Ipah harus berbohong pada teman-temannya, “Stef nggak bisa ngajar besok Sabtu. Lagi banyak PR dan ulangan, katanya.”
Kenyataannya, Stef selalu banyak PR dan ulangan, tapi ia terus berusaha meluangkan waktu untuk mengajar Ipah dan teman-temannya. Itu disadari Ipah sesampainya di rumah setelah pertengkarannya dengan Stef kemarin. Rasa bersalah selintas mampir. Tapi ini salah Rami, bantah Ipah dalam hati.
Bagi Ipah semua masalah ini tidak akan muncul kalau Rami tidak datang, karena Rami bawa sial. Sepanjang jalan ke rumah, Ipah menggerutu dalam hati. Teman-temannya sepakat mau belajar bersama di rumah Ningsih sore itu. “Ganti suasana,” kata Ningsih, sambil tersenyum lebar. “Nanti aku minta ibuku siapkan pisang goreng,” tambahnya. “Jangan lupa es teh, ya, Sih,” sahut Bambang. Ningsih sudah menggambarkan peta ke rumahnya dari sekolah. Juga menuliskan alamat lengkapnya. Ia tampak senang sekali teman-temannya mau datang ke rumah. Melambaikan tangannya pada Ipah dengan bersemangat saat mereka berpisah di belokan. Ipah membalasnya dengan anggukan karena tangannya sibuk memegang bungkus bakso kojek. Dengan mulut penuh dan mengunyah pentol bakso dari tepung itu, Ipah mengangguk-angguk ke arah Ningsih sebelum membalikkan badannya. Ipah akhir-akhir ini ingin makan terus, melebihi nafsu makan sebelumnya. Sejak Rami datang, tepatnya. Ipah menyimpulkan kekesalannya membuatnya lapar terus.
Ipah membuang bungkus plastik bekas bakso kojeknya ke tempat sampah yang dilewatinya. Kemudian kotak donat kosong yang sedari tadi dikempitnya ia lemparkan rendah ke atas, lalu ditangkapnya. Jualan donat hari ini sisa dua, tapi ia senang karena ia lapar. Ningsih melongo melihat temannya melahap dua donat hanya dua kali suap. Dilanjutkan membeli sebungkus bakso kojek di depan sekolah. Itu juga dihabiskannya dengan cepat sambil jalan.
Hasil penjualan donat yang bisa ia kirim untuk Emak berkurang sedikit karena Ipah tak sanggup menahan diri untuk tidak jajan. Tiap hari ada saja yang ingin dimakannya di luar jam makan di rumah, dan Ipah tak sanggup melawan keinginan itu.
Seharian, Ipah sibuk memikirkan apakah sebaiknya ia menelepon Stef untuk minta maaf. Supaya Stef mau kembali mengajari mereka sore nanti. Tapi memangnya dia salah apa, pikirnya. Ia punya hak untuk kesal karena Stef yang bahkan tak mengenal Rami itu malah membela Rami. Mengatainya berpikiran negatif. Ipah mendengus tanpa sadar. Sebenarnya, Ipah juga merasa terlalu malu karena menangis di depan Stef hanya karena Stef tidak menggubrisnya kemarin. Ia heran sendiri kenapa ia jadi secengeng itu. Belum sampai ia memutuskan untuk menelepon Stef atau tidak, Ningsih mengumumkan sore itu ia mengundangnya, Bambang juga Heri untuk berlajar bersama di rumahnya.
Ipah melangkah ke halaman rumah sambil membayangkan pisang goreng yang dijanjikan Ningsih untuk nanti sore. Garasi terbuka hampir separuh. Terlihat kaki-kaki Mbok Sum ditemani sapu yang bergerak ke kanan dan kiri. Pakdhe dan Budhe beberapa hari lalu pamit akan ke Semarang hari ini. Makanya mobil Pakdhe tidak ada di garasi, dan rupanya Mbok Sum memanfaatkan keadaan itu untuk membersihkan lantai garasi.
Tapi motor Budhe, yang sudah sering dipakai oleh Rami untuk ke kios, terparkir di depan rumah. Tak biasanya motor itu diparkir di situ, seakan diparkir untuk sementara saja.
Tiba-tiba Rami keluar dari pintu depan, mencangklong tas kecilnya dan sebuah bungkusan besar. Jelas ia buru-buru. Berjalan cepat melintas di depan Ipah dan bergegas ke motor. Ia mengaitkan bungkusan plastik hitam besar itu di bagian depan motor sebelum cepat-cepat menyalakan motor dan berlalu.
Ipah mengawasinya sampai Rami tak terlihat lagi. Aneh, pikirnya. Harusnya Rami sudah di kios sejak tadi pagi. Kenapa siang begini ada di rumah? Segala pikiran buruk berseliweran di benak Ipah. Bungkusan apa yang dibawa Rami tadi? Ipah merasa ada yang salah.
Di kamar, Ipah menemukan barang-barang Rami sudah tidak ada di meja belajar, meja Rias. Baju-baju yang biasa digantung di gantungan pintu juga tidak ada. Tas travel Rami tampak penuh dan restletingnya tertutup, di atasnya ada bungkusan plastik yang disusun rapi. Keduanya ditaruh di dekat pintu kamar, seolah siap dibawa pergi. Naluri menggerakkannya pergi ke kamar mandi untuk memeriksa apakah peralatan mandi Rami masih ada di sana. Tapi sikat gigi, juga shampo yang biasa dipakai Rami juga tidak ada.
Ipah spontan menyimpulkan Rami sudah mau pergi dari rumah ini, tentu saja. Tapi Budhe dan Pakdhe tidak menyinggung apa-apa soal ini kemarin. Mereka hanya pamit mau ke Semarang untuk menghadiri undangan pernikahan, dan berpesan pada orang rumah agar menjaga rumah. Itu saja.
Tanpa pikir panjang, Ipah berlari keluar rumah. Tas ransel masih menggantung di punggungnya. Dengan gesit memasukkan kaki-kakinya ke dalam sepatu lalu berlari hingga ke jalan besar. Ipah sudah melewati jalur ini ratusan kali sekarang, tidak tersesat seperti saat dulu ia mau kabur. Serasa berjodoh, bus yang harus ditumpanginya untuk sampai ke pasar tiba bersamaan saat ia tinggal beberapa langkah menuju halte. Dengan napas terengah ia menaiki bus itu.
Rami pasti sudah hampir sampai di pasar sekarang, Ipah yakin sekali.
Ipah tidak langsung ke kios setelah masuk pasar. Ia berdiri di ujung lorong tempat kios budhenya berada. Bersembunyi di balik tumpukan barang dagangan kios yang ada di dekatnya. Memposisikan dirinya aman, dan bisa lumayan jelas melihat kios Budhe. Awalnya Rami tidak terlihat. Tapi kemudian ada seorang laki-laki datang. Ipah tidak kenal siapa orang itu. Lalu Rami muncul dari dalam kios, dan memberikan bungkusan hitam besar yang tadi dibawanya dari rumah pada laki-laki itu. Laki-laki itu memanggul bungkusan itu di pundaknya dan pergi. Apa yang diberikan Rami pada orang itu? Ipah tidak ingat pernah melihat laki-laki itu selama masih bekerja di kios budhenya.
Pelan-pelan, Ipah berjalan mendekat ke kios. Mencari sudut pandang di mana ia bisa melihat gerak-gerik Rami di dalam kios, lalu merunduk. Ipah bisa melihat Rami menghitung lembar-lembar uang di tangannya karena tubuh Rami menghadap keluar kios.
Rami memasukkan uang yang sudah selesai dihitungnya ke dalam tas kecilnya. Ipah mengerutkan keningnya. Budhe Rus punya dompet khusus untuk menyimpan uang hasil penjualan kios. Kenapa Rami tidak memasukkannya ke dompet itu? Kenapa memasukkan uang itu ke dalam tasnya sendiri? Ipah merasa mendapat bukti. Ia tidak yakin itu membuktikan apa, tapi ia benar bahwa Rami punya rencana tersembunyi. Ipah pura-pura melihat-lihat barang dagangan kios di hadapannya, sambil sesekali melemparkan pandangannya ke kios Budhe. Si penjaga kios memandangnya sekilas dengan malas. Pasti hanya menganggapnya anak SD yang iseng jalan-jalan. Mana ada anak SD belanja batik sendirian ke pasar.
Ipah melirik ke arah kios budhenya lagi. Rami tengah memasang kayu-kayu penutup kios. Kenapa Rami menutup toko siang-siang begini? Ipah mengawasinya sampai papan kayu terakhir terpasang. Penunggu kios di seberang kios Budhe melontarkan tanya, “Kok sudah mau pulang, Mbak?”
Ipah mendengar Rami menjawab, “Iya, Mbak. Harus cepet-cepet pulang.” Hanya itu jawaban Rami. Tidak menjelaskan kenapa ia harus cepat-cepat menutup kios sementara jam bukanya masih sekitar tiga jam lagi. Tapi ketika Ipah kembali mengintip ke arah kios Budhe, Rami sudah tak terlihat. Ipah cepat-cepat berjalan keluar pasar.
Dalam perjalanan pulang di bus, Ipah merangkai skenario dari semua yang dilihatnya. Rami diam-diam menjual barang di kios tanpa sepengetahuan Budhe, dan semua hasil penjualannya disimpannya sendiri. Tapi bagaimana dia menutup-nutupi ada barang sebanyak itu hilang dari kios? Budhe pasti tahu.
Tas travel Rami.
Ipah membelalakkan matanya. Rami sadar pasti akan ketahuan sudah menyelundupkan barang dagangan Budhe dan mengambil uangnya. Makanya ia bersiap-siap pergi setelah menjual diam-diam barang tadi.
Seperti ada lampu menyala di dalam kepala Ipah. Ada yang berteriak, “Itu dia!” di dalam dirinya. Tapi rasa keberhasilannya segera redup. Ia tersadar, bisa saja Rami sudah keburu pergi meninggalkan rumah membawa semua barangnya juga uang itu saat dirinya tiba di rumah. Halte tempatnya turun masih sekitar dua ratus meter lagi, tapi Ipah terlalu gelisah untuk duduk di tempat. Ia beranjak dan berjalan ke arah pintu di seberang supir bus duduk. Ia diam berdiri di situ. Seolah dengan berdiri, bus akan sampai lebih cepat.
Segera setelah bus melambat dan pintu bus terbuka, Ipah melompat turun.
Sambil berlari pulang, ia setengah berharap berpapasan dengan Theo yang tengah mengendarai motornya, supaya ia bisa menumpang dan sampai di rumah lebih cepat.
Setengahnya lagi ia bersyukur tidak bertemu dengan Theo, karena keringat yang mengalir deras di leher dan punggungnya saat ini pasti membuat badannya bau sekali. Tak peduli tadi pagi sudah dipakainya bedak ketiak yang dibelikan Budhe.
Ipah tidak mencopot sepatunya di teras seperti biasa setibanya di rumah. Ia menerobos pintu depan yang sudah terbuka dan langsung membuka kamarnya. Rami tidak ada di sana. Tapi tas travelnya masih ada. Ipah membalikkan tubuhnya, sambil berpikir keras. Ke mana Rami?
Pertanyaan yang langsung terjawab saat tiba-tiba pintu kamar Budhe dan Pakdhe terbuka dan Rami muncul dari sana. Kaget melihat Ipah yang sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangannya di pinggang. Dagunya terangkat.