“Taraaaa!”
Stef melepaskan tangannya yang sedari tadi menutupi mata Ipah, sesampai mereka di kamar Stef. Kedua tangan Stef kini terjulur, mempertontonkan salah satu sisi kamarnya yang sudah ia persiapkan untuk Ipah.
Senyum Ipah mengembang kagum dan tersanjung. Tersanjung karena Stef sudah repot-repot mempersiapkan semua itu untuknya.
Di satu sisi tembok kamar Stef terpampang papan tulis putih bersih, wadah serupa gelas besar menggantung di sisinya, berisi spidol-spidol besar. Di hadapan papan tulis, ada meja belajar Stef yang sudah digeser dari tempatnya di sudut ruang kamar, dilengkapi dua kursi. Satu kursi tampaknya adalah pasangan si meja, sedangkan kursi satu lagi sama persih dengan set kursi di ruang makan keluarganya.
Di meja, setumpuk buku pelajaran, kertas buram, pensil-pensil, penghapus, serutan, tertata rapi. Bahkan ada kaleng kue, dua gelas kosong dan sebuah dua botol kaca, satu berisi air putih yang kelihatannya dingin dan dua botol kaca berisi minuman berwarna merah.
“Aaah… Fanta!” Ipah berseri-seri menoleh ke Stef.
Stef mengangguk-angguk cepat, senyumnya lebar sekali, “Bisa tambah susu bendera kalau kamu mau, es batu juga ada.”
Ipah bersorak, sambil memandangi “ruang kelas” buatan Stef.
“Waaa… Kece bangeet!”
Stef tergelak, “Silakaaan!” Stef menarik kursi belajar supaya Ipah duduk di situ. Ujung-ujung bibirnya masih tertarik ke arah telinga, membuat kedua matanya terlihat hanya segaris saja.
Stef sengaja meluangkan waktu Sabtu sorenya untuk Ipah. Waktu senggang yang biasanya ia gunakan untuk bersantai membaca buku komik atau menonton TV.
Bukan hanya tampilan kamarnya yang Stef buat lain-Ipah memperhatikan lebih cermat-penampilan Stef juga sore itu lain. Stef menggulung rambut panjangnya ke atas, menjepitnya dengan jepitan berpita besar-Ipah yakin milik ibunya-berwarna putih, menyisir poninya ke samping. Ia memakai atasan blus berbahan lemas dan jatuh warna krem yang hari Minggu lalu Ipah lihat dipakainya saat berangkat ke gereja-dipadukan dengan rok span hitam, milik ibunya tapi pas di badan Stef karena memang ibunya bertubuh mungil, sedangkan mulai 10 tahun Stef sudah menyusul tinggi ibunya.
Stef tampil seperti… guru. Sekarang Ipah paham.
Stef mengatur duduknya di kursi yang diposisikan berseberangan dengan Ipah.
“Sebelum kita mulai belajar sore ini, sebaiknya kita buka dengan doa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” kata Stef, kedua tangannya mengatup di depan dada dan memejamkan mata.
Ipah merasa agak canggung dengan keformalan Stef, sambil tersenyum geli ia menuruti apa yang diucapkan temannya yang sore ini jadi gurunya.
Ipah mengangkat kedua tangannya dan membaca Al-Fatihah dalam hati.
Saat Ipah mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya, Stef sudah mulai menata kertas buram serta alat tulis di hadapan Ipah, serta dua buah buku. ‘Matematika kelas 5’, judul salah satu buku itu. Stiker-stiker huruf menempel pada sampul plastiknya yang sudah buram. STEFANIE. Satu lagi ternyata buku tulis catatan matematika milik Stef sewaktu ia masih duduk di kelas lima.
Ipah melongo sambil membuka-buka buku catatan Stef. Tulisannya rapi sekali. Ditulis dengan bolpen warna-warni. Tak pernah ia mengira catatan pelajaran bisa seindah begitu. Di sudut-sudut, atau pinggiran halamannya terkadang digambari hiasan bunga atau kartun yang lucu.
“Bagus banget catetannya!” Ipah tak bisa menyembunyikan rasa takjub. “Kamu masih nyimpen buku kamu waktu kelas lima?”
“Iya, kadang masih aku baca-baca,” jawab Stef santai.
Ipah mendongak dan melongo menatap Stef, “buat apa?”
“Ya biar nggak lupa aja.”
“Hah?”
Stef hanya nyengir.
“Sudah, ayo kita mulai. Nanti kalau mamaku tiba-tiba masuk pas kita lagi ngobrol terus, jangan-jangan kita nanti nggak boleh belajar bersama lagi.”
Sebenarnya tidak tepat jika disebut belajar bersama, karena disini hanya Ipah yang belajar, sedangkan Stef mengajarinya seperti guru.
Ipah mengeluarkan alat dan buku tulis dari dalam tasnya. Semua baru. Dibelikan Budhe. Meski hatinya sama sekali tidak menyambut ide untuk sekolah lagi, ia senang sekali dibelikan barang-barang yang dulu selalu diimpikannya. Dulu, hanya bisa ia pandangi di meja teman-teman sekolahnya. Halaman-halaman buku tulis barunya lebih tebal dari yang dulu dimilikinya. Tulisan Ipah tidak menyeplak ke permukaan belakangnya, Ipah sudah mengetesnya. Kertasnya tebal, halus, dan wangi.
“Sekarang kita belajar matematika dulu, karena kata kamu itu yang paling susah kan?” kata Stef.
Ipah tidak tahu bagaimana urutan tata pikir Stef. Kenapa ia harus mulai dari yang susah. Bukannya lebih enak mulai dari yang gampang? Di sekolah juga biasanya guru-guru menjelaskan dari yang gampang, bukan yang susah.
“Kok mulai dari yang susah? Yang gampang dulu, lah!” Ipah protes.