Ipah

Tika Sofyan
Chapter #20

Langit Mendung

Dulu, Ipah pernah memelihara kucing yang ia temukan di jalan. Kucing itu ia beri nama Unyil dan ia pelihara selama setahun, dengan makan sisa-sisa makanan di rumah, sampai akhirnya kucing itu pergi dan tidak pulang lagi. Bahkan tidak Ipah lihat lagi di sekitar rumahnya, setelah ia cari sampai jauh dari rumah sekalipun. Kata ibunya, mungkin dipungut orang yang bisa kasih ikan tiap hari.

Saat Unyil masih tinggal di rumahnya, suatu hari ada kucing liar yang datang. Unyil berdiri bulu-bulunya, kupingnya rata dengan kepalanya, ia menggeram dengan suara berat yang sebelumnya belum pernah didengar Ipah. Kata Emak, ia tidak suka wilayahnya didatangi kucing lain. Unyil bertingkah seperti itu karena mau bilang pada kucing liar itu, bahwa ini adalah rumahnya, wilayahnya, miliknya. Unyil siap menyerang kalau-kalau kucing liar itu berani memasuki wilayahnya.

Ipah tidak menggeram atau mendesis saat ia melihat sepatu yang ia tahu betul siapa pemiliknya, tergeletak di depan pintu rumah Budhe dan Pakdhe. Telinganya tidak rata ke belakang, saat ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Ia juga tidak mulai melompat dan mencakar ketika melihat Rami duduk di ruang makan bersama Budhe Rus.

Kewaspadaannya penuh, dengan rapi ia tutupi. Sewaspada kucing dengan posisi tubuh yang siap menyerang kapan saja. Bagi Ipah, tidak mungkin Rami datang tanpa niat buruk. Tanpa ada maksud yang kelak akan merugikan Ipah. Ia yakin sekali kedatangan Rami didasari rasa iri karena Ipah sudah hidup enak di sini. Dan Rami tidak rela segala kesenangan itu dinikmati Ipah sendirian.

Rami pasti datang dengan rencana jahat. Ipah yakin itu.

*

“Lha ini, Ipah udah pulang,” seru Budhe Rus. “Kok nggak kedengaran suaranya tadi? Tahu-tahu udah di dalam rumah.”

Jelas mereka baru selesai makan, karena Mbok Sami tengah mengangkat piring-piring kosong bekas mereka.

Rus tergelak. Tawa khas yang selalu terdengar saat hatinya sedang gembira.

Ipah tak menggubris pertanyaan Rustini. Matanya tertuju pada kakaknya. Mulutnya terbuka, menunggu perintah dari otaknya untuk menyuarakan sesuatu. Tapi tak ada. Namun Rustini juga tak menunggu jawaban Ipah. Ia mengelus bahu Rami yang duduk di sampingnya.

“Ini, lho… ada kejutan! Nggak kabar-kabar kok tahu-tahu ada di sini. Rami… Rami…” Budhe tertawa lagi.

Ipah masih berdiri di tempat. Tidak bergabung bersama mereka di meja makan. Meski dalam perjalanan pulang tadi ia sudah membayangkan masakan enak Mbok Sum.

“Kok Budhe nggak ke pasar?” Ipah tidak merespon kehadiran Rami.

“Budhe tadi baru mau berangkat, eh, taunya Rami dateng. Ya, sudah ah. Budhe mau libur dulu, ada ponakan Budhe satu lagi dateng.”

Sama seperti Ipah, Rami sendiri juga tidak mengatakan apa-apa. Tidak menyapa Ipah. Sesekali tersenyum bila namanya disebut oleh Budhe.

Mereka saling menatap. Mereka tidak pernah punya ikatan yang kuat. Saling menyukai pun tidak. Namun Ipah yakin kakaknya bisa membaca pikirannya saat itu. Ipah yakin Rami bisa menangkap pertanyaan di benaknya.

Lo ngapain di sini?

“Pah?” panggil Rus.

Budhenya seakan membuyarkan telepati dingin antara Ipah dan Rami.

“Kakaknya dateng kok nggak disalami. Salim dulu, udah lama nggak ketemu,” kata Rustini.

Ipah juga yakin Rustini tahu pasti bahwa ia dan kakaknya tidak pernah saling bersikap hangat. Tapi Budhe Rus selalu bersikap seolah-olah itu tidak nyata.

“Eh, mau ke kamar mandi dulu, Budhe. Kebelet pipis,” sahut Ipah sambil mengeloyor pergi.

“Habis itu langsung ganti baju,” seru Budhenya.

Di kamarnya, ada barang-barang yang tadinya tak ada di sana.

Tas travel ukuran kecil yang risletingnya terbuka, isinya baju-baju yang tertata rapi. Ipah tak mengenal tas itu, tapi ia tak perlu bertanya siapa pemiliknya. Di kursi belajarnya, menggantung jaket coklat berbahan tebal.

Lihat selengkapnya