Sebuah seterika terparkir di atasnya. Ipah tersenyum lebar begitu Mbok Sum meninggalkannya dan masuk ke dapur. Perlu tingkat kepercayaan yang tinggi untuk menyerahkan pekerjaan menyeterika pada seseorang. Menyeterika bukan jenis pekerjaan rumah yang ringan. Jangankan anak seumur Ipah, orang dewasa pun, Ipah tahu, belum tentu bisa menyeterika. Ini pertama kalinya Mbok Sum menyuruhnya untuk menyeterika, artinya Mbok Sum akhirnya percaya penuh padanya.
Ipah ingin cepat-cepat menyelesaikan surat untuk Evi. Teringat olehnya obrolan mereka di telepon. Kenapa Evi bilang Emak mengatakan pada orang-orang bahwa ia di Solo sekolah lagi? Apakah Emak malu Ipah pergi tapi tetap tidak sekolah? Tapi kan selama ini Emak tidak pernah keberatan. Kenapa Emak harus bohong pada orang-orang? Interlokal terlalu mahal untuk dilakukan sering-sering, karena itu Ipah memilih menyurati Evi. Lagi pula, mungkin di surat Evi bisa bercerita lebih banyak. Di telepon rasanya diburu waktu.
Ipah tidak terlalu memikirkan itu sebelumnya, tapi sekarang jadi ganjalan di hatinya dan mengusik benaknya. Aneh. Sejak awal ia memutuskan untuk berhenti sekolah, Emak tidak pernah keras menentang. Awalnya memang Emak membujuk Ipah untuk membatalkan keputusannya itu, tapi tidak lama. Sejak itu Emak tidak pernah menyuruh Ipah kembali sekolah, yang Ipah simpulkan artinya emaknya tidak keberatan kalau Ipah tidak sekolah. Mungkin kepergiannya menimbulkan banyak pertanyaan dari para tetangga, mengingat kegemparan saat dirinya dijemput Rustini dan akhirnya memutuskan ikut ke Solo. Mungkin sekolah adalah jawaban mudah dari ibunya untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan mereka.
Paling tidak saat sedang tidak kerja di kios, Ipah sudah tidak kebosanan di rumah. Mbok Sum sudah melunak sejak insiden donat tengah malam itu, dan mengizinkan Ipah mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Awalnya menyapu saja. Lalu Mbok Sum mengetesnya untuk mengepel. Mbok Sum tidak bilang apa-apa setelah melihat lantai yang sudah dipel oleh Ipah, tetapi keesokannya ia diberi ember dan kain pel lagi.
Hari ini hari pertama ia diserahi sekeranjang baju yang sudah dicuci dan dijemur. Seterika duduk manis di atas meja kayu yang biasa Mbok Sum gunakan untuk menyeterika pakaian. Pekerjaan kesukaan Ipah yang sudah berminggu-minggu tidak dilakukannya. Rasa bangga berdesir dalam hatinya karena dipercaya untuk melakukan pekerjaan yang lebih serius. Ia sedikit berharap bisa sambil menonton TV, tapi meja itu terlalu berat untuk dipindahkan ke ruang TV.
Ipah melirik Mbok Sum ketika mengambil pakaian pertama untuk diseterika. Mbok Sum duduk di lantai sambil bersandar di dinding sambil mengunyah donat gula buatan Ipah. Di sampingnya, piring kecil berisi dua donat lagi menantinya. Ipah belum pernah melihat Mbok Sum santai-santai begitu. Perempuan itu selalu terlihat sibuk, selalu ada yang harus dikerjakannya. Mungkin ia akhirnya menerima bahwa kehadiran Ipah di rumah ini mengurangi beban pekerjaannya.
Mbok Sum mengunyah donat sambil menatap Ipah dengan tajam. Pandangan menguji yang selalu diberikannya setiap kali Ipah dipercaya untuk melakukan suatu tugas untuk pertama kalinya. Ipah menekan seterika lebih kuat ke kain celana yang sedang diseterikanya, agar hasilnya lebih licin. Juga supaya dianggap mampu oleh Mbok Sum. Sejauh ini setiap Ipah selesai melakuan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya, Mbok Sum tidak pernah berkomentar. Juga tidak mengomel. Ipah simpulkan itu artinya Mbok Sum cukup puas dengan hasil kerjanya. Diliriknya jam dinding dekat dapur, hampir sepuluh menit sudah dua celana milik Pakdhe yang diseterikanya. Ipah bertekad lebih cepat lagi, agar dapat penilaian lebih baik dari Mbok Sum. Tapi Mbok Sum tengah asyik dengan donat keduanya, tidak sudah tidak lagi memperhatikan Ipah kali ini. Ipah mencari pakaian yang lebih tipis, agar lebih cepat menyeterikanya. Sehelai kemeja putih disambarnya cepat. Kemeja itu terlalu kecil ukurannya untuk Pakdhe. Ipah menggosok bagian kerahnya sambil berpikir. Belum pernah sepertinya Budhe memakai kemeja putih begitu. Ipah mengangkat kemeja itu di hadapannya sambil berkerut kening. Sepertinya ukurannya pas di tubuhnya, pikirnya. Ia meletakkannya lagi di meja seterika. Kelihatannya masih baru. Mungkin Budhe baru membelinya, dan mengecil setelah dicuci. Ipah cepat-cepat menyelesaikannya dan beralih pada pakaian selanjutnya. Ipah mengambil sehelai kemeja lagi. Kemeja batik warna hitam putih. Yang ini juga sepertinya baru. Ipah baru sebentar bekerja di kios batik Budhe, tapi ia sudah bisa membedakan mana kualitas batik bagus dan mana yang murahan. Kemeja batik ini, Ipah yakin bukan kain bagus yang biasa dipakai Budhenya. Ada sedikit stok kain seperti ini di kios budhenya. Karena itu juga Ipah tahu itu bukan kain batik yang berkualitas bagus. Ipah menerka itu batik cap, karena Budhe tidak suka pakai batik printing. Cap-capannya tidak rapi, ada bagian yang seolah meleleh keluar jalur. Ipah tertegun, ada tulisan kecil setengah melingkar diantara pola batik di baju itu. Tidak terlalu jelas, tapi Ipah bisa membacanya setelah melihatnya lebih dekat.