Jakarta, 1986
“Pinter banget anak Bapak,” kata bapak sambil mengelus-ngelus kepala Ipah yang tengah menikmati rambutan hasil panen Rami di halaman Bu Meri. Ini kesekian kali Bapak memuji-muji setelah Ipah membawa pulang uang seribu.
Rami menggigit daging buah rambutan sambil melirik Bapak dan adiknya yang tak berhenti tersenyum-senyum bangga sejak tadi. Saat dia membawa seplastik penuh rambutan tadi, ada rasa hangat di hatinya ketika melihat Bapak dan Emak tersenyum senang melihat apa yang dibawanya ke rumah. Ada kebanggaan saat melihat orang tuanya duduk menikmati hasil upayanya, yang hanya berlangsung beberapa menit saja sampai Ipah pulang membawa selembar uang.
Rami mengambil plastik rambutan yang tinggal berisi beberapa butir saja. Ia memutar dan mengikatnya sebelum kemudian beranjak.
“Ih, mau dibawa kemana?” protes Ipah.
“Mau disimpen buat besok lagi,” sahut Rami. “Kan ini gua yang metik sendiri.”
“Iiih… pelit!” umpat Ipah.
“Mi, kasih dikit lagi lah adiknya. Kan Ipah baru makan sedikit,” bujuk Bapak.
“Nggak. Ini punya Rami,” sahut Rami dari dapur.
Ipah baru akan melanjutkan aksi protesnya pada Rami, tapi ia teringat hadiah yang didapatnya dari pesta ulang tahun Mici tadi. Tangannya menepuk-nepuk pelan dadanya sendiri, pas di tempat ia menyembunyikan coklat di balik bajunya. Masih ada. Masih aman. Tapi bagaimana caranya ia bisa aman menikmati coklat itu sendirian tanpa dilihat kakaknya? Ipah berpikir dan berpikir, mencari ide tempat persembunyian. Di rumahnya hanya ada empat ruangan. Ruang depan, satu kamar tidur, ruang dapur sekaligus ruang makan, kamar mandi. Di mana kira-kira ia bisa makan coklat dengan aman?
Ipah berlari ke kamar dan menutup pintu cepat-cepat. Kamar tidur sempit dengan dipan besi yang cukup untuk dua orang—kalau tidur berhimpit—itu penuh dengan barang. Lemari kayu tinggi ramping tak pernah bisa ditutup rapat. Selain isinya sudah terlalu banyak menampung pakaian mereka berempat, engsel pintunya memang sudah rusak dan tidak pernah diperbaiki. Seprai, selimut, handuk bersih dan baju-baju yang tak muat ikut masuk ke lemari, bertumpuk dan bersandar ke dinding kamar. Selebihnya kotak-kotak bekas sepatu dan barang-barang yang Ipah sendiri tak tahu apa, menumpuk di sudut kamar. Ipah berputar, menengok kanan dan kiri, atas dan bawah. Apa di bawah tempat tidur? Di dalam lemari? Di dalam kotak bekas sepatu?
Ipah masuk ke kolong tempat tidur yang bagian sisi kiri dan kepalanya menghimpit ke tembok. Dia menggeser-geser tubuhnya sambil menelungkup ke sudut tembok, di bawah kepala ranjang. Dikeluarkannya bungkusan coklat dari balik bajunya, dan ditaruhnya coklat itu di sudut. Dengan hati-hati, dipastikannya coklat itu berada pas di pinggir tembok, di sudut sekali. Di bagian yang gelap.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ipah refleks menahan napasnya. Sepasang kaki melangkah dari pintu ke pinggir tempat tidur. Kaki Rami. Jantung Ipah berdegup kencang. Dipejamkannya matanya kuat-kuat. Telapak kedua kaki Rami bergesekan dengan lantai, lalu berhenti. Ipah membuka satu matanya dan melirik ke celah antara tempat tidur dan lantai. Rami berdiri diam di situ. Apakah Rami tahu dia ada dibawah tempat tidur? Pikir Ipah.
“Rami!” Suara ibu memanggil dari luar kamar. Tapi Rami tak bergeming. Masih berdiri di situ.
“Rami! Sini bentar,” ibunya memanggil lagi.
Kali ini Rami memutar kakinya.
“Iyaa… bentar,” sahut Rami sambil melangkah keluar kamar.
Ipah menghembuskan napas lega. Dengan cepat ia merayap seperti kadal keluar dari bawah tempat tidur. Bangkit sambil tersenyum bangga pada misi penyelamatan coklatnya. Membayangkan coklat itu meleleh di dalam mulutnya besok saat Rami sudah berangkat sekolah.
*