“Bersih-bersih dulu,” kata Pakdhe sesampainya mereka di rumah.
Cukup lama pakdhenya meyakinkan warga yang ikut siskamling bahwa Ipah benar-benar keponakannya, dan ia bukan maling. Tarmin terpaksa membiarkan mereka menginterogasi Ipah, kenapa ia berada di luar rumah malam-malam. Mengecek apakah ini pertama kalinya ia keluar rumah di malam hari.
“Cuci kaki, tangan, muka. Terus ke kamar, ganti baju. Terus tidur, ya. Ayo,” tutur pakdhenya lembut.
Ipah terdiam menatap Pakdhe. Tak percaya dirinya tidak dimarahi panjang lebar. Matanya masih basah.
“Ayo,” kata Pakdhe lagi.
Ipah menurutinya untuk segera masuk ke kamar mandi. Ia baru akan mengambil air dengan gayung dari bak kamar mandi ketika terdengar Budhe dan Mbok Sum keluar dari kamar. Pakdhe mengatakan sesuatu, lalu direspon dengan suara-suara kaget dari budhenya dan Mbok Sum.
Otot-otot tubuh Ipah yang tadi sempat relaks, kini kembali menegang. Tubuh Ipah mematung. Ditajamkannya pendengarannya supaya bisa mendengar suara itu lebih jelas. Ada suara tangis. Tangis siapa itu?
Suara berat Pakdhe menimpali suara isakan itu. Cara bicaranya yang tenang seolah menenangkan isakan itu.
Berarti itu suara tangis Budhe.
Mata Ipah panas. Hidungnya kembang kempis. Kerongkongannya terasa penuh.
Seperti menular, isakan di luar itu membuatnya ikut terisak.
Ipah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Berhati-hati untuk tidak mengeluarkan suara. Ia tidak mau ketahuan menangis.
Tangisan Budhe tidak kunjung usai, meski suaminya berusaha menenangkannya.
Tiba-tiba suara gerungan meledak.
Awalnya Ipah tidak bisa menebak suara apa itu. Lantang, serak, dan menggebu.
Menggerung seperti tangisan anak kecil, namun suara orang dewasa yang berat dan serak.
“Mbok Sum, wis, Mbok.” ujar suara Pakdhe.
Mbok Sum?
Mbok Sum ikut menangis? Tangis Ipah terhenti. Kenapa?
Kini suara Pakdhe sedikit gelisah, berusaha menenangkan kedua perempuan yang kini menangis bersama di ruang makan.
Merasa tak nyaman, Ipah mulai menyiramkan air ke kakinya. Mengalihkan perhatiannya sendiri.
Ipah baru keluar kamar mandi setelah tidak terdengar lagi suara dari luar. Pakdhe berhasil membujuk Budhe dan Mbok Sum untuk masuk ke kamar masing-masing.
Ipah tak pikir panjang lagi. Ia begitu lelah. Dimatikannya lampu kamar seusai mengganti pakaian kotornya dengan piyama.
Kamarnya gelap dan sejuk. Tempat tidurnya lega. Hanya untuknya sendiri.
*
Rumah begitu sepi saat Ipah keluar kamar jam sembilan pagi. Terlalu siang untuk kebiasaannya. Budhe samasekali tidak menyinggung kejadian tadi malam. Wajahnya tampak lelah ketika menyuruh Ipah untuk sarapan sebelum masuk ke kamarnya. Pakdhe tidak terlihat, sudah berangkat kerja rupanya, Ipah menyimpulkan sendiri.
Mbok Sum hanya diam saat menaruh roti tawar, selain dan teh hangat di meja makan.
Sambil duduk memandangi cangkir teh motif bunga-bunga di hadapannya, Ipah melamun. Perasaannya masih tak karuan. Pikirannya juga. Apa yang mau dilakukannya sekarang, ia berpikir. Bersikap seperti biasa, seolah kejadian tadi malam tidak ada? Tetap meminta untuk pulang ke Jakarta?
Apa ia tetap mau pulang ke Jakarta…
Ipah melonjak saat telepon berdering.
Ia melongok ke arah dapur, menoleh ke pintu kamar Budhe, menunggu ada yang muncul untuk mengangkat telepon. Tapi tidak ada.
Dering ke lima.
Ipah menggeser kursi, dan beranjak. Berjalan cepat untuk mengangkat gagang telepon sebelum deringnya berhenti.
“Halo?” sapanya cepat.
Sapaannya tidak langsung terjawab. Yang didengarnya hanya suara napas tersengal.
“Halo?” ulang Ipah.
“I-Ipah… Ipah ada?” tanya suara di seberang. Suara perempuan yang terdengar terburu-buru.
“Eh? Iya, ini Ipah.”
“IPAH!” suara itu membentaknya. “Apa-apaan pake acara minggat-minggat tengah malem? Iya? Bener, tadi malem mau minggat?”
Emak.
Ipah tidak menyahut. Tak tahu harus berkata apa. Terlebih lagi, ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan atau harus merasa apa.
Sebulan lebih ia memikirkan Emak, sedih menahan rindu, sedih karena belum bisa mengirim uang. Khawatir Emak kesusahan tanpanya di sana. Berulang kali ia mencoba menelepon Emak lewat rumah Bu Meri, tapi tak berani karena tak tahu mau bilang apa.
Ipah belum menerima balasan surat dari Emak, setelah ia mengirim surat bersama uang hasil kerjanya di kios dan jualan donat. Lalu sekarang suara yang dirindukannya membentak dan memarahinya.
“Emak…,” Ipah tercekat.
“Bener, semalem mau kabur?” tanya Emak lagi, kali ini volume suaranya lebih terjaga, mungkin ada orang lain di dekat Emak. Ipah tidak tahu dari mana Emak menelepon.
“I-iya…”
“Ya, ampun! Kenapa?”
Ipah lelah menangis dari tadi malam, tapi sepertinya seri tangisannya belum selesai. Ia tak bisa menahan air matanya mendengar pertanyaan Emak.
“I-ipah nggak mau sekolah,” isak Ipah. “Ipah disuruh sekolah…” lanjutnya.
Ipah mengelap ingus yang keluar dari hidungnya dengan baju kaosnya.
“Lho, nggak jadi kerja?” tanya Emak.
“Kerja... tapi disuruh sekolah.”