Saat pertama kalinya tidak naik kelas ke kelas lima, Ipah minta pindah sekolah karena malu. Emak tidak mengabulkan permintaan Ipah. Kata Emak, masuk ke sekolah baru biayanya banyak. Emak juga bilang sekolah lain jaraknya cukup jauh dari rumah.
Maka di hari pertama tahun ajaran baru kala itu, Ipah melangkah masuk ke halaman sekolah sambil menunduk. Bahkan tanaman-tanaman di sana seakan mengejeknya. Ia duduk di kelas yang sama seperti tahun sebelumnya, bersama teman-teman yang dulu adalah adik-adik kelasnya. Tanpa Evi dan teman-teman seangkatannya. Ipah belum pernah sediam itu di sekolah karena ia memang bukan anak yang pendiam. Dari jendela kelasnya, ia bisa melihat Evi mengobrol dan tertawa-tawa bersama teman-teman yang sudah duduk di kelas enam. Serasa dunia bergerak, dan ia diam di tempat.
Tahun ajaran berikutnya, Ipah tidak naik ke kelas lima lagi. Kali ini bukan hanya malu yang ia rasakan, tapi juga muak. Rasa tidak sukanya pada sekolah sudah membuatnya ingin muntah. Lelah sekali dipandang sebagai anak bodoh terus-terusan setiap hari. Ipah merasa di sekolah tak ada celah untuk membuktikan pada semua bahwa ia bukan anak bodoh.
Pagi in perasaan itu diputar kembali. Setelah setahun benar-benar bebas dari tempat bernama sekolah, ia tak mengira harus masuk ruang kelas yang isinya wajah-wajah yang tak dikenalnya.
“Hari ini Budhe antar naik motor,” kata Budhe sambil merapikan rambutnya di depan cermin di dinding ruang makan. Seperti biasa, Budhe berdandan rapi. Bedak tampak melapisi wajahnya dengan rata. Dua alisnya, yang tanpa pensil alis akan samar terlihat, pagi itu tergambar simetris seperti tiap kali ia meu meninggalkan rumah. Lipstik merah kecokelatan memenuhi bibirnya yang lebar, mirip bibir Ipah. Ia melangkah mundur menjauhi cermin, agar setelan blus dan roknya kelihatan di cermin.
“Nanti di jalan jangan ngelamun. Kamu hapalkan jalannya, siapa tahu besok-besok pas nggak ada yang bisa ngantar, kamu bisa jalan sendiri ke sekolah. Nggak jauh, kok.”
Kali ini Budhe tidak bohong. Dalam waktu lima menit lebih sedikit, Ipah dan Budhe sampai di sekolah barunya. Perutnya seperti ditekan saat ia melihat anak-anak berseragam berlarian di halaman sekolah. Ia tidak mau memergoki siapapun menatapnya, maka ia berjalan menunduk, sementara tangannya menggandeng tengan Budhe. Persis seperti anak TK diantar ke sekolah untuk pertama kalinya. Kepalanya terus menunduk sementara matanya sesekali melirik tulisan di depan masing-masing pintu ruangan. Kelas 1… 2… 3… 4…
Itu dia. Tapi Ipah tidak tahu harus duduk di bangku yang mana, dengan siapa.
Rustini bisa menangkap rasa cemas keponakannya. “Tunggu di depan kelas aja. Budhe tunggu sampai masuk kelas,” katanya.
Lima menit yang lama sekali berakhir saat bel sekolah berbunyi nyaring, dan Budhe menyapa guru yang berjalan ke arah ruang kelas lima. Ipah tak mengerti apa yang mereka bicarakan karena mereka bicara dalam Bahasa Jawa. Bu Guru yang disapa Budhe tersenyum lebar dan mengangguk-angguk sebagai respon. Dengan malu, Ipah menyalaminya tanpa menyebut namanya.
Ipah ingin sekali meminta Budhe menunggu sampai jam pulang sekolah. Tapi saat Budhe pamit pergi, Ipah hanya mengangguk. Gurunya sudah mengajaknya masuk kelas dan tak ada lagi murid-murid tersisa di luar ruangan.
Semua mata benar-benar menatapnya saat ia berdiri di depan kelas saat gurunya memperkenalkannya pada seisi kelas.
Ipah menyebutkan namanya dengan lirih dan cepat, sambil menunduk. “SYARIFAH,” ulang gurunya keras-keras, memastikan semua murid bisa mendengarnya. “Biasa dipanggil Ipah.”
Beberapa wajah tertawa mendengar itu dan mata Ipah menangkapnya. Perutnya terasa melilit dan panas. Ia ingin pulang saja. Jam dinding kelas menunjukkan pukul 7.20. Ia masih harus berada di situ lima jam lagi. Semoga jajanan di warung sekolah ini enak-enak, batin Ipah. Segera mengalihkan pikirannya ke satu hal yang pasti bisa membuat perasaannya lebih enak. Hanya jajan yang ia harap bisa menyenangkan di tempat ini.
Gurunya menyuruhnya duduk di sebelah murid perempuan berkepang dua yang duduk di samping tembok, baris kedua dari belakang. Anak perempuan itu memandang Ipah sekilas saat Ipah duduk di sebelahnya. Di belakang mereka, duduk dua anak laki-laki-yang satu bertubuh besar dan berambut tebal, satu lagi kurus dengan rambut lurus tipis yang potongannya tak beraturan. Keduanya memperhatikan Ipah sejak ia berdiri di depan kelas.
Suara gumaman memenuhi kelas saat guru mereka duduk di meja guru dan membuka-buka buku absen. Baru kembali hening saat guru mereka mulai memanggil satu per satu nama lengkap murid-muridnya. Satu per satu anak mengangkat tangan saat namanya dipanggil.
Ipah merasa punggungnya disodok-sodok, tapi pelan. Refleks, ia menoleh ke belakang.
Anak laki-laki bertubuh besar itu menyeringai padanya.
“Eh, kamu pindah ke sini karena nggak naik kelas, ya?” tanyanya.
Teman sebangkunya menutup mulutnya, tapi kerut-kerut di sekitar matanya menerjemahkan seringainya.
Tengkuk Ipah langsung terasa panas. Kaget yang luar biasa membuat Ipah tidak tahu harus merespon apa. Ia semakin ingin keluar dari ruang kelas, lari ke gerbang, terus sampai ke rumah.