Ipah salah tingkah. Memikirkan apa yang harus ia bicarakan dengan Stef. Gadis itu putih bersih kulitnya, kontras dengan warna kulit Ipah. Rambut lurusnya tersisir rapi. Jatuh berat di sisi kanan dan kiri wajahnya hingga ke bahu. Poninya rata seperti dipangkas dengan pedang. Setidaknya dalam bayangan Ipah. Mata kecilnya menyorot tajam di balik kacamata bingkai emas, menegaskan kecerdasannya. Hidung dan bibirnya yang mungil, mengingatkan Ipah pada tokoh-tokoh komik jepang yang sesekali ia baca di rumah baca dekat sekolahnya dulu.
Dan ada di dalam kamarnya.
Budhe tiba-tiba mempersilahkan Stef masuk dan mengajaknya ke kamar Ipah tadi. “Stef mau main sama kamu,” kata Budhe dengan enteng, seolah itu sesuatu yang sudah sering terjadi.
“Kamu dari Jakarta, ya?” tanya Stef, tanpa malu-malu. Ia duduk di kursi belajar di kamar Ipah.
Ipah mengangguk, lalu ia memikirkan mau merespon dengan kata-kata apa selain “ya” saja.
“Mau sekolah di sini ya?” lanjut Stef lagi, sebelum Ipah sempat memutuskan mau mengatakan apa.
“Kata siapa?”
“Kata Mamaku. Emangnya nggak?”
Ipah diam.
“Kamu kelas berapa?”
“Terakhir kelas lima.”
Stef mengerutkan kening.
“Umurmu berapa?”
“Tiga belas.”
Stef mengerutkan kening lagi. Sambil menatap Ipah, ia seperti menyipitkan matanya yang sudah sipit.
”Oh, kamu pernah nggak naik kelas.” ujar Stef, bukan bertanya. “Terus kamu nggak sekolah lagi,” lanjut Stef, lagi-lagi bukan bertanya.
Ipah baru mau bertanya, dari mana Stef tahu-
“Tapi sekarang mau sekolah lagi, kan?”
Ipah balas menatap Stef, sambil mengira-ngira akan seperti apa reaksi Stef, ia menggeleng pelan.
“Lho, kata mamaku, katanya budhemu, kamu sekolah minggu depan!”
“Aku nggak mau!”
Stef terhenyak. Selama 14 tahun hidupnya, belum pernah ia bertemu anak yang tidak mau sekolah.
“Kenapa?”
“Pokoknya nggak. Aku nggak bakat sekolah. Aku bakatnya kerja. Aku mau kerja,” Ipah sedikit terpancing emosinya.
“Emangnya kalau belum lulus sekolah bisa kerja?” tanya Stef.