Ipah

Tika Sofyan
Chapter #25

Bulan yang Datang, Rami yang Pergi

Pas tujuh hari setelah Rami pergi, menstruasi pertama Ipah berakhir. Ipah menyimpulkan dirinya tidak suka menstruasi sama sekali. Dan ia jadi paham kenapa Rami selalu jadi berkali-lipat lebih menyebalkan jika sedang haid.

Perut bagian bawahnya terasa nyeri seperti dicengkeram kuat-kuat sampai pinggang. Sekujur kakinya lemas dan ngilu. Terlalu lemah untuk turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi tiap kali pembalutnya sudah terasa penuh. Dua hari pertama, sakit kepala datang dan pergi. Hari ke tiga mulai mendingan, tapi ia tetap tidak suka segala kerepotan mengganti pembalut setiap buang air ke kamar mandi. Budhe malah menyarankan ganti pembalut setiap empat jam. Ipah melakukannya, itu pun kalau ingat. Pakai pembalut itu ternyata tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal di celana, dan gatal.

Saat baru tahu dirinya mendapat haid, Ipah merasa punya bahan bahasan baru untuk dibagikan dengan Stef. Langsung terpikir olehnya untuk berlari ke rumah Stef untuk menceritakan haid pertamanya. Lalu ia ingat mereka berdua sedang tidak saling bicara. Stef sudah haid sejak kelas 6 SD, ia pernah bercerita. Setiap kali jadwal belajar bersama bertepatan dengan hari pertama Stef dapat menstruasi, Stef selalu minta dijadwalkan di hari lain, dan tak keluar rumah seharian itu.

Dengan Budhe, sebagai respon dari keluh kesah dan cerita Ipah tentang pengalaman menstruasi pertamanya, ia mendapat banyak nasehat. Dan jamu.

“Kamu sekarang sudah besar. Bukan anak-anak lagi,” kata Budhe, yang sengaja menyuruhnya duduk bersamanya di meja makan dan memberinya sebungkus pil bulat-bulat hitam. “Ini jamu khusus untuk gadis. Supaya sehat peranakannya, tidak bau badan, juga mencegah jerawat. Kamu minum setiap hari. Sekali minum sepuluh butir.”

“Banyak banget, Budhe!” protes Ipah, langsung merasa tak sanggup harus menegak sepuluh butir pil setiap hari.

Budhenya merespon dingin, “memang segitu dosisnya.”

Sempat terpikir oleh Ipah untuk interlokal ke Jakarta. Mengabari Emak bahwa ia sudah gadis sekarang. Tapi bagaimana kalau Emak menanyakan Rami? Ipah tak mau berbohong dan mengarang cerita, tapi juga tak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan Rami.

“Rami dapat kerja di Jogja,” begitu penjelasan Budhe sepulangnya dari Semarang seminggu lalu.

Mbok Sum pasti langsung menceritakan semuanya pada Budhe dan Pakdhe. Sore itu setelah Mbok Sum mengajarinya memakai pembalut, Ipah hanya bisa tiduran di kamar. Terlalu kesakitan untuk melakukan apa pun. Mbok Sum mengantarkan makan dan jamu untuk diminumnya pada malam harinya, juga keesokan paginya. Ipah mencicip jamu itu sedikit dan tidak meneruskan untuk meminumnya. Dari baunya saja sudah bikin ia mual. Rasanya tidak terlalu pahit, tapi tajam dan hambar. Tentu saja Mbok Sum dengan galak memaksanya menghabiskannya. Menyodorkan gelas jamu itu ke dekat wajah Ipah, dan tidak mau pergi dari kamar Ipah sebelum Ipah menenggaknya habis. 

“Itu kunir asem,” kata Budhe saat ia menanyakan tentang minuman yang dibuatkan Mbok Sum. “Supaya mens-nya lancar, dan mengurangi nyeri.”

Ipah bertanya apakah ia harus meminum jamu kunir asem setiap sedang mens. Ia sangat tidak suka rasanya.

Budhe hanya tertawa dan mengatakan sesuatu pada Mbok Sum. Mbok Sum balas tertawa.

“Rami di Jogja kerja apa, Budhe?” tanya Ipah.

Ia menahan bertanya dari tadi, karena ia pikir budhenya akan menjelaskan lebih panjang, tapi ternyata tidak.

“Kerja di bengkel.”

“Bengkel? Jadi montir?” tanya Ipah.

“Ya, ndak… Jadi akuntan. Kebetulan temennya Pakdhe yang punya usaha bengkel baru buka cabang lagi. Jadi perlu tenaga kerja lumayan banyak.”

“Di Jogja tinggal sama siapa?”

“Ngekos.”

Lagi-lagi, Budhe menjawab singkat. Ipah menatap budhenya. Berharap wanita paruh baya itu mau bercerita banyak supaya ia tidak perlu bertanya banyak. Tapi Rus beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke meja telepon dan mengambil secarik kertas.

Ia menaruhnya di meja makan, di depan Ipah, “Ini nomor telepon Rami di Jogja. Ada nomor kosannya, ada nomor kantornya. Nih, kamu telepon saja.”

Belum terpikir olehnya untuk menghubungi Rami. Saat berbicara dengan Emak di telepon saja, mereka berdua sama-sama kebingungan mau bicara apa, padahal di rumah dulu ada saja yang mereka obrolkan. Apalagi bicara di telepon dengan Rami, yang hampir tidak pernah mengatakan apapun padanya saat masih tinggal bersama.

Ipah menyimpannya di meja belajarnya.

 

*

 

Sore itu Pakdhe membawa pulang kue bolu ukuran satu loyang besar. Sebelumnya Pakdhe sudah pernah membawakan Ipah bolu seperti itu. Marmer cake, kata Pakdhe. Pemberian seorang penggemar Pakdhe yang sudah sering mengirim makanan yang kemudian jadi rezeki Ipah. Dilahapnya sepotong. Lembut, enak sekali, Hanya saja lama-lama kerongkongannya terasa seret kalau tidak diselingi minum teh. Tentu saja Pakdhe memperbolehkan Ipah menghabiskan semuanya. Ada perasaan aneh di hati Ipah. Sementara ia tak perlu lagi berbagi makanan dan kamar dengan Rami lagi, ada yang membuatnya merasa ada yang tidak beres, atau belum selesai. Tapi Ipah tidak tahu apa. Disadarinya, ia tidak sepenuhnya lega setelah keinginannya agar Rami pergi dari rumah itu terkabul.

Diam-diam Ipah menata hatinya untuk bertanya lebih lanjut tentang Rami. Kata Budhe, Rami bekerja di bengkel milik teman Pakdhe. Tentu Pakdhe lebih tahu banyak tentang tempat kerja Rami. Ipah menyusun dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukannya, tapi ia kalah cepat.

“Teman-temanmu kok nggak belajar di sini lagi?” tanya Pakdhe, memecah diam.

“Stef sibuk,” jawab Ipah singkat.

“Oooh… Sibuk, ya,” kata Tarmin. “Lama juga ya sibuknya. Lama nggak lihat dia ke sini, atau kamu main ke rumahnya. Banyak ulangan ya Si Stef itu. Sekolahnya itu… sekolah yang ketat sekali aturannya. Nilai rata-rata harus di atas 80. Kalau tidak itu, tidak naik kelas.”

Ipah menggangguk-angguk, sambil terus mengunyah kue bolunya.

“Tapi kan kalau hari libur harusnya tetap istirahat, ya,” lanjut Pakdhe. “Refreshing.

“Ha? Apa, Pakdhe?”

Refreshing,” Tarmin mengulang lebih pelan. “Refreshing itu… artinya…” ia mencari padanan yang tepat. “Melepas lelah… santai… rekreasi… Istirahat dari rutinitas. Supaya pikiran dan badannya fresh lagi. Segar lagi.”

“Oooh… istirahat.” Ipah menyimpulkan cepat. “Refreshing,” ulah Ipah pelan.

“Terakhir main atau belajar sama kamu kapan?”

Lihat selengkapnya