Stef tidak punya waktu banyak siang itu. Ia hanya punya waktu setengah jam untuk mengerjakan PR-nya sebelum guru lesnya datang. Tapi ia mempersilakan Ipah datang mendengar Ipah gelisah di telepon tadi.
“Kamu ke sini aja. Aku sambil bikin PR,” kata Stef dengan cepat dan langsung menutup telepon.
Dan itulah yang dilakuan Ipah. Dalam tiga menit, Ipah datang ke rumah Stef dan langsung masuk ke kamarnya seperti biasa. Seperti kendaraan yang remnya tidak berfungsi, Ipah menyerocos tentang Rami selagi Stef menunduk di atas buku tulisnya. Mengerjakan soal-soal sambil mendengarkan temannya berkeluh kesah.
“...dia pasti dateng ke sini karena tau aku idup enak di sini. Begitu dateng aja kerjaan aku di kios langsung diambil. Jahat banget, dia itu. Gayanya sok diem, sok nurut, sok sopan sama Budhe-Pakdhe. Liat aja ntar lagi ngelunjak.”
Stef mengangkat kepalanya.
“Yang jahat itu pikiran kamu,” cetus Stef sebelum kembali menunduk dan membaca buku diktatnya. “Bukannya kalo kakakmu gantiin kamu kerja di kios, kamu jadi punya waktu istirahat? Jualan donatmu di sekolah laris terus, to? Lebih banyak dari bayaranmu di kios yang cuma hari Minggu itu.”
Mulut Ipah terbuka, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari teman yang ia percaya akan membelanya.
“Kamu nggak tau Rami aja,” bantah Ipah. “Budhe sama Pakdhe juga pasti nggak nyangka Rami sejahat itu. Nggak tahu mereka, Rami tuh sirik banget sama aku dari dulu. Apa-apa punyaku diambilin. Tapi dia nggak mau bagi-bagi apapun yang punya dia. Aku kan tulis surat buat Emak. Dia pasti tau dari Emak kalo aku di sini enak. Makan enak tiap hari. Punya kamar sendiri. Dia pasti nggak terima aku bisa idup lebih enak dari dia.”
Stef mengangkat kepalanya lagi sambil mengerutkan keningnya. “Sirik-sirikan antara kakak adik itu kan biasa. Tapi sirik nggak bisa disamakan sama jahat.” Stef kembali menulis.
Ipah beranjak dari duduknya di lantai kamar Stef. Sambil menggerak-gerakkan tangan dan mondar-mandir di kamar Stef, ia menceritakan kisah pedih ketika coklat miliknya dicuri Rami. Lalu bagaimana Rami sama sekali tidak pernah mau membagi uang gajinya untuk keperluan rumah.
Stef mendongak. Menatap Ipah dengan serius. “Beli makanan untuk keluarga itu bukan kewajiban dia. Itu kan kewajiban orang tua. Kewajiban papamu. Kalau dia mau pakai sendiri uang gajinya, ya itu hak dia, lah. Kalau kamu mau beli lauk untuk keluargamu pakai uangmu, itu juga hak kamu. Tapi bukan kewajiban kamu.”
Stef menoleh pada jam dinding di kamarnya. Jarum panjangnya sepuluh menit lagi mencapai angka dua belas. Ia kembali menekuni PR-nya.
Kuping Ipah panas mendengar apa yang dikatakan Stef. Panasnya menjalar ke tengkuk dan punggungnya.