Lampu-lampu rumah sudah dimatikan semua, kecuali lampu di teras. Cahaya dari lampu jalan yang menyusup ke dalam kamar Ipah lewat celah tirai jendela. Sinar itu bisa menyelinap ke dalam kamarnya. Ipah berpikir bagaimana ia bisa menyelinap ke luar.
Ipah belum tuntas memikirkan cara pergi dari rumah ini tanpa ketahuan. Bukan hanya itu, ia juga ingin lebih cermat dalam rencana pelariannya. Tidak seperti terakhir kali saat ia tahu Budhe Rus datang menjemputnya. Dipertimbangkannya apa saja keuntungan dan kerugian pergi dari sini.
Pandangannya menyapu ruangan yang menjadi tempat pribadinya selama dua bulan berada di rumah ini. Kamar tidurnya sendiri. Salah satu kemewahan yang tidak dimilikinya kalau pulang ke rumah orang tuanya. Belum lagi isinya: lemari pakaian dan baju-baju, meja rias, meja tulis dan kursinya, tempat tidur, jendela yang menghadap ke halaman dan jalan, juga rumah keluarga depan. Itu baru satu paket kamar tidur. Lalu makanan yang selalu ada tanpa ia harus kerja dulu. Makan nasi tiga kali sehari dengan lauk dan sayur enak buatan Mbok Sum. Ada cemilan sore. Selalu ada buah-buahan setiap hari. Kemewahan yang teramat jarang ia nikmati sebelumnya. Ada Pakdhe yang mau mengajaknya ngobrol sore di teras. Ipah belum pernah merasa bebas bercerita apa saja, tanpa dibalas komentar tidak enak. Ada pekerjaan di kios, yang meskipun tidak setiap hari dan belum cukup untuk mengirim uang ke rumah, tapi pekerjaan tetap.
Tapi ia tidak harus sekolah kalau pergi dari sini.
Apalagi keuntungan lainnya?
Suara dan kata-kata dalam kepala Ipah mendadak hilang. Hening.
Apa ya?
Tidak ada kah?
Kalau ia pergi dari sini, ia kembali pada rutinitas sebelumnya. Bangun pagi untuk bantu Emak dengan setumpuk cucian milik orang lain. Sementara Rami bebas semaunya. Membersihkan rumah orang lain, belanja untuk orang lain. Lalu uangnya ia pakai untuk beli makan seisi rumah, kadang sedikit jajan untuk dirinya sendiri…
Kenapa sekarang terasa berat membayangkan segala pekerjaan yang dulu selalu dijalaninya dengan enteng?
Tapi dengan begitu ia tidak perlu sekolah.
Dan kalau ia tetap di Solo…
Segala fasilitas yang tidak dimilikinya di rumah orang tuanya, ada di sini. Tapi harus sekolah.
Ipah menutup wajahnya dengan bantal, memberanikan diri untuk membayangkan kembali sekolah.
Tidak bisa menjawab soal. Nilai-nilai buruk. Tidak paham penjelasan guru dan yang ada di buku diktat… tidak naik kelas dan dicap bodoh lagi.
Bukannya orang sekolah supaya pintar? Kenapa aku jadi kelihatan bodoh kalau sekolah?
Gagal lagi, jadi bodoh lagi…
Tapi katanya Pakdhe dan Budhe mau bantu belajar… Mau carikan guru les…
Ah, tapi kan itu bukan janji Budhe!
Ipah merasa terkhianati. Tentu saja sakit hati. Bayangan akan kehidupan baru dengan penghasilan yang lebih menjanjikan runtuh seketika saat Budhe Rus mengatakan Ipah sudah didaftarkan sekolah. Budhe bahkan tidak pernah bertanya apa ia mau didaftarkan sekolah. Seenaknya saja mengatur.
Sambil menyeka hidung dan pipinya yang basah dengan bajunya, Ipah mengeluarkan baju-baju dari lemarinya. Semua baru. Bahkan baju-baju yang ia bawa dari Jakarta sudah tidak pernah terpakai lagi. Ipah tercenung, baju-baju mana yang dibawa? Tentu tidak bisa semuanya. Ia tidak bisa membawa banyak baju untuk dibawa kabur.
Ya, kabur. Ipah memutuskan untuk kabur.
Ini usahanya untuk minggat ke tiga kalinya.
Dua kali percobaan minggat pertamanya gagal. Yang pertama, setelah berkemas dan memakai jaketnya malam-malam ketika Ipah kira semua sudah tidur. Ia memastikan tidak ada suara dengan cara menempelkan telinganya ke daun pintu kamar. Ipah memanggul tas ransel baru yang dibelikan Budhe untuk sekolah. Rasanya aneh juga minggat dari sini tapi membawa cendera mata. Apalagi tas itu dibelikan untuk dia pakai ke sekolah. Tapi biar, ransel baru ini lebih praktis untuk pergi diam-diam daripada tas jinjing usang yang bahan kainnya sudah mulai bolong dan sobek.
Lampu ruangan tengah masih menyala meski tak ada orang. Ipah hampir berhasil meraih gagang pintu ketika gelegar suara Budhe memanggil namanya, “IPAH!”
Jantung Ipah berpacu. Entah bagaimana, budhenya keluar kamar tanpa terdengar sama sekali oleh Ipah.
“Nah gitu dong, dicoba tasnya! Coba Budhe liat sini!” kata Budhe sambil mengamati tas baru di punggung Ipah.
“Eh, bagus ya, tas pilihan Budhe. Abis kamu nggak mau milih sendiri malah cemberut saja. Tapi suka kan?”
Ipah meringis sambil mengangguk. Khas Ipah.
“Coba sekalian seragamnya dicobain. Budhe mau liat. Pas apa nggak.”
Alih-alih minggat, malam itu Ipah macam model seragam anak SD, memakai seragam lengkap. Memakai dasi dan topi merah juga. Lalu berputar-putar di depan cermin sesuai arahan Budhe.
Usaha kedua, ia berencana akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit. Bahkan sebelum Mbok Sum bangun untuk sembahyang dan mulai membersihkan rumah. Ipah sudah menyiapkan atribut minggat sejak sehari sebelumnya. Tapi sialnya Ipah bangun kesiangan. Langit sudah tidak gelap meski belum kelihatan sinar matahari. Tetap saja nekat, karena suasana rumah masih sepi. Hanya ada suara deburan air di kamar mandi. Mungkin Budhe sedang mandi. Pakdhe mungkin sedang lari pagi seperti biasa. Mbok Sum tidak terlihat.
Dan dari halaman pun tak terdengar suara kecuali burung-burung gereja yang sibuk mencari makan. Setelah membuka pagar Ipah dikagetkan dengan sapaan Pakdhe, yang ternyata sedang mengayun-ayunkan kedua tangannya. Pemanasan sebelum mula jogging.
“Ayo Pah, ikut Pakdhe. Harus rajin olahraga, supaya sehat terus. Kamu mau kemana itu bawa-bawa tas?” tanya Tarmin sambil terkekeh, “Senang ya punya tas baru? Udah tasnya ditinggal aja. Ngapain jogging bawa tas segala. Copot sendalnya. Kaya Pakdhe gini, nyeker.”