Seharian ini Ipah tidak keluar kamar. Pagi tadi ia baik-baik saja saat bangun tidur. Ia keluar kamar lalu mandi. Namun kemudian Mbok Sum masuk ke kamarnya membawa baju seragam yang sudah diseterika, digantung dengan hanger, yang lantas dikaitkannya di gantungan yang menempel pada daun pintu. Siap dipakai di hari pertama masuk sekolah besok pagi. Seketika Ipah merasa diserang. Pakaian licin dan baru itu, kemeja putih dan rok lipit merah. Warna keduanya masih cemerlang, bersih dan tampak kaku. Saat masih sekolah dulu Ipah tidak pernah pakai seragam baru. Selalu lungsuran dari Rami, yang kebetulan lebih apik darinya. Kakaknya itu tertib, tidak pernah main saat masih mengenakan seragam. Ia selalu pulang ke rumah dan berganti pakaian sebelum keluar rumah lagi untuk berlarian di tanah lapang dekat rumah.
Di bagian saku kemejanya sudah terjahit bet Sekolah Dasar. Di lengan kanannya terjahit bet lokasi sekolahnya. Ipah bahkan tidak ingat apa nama sekolah barunya. Ia mendekati pintu. Setiap langkahnya serasa tertahan, tapi ia penasaran apa nama sekolahnya. Tangannya menarik pelan sudut kemeja yang tergantung itu, mengintip ke bagian tempat lokasi ditempel.
SD SUMBER SARI
KOTAMADYA SURAKARTA
Tiba-tiba perutnya mulas. Melilit seperti cucian yang diperas sampai tidak ada air yang menetes lagi. Pelan, Ipah membungkuk… satu tangannya meraih lantai sementara sebelah lagi memegangi perutnya. Ia merangkak ke arah tempat tidur. Besok sekolah. Seperti bunyi gaung yang memekakkan di dalam kepala Ipah, dua kata itu berputar-putar menyiksanya. Rasa mulas di perutnya semakin mengikat. Napasnya panas.
Ipah memejamkan mata. Tidur saja, mungkin kamu sakit. Besok tidak bisa sekolah karena sakit.
Tidur saja.
*
Ipah merasakan ada tangan yang memegang keningnya. Lalu pipinya, lalu lehernya. Tangan itu dingin. Ataukah kepala dan lehernya sendiri yang panas?
“Lho, kok panas,” ucap seseorang yang memegangi dahi Ipah.
Sepintas, Ipah yakin itu suara Emak. Tapi logatnya Jawa. Tidak mungkin emaknya bicara dengan logat Jawa. Ia membuka matanya. Wajah budhenya yang pertama dilihatnya. Perempuan itu membungkuk di atas tempat tidur Ipah. Di sampingnya, pakdhenya ikut membungkuk. Wajahnya sekhawatir saat ia menemukan Ipah dikelilingi bapak-bapak siskamling malam itu.
“Demam, ya? Kakinya dingin,” suara pakdhenya terdengar, Ipah merasakan ujung kakinya digenggam.
“Aduuh… Sik, tak panggil dokter Lina,” ujar suara budhenya risau.
“Baru aja demam, nggak usah panggil-panggil Bu Dokter. Ngerepoti saja. Biar Ipah tidur dulu. Nanti kalau sudah bangun minum anget-anget. Aku tak ke apotek beli obat demam. Sekalian beli bubur sama soto. Biar makannya enak.” Suara Pakdhe menjauh, bersama suara langkah-langkah. Lalu suara pintunya tertutup.
Ipah mencoba membuka mata, tapi kelopaknya terasa berat. Rasanya lebih berat dan panas ketimbang saat ia mulai memejamkan mata tadi. Sekarang ia kedinginan. Tapi sudah ada selimut yang membungkus tubuhnya. Ipah menarik selimut lebih erat ke tubuhnya. Ia merasa tetes keringat mengucur di keningnya ke pipi. Tapi kenapa ia merasa kedinginan?
Ipah tidak pernah sakit. Setidaknya sejauh yang ia ingat. Tubuhnya tahan banting, bangun subuh sebelum adzan, kerja dari subuh sampai sore, tidur malam. Asal makannya kuat, Ipah tidak akan sakit. Itu yang diyakininya. Selama di rumah Budhe, ia semakin kuat makannya. Hanya saja ia kurang bawa badannya bekerja. Itu dia. Ia kurang kerja. Tapi mau kerja bagaimana? Mau mengerjakan apa-apa tidak boleh. Ipah menggerutu dalam hati. Menempatkan Mbok Sum sebagai orang yang patut disalahkan atas sakitnya.