Ipah

Tika Sofyan
Chapter #19

Langit Terang

Orang rumah sudah terbiasa dengan wangi donat di pagi hari. Pakdhenya meminta Ipah menyisihkan dua untuknya setiap pagi. “Tapi Pakdhe beli lho, ya. Bukan minta.” Begitu katanya, sambil memberikan uang pada Ipah. Cukup untuk membayar dua donat per hari, selama satu minggu.

‘Syarat’ untuk Mbok Sum tentu saja sudah disediakannya di meja dapur. Baik Ipah dan Mbok Sum sama-sama paham dan sepakat soal ini. Sisihkan donat untuk Mbok Sum, Ipah bebas memakai dapur atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Kalau Ipah mau, dan sempat.

Kalau tidak pun, tidak ada yang memintanya. Apalagi protes.

Sesungguhnya semua penghuni rumah ini sudah tahu bahwa Ipah akhir-akhir ini jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah. Malah bisa sehari dilaluinya tanpa membantu Mbok Sum sama sekali. Paling ia hanya mencuci piring dan gelas yang dipakainya sendiri.

Itu karena akhir-akhir ini, Ipah sibuk.

Tugas-tugas dari Stef membuatnya sibuk sekali. Selain sekian banyak soal

latihan buatan Stef yang harus dikerjakannya, masih ada tugas-tugas yang harus dilakukannya. Misal, menghafal akar kuadrat, setelah berhasil menghafal perkalian di bawah sepuluh. Dengan aktivitasnya bersekolah setiap hari, ia sudah sibuk dan dibuat lelah oleh soal-soal dan tugas-tugas dari Bu Guru Stef.

Ipah tidak mau mengakuinya, tapi ia senang menjalani semua itu. Bukan sekolahnya, tapi bertemu Ningsih, Bambang dan Heri di sekolah. Bukan belajarnya, tapi bertemu dan mengobrol dengan Stef tiap satu atau dua kali seminggu. Juga cara Stef mengajar. Semua soal dan tugas dari Stef ia kerjakan karena tak mau mengecewakan Stef yang sudah rela memberinya les gratis.

Suatu kali Pakdhe pernah bertanya, “Gimana, Pah? Senang nggak sekolah?”

Ipah sadar betul hatinya senang, meskipun ia tetap tidak suka masuk ke ruang kelas untuk menyimak apa yang diterangkan oleh gurunya. Akan tetapi ia menantikan bercanda-canda dengan Ningsih, Bambang juga Heri.

Satu hal yang paling ditunggu-tunggunya di akhir jam sekolah adalah menemukan kotak donatnya kosong di warung sekolah. Isinya diganti dengan uang hasil titip jual di sana. Hasil jualan donat itulah yang ia kirim untuk Emak. Berhubung ia hanya pergi ke kios di hari Minggu saja, upahnya tak seberapa. Cukup untuk ia jajan di warung sekolah atau dekat rumah.

Emak masih belum membalas suratnya. Ini masih membuat Ipah sedih, tapi ia tidak mau memikirkannya lagi. Kalau bagi Ipah menulis surat itu sulit, apalagi bagi Emak. Banyak hal yang sebulan lalu dirisaukannya, sekarang tidak lagi. Kepalanya penuh dengan donat, Stef dan PR-PR yang diberikannya, Ningsih dan teman-teman lain di sekolah. Bahkan Mbok Sum pun sekarang sudah tidak membuatnya merasa terusik. Ia sudah terbiasa dengan m4uka masamnya. Gaya bicaranya yang ketus, karena bukan hanya kepada Ipah saja Mbok Sum bicara dengan gaya seperti itu. Dan beberapa kata sudah dipahami Ipah. 

“Banyak tertawa ya kamu sekarang. Pakdhe senang dengarnya,” komentar Pakdhe suatu sore.

Pakdhenya benar. Di sekolah, setiap hari ia tertawa-tawa bersama teman-teman barunya. Ia ikut tertawa ketika teman-temannya tertawa mendengarnya mencoba berbahasa Jawa. Ipah tertawa bersama mereka, tidak merasa ditertawakan. Begitu juga setiap belajar bersama Stef. Belum pernah sebelumnya Ipah menantikan waktu belajar. Stef membuat belajar bersamanya terasa menyenangkan dan tidak membuat Ipah merasa bodoh. Pelan-pelan, Ipah mulai bisa mengerjakan soal-soal matematika dari Stef. Minggu lalu, menjelang ulangan matematika pertamanya, Ipah merasa punya bekal. Merasa bisa mengerjakan beberapa soal yang setipe dengan soal-soal yang ia kerjakan bersama Stef. Namun perasaan yakin itu runtuh saat gurunya berdiri di depan kelas membawa setumpuk kertas ulangan yang sudah dinilai.

“Duh, aku berapa ya?” Ningsih mendesah cemas di samping Ipah.

Di belakang mereka, Bambang tampak tak bisa diam saking gelisahnya. Heri tampak pasrah. Ia sudah mengaku pasrah setelah selesai mengerjakan ulangan minggu lalu.

Bu Dinar mulai menyebut satu per satu muridnya, yang kemudian maju ke depan kelas untuk mengambil kertas ulangan mereka yang sudah dinilai.

Nilai-nilai ulangan matematika Ipah tidak pernah lebih dari 60. Hanya di kelas satu ia bisa mendapat nilai lumayan. Saat itu soal-soalnya hanya penjumlahan dan pengurangan. Dengan belajar bersama Stef, ada perasaan mampu ketika ia mengerjakan soal-soal ulangan, meskipun tidak semua soal bisa dikerjakannya.

Ningsih kembali ke kursi membawa kertas ulangannya dengan wajah muram, namun cengar-cengir menunjukkan nilainya pada teman-temannya setelah duduk kembali. Empat tujuh.

Tidak ada ekspresi sedih sama sekali di wajah Bambang saat menerima kertas ulangannya. Ipah menyangka Bambang dapat nilai bagus sampai kemudian anak laki-laki berbadan besar itu memamerkan kertas ulangan dengan nilai lima puluh bulat.

Heri tidak mau menunjukkan nilai ulangannya, tapi Bambang berhasil merebut kertas itu darinya. Lima dua.

“Syarifah!” Gurunya memanggil.

Ipah maju ke depan dengan hati pasrah seperti setiap kali nilai ulangan dibagikan untuknya dulu.

Disambarnya kertas yang disodorkan gurunya, dan cepat-cepat kembali ke mejanya.

Ningsih, Bambang dan Heri mencoba mengintip nilai yang ada di kertas ulangan Ipah.

Ipah melindungi kertasnya dari ketiga temannya.

Sambil menunduk, matanya mencari nilai yang ditulis oleh Bu Dinar.

“Berapa, Pah?” tanya Ningsih sambil mendesak Ipah.

“Hah?!” Ipah berseru.

Tahu-tahu kertas itu sudah pergi dari tangannya.

Bambang merebutnya.

“Wiiih… tujuh puluh!” Bambang berseru.

Ningsih menoleh pada Ipah sambil tersenyum lebar. “Waaah…”

Heri bertepuk tangan tanpa bersuara.

Ipah sendiri masih memproses kenyataan itu, bahwa ia mendapatkan nilai lebih dari lima puluh untuk ulangan matematika. Tidak pernah sebelumnya, kecuali di kelas satu, ia mendapatkan nilai sebagus itu untuk matematika.

Ningsih menepuk-nepuk bahu Ipah, “Hebat kamu! Mbok aku diajari, Pah. Aku juga pingin dapat nilai bagus.”

“Aku nggak belajar sendiri. Aku diajari tetanggaku,” jawab Ipah.

“Aku mau ikut belajar sama tetanggamu. Bayar nggak, Pah?” Bambang menimbrung.

Ipah membalikkan tubuhnya, “nggak, sih.”

Lihat selengkapnya