Ipah

Tika Sofyan
Chapter #26

Rapor dan Surat

Ipah ingin waktu berjalan cepat tanpa ia harus melewatinya. Ia tak mau melewati ujian kenaikan kelas, tak mau belajar berjam-jam sambil cemas seperti yang dilakukannya dua minggu ini. Tapi di saat-saat yang tidak menyenangkan, waktu justru berjalan sangat lambat. Ipah memejamkan mata, dan dipijatnya matanya yang terasa pegal. Cukup dulu belajarnya malam ini.

Ipah dan teman-teman sudah kembali belajar bersama Stef, tapi Stef juga sedang bersiap untuk ujian kenaikan kelas, sehingga tidak bisa mengajar pada minggu menjelang ujian, dan selama ujian berlangsung. Stef memberi mereka soal-soal dan rangkuman untuk dihapalkan.

Di rumah, semua seakan bisa merasakan ketegangan Ipah. Sebentar-sebentar, Budhe mengetuk dan menengok Ipah di kamar. Pakdhenya mengajaknya istirahat belajar dan makan kue, tapi Ipah menolak. Tiap hari, Mbok Sum membuatkan lebih banyak masakan dari biasanya, mulai makanan berat dan camilan, dan memaksa Ipah untuk menghabiskan semua.

Baru kali ini ia berada di lingkungan yang orang-orangnya melihat apa yang diusahakannya penting. Proses ia belajar jadi terasa penting. PR, ulangan dan ujiannya penting. Ia tidak merasakan itu di rumahnya bersama keluarga intinya sendiri. Semua sama saja buat mereka, ujian atau tidak, sekolah atau tidak. Tidak pernah ada dukungan seperti yang ia rasakan sekarang. Sebagian dari dirinya merasa tidak berhak. Kenapa aku jadi manja begini? Ingin diperhatikan sebesar ini? 

Menjelang ujian, teman-temannya sering menelepon Ipah saat mereka sedang belajar dan mengerjakan soal dari sekolah maupun dari Stef. Seringkali mereka sama-sama kebingungan dan tidak yakin dengan jawabannya. Tapi ada yang melegakan dan menghibur saat mereka tahu mereka sama-sama tak bisa memecahkan soal, mencurahkan sekaligus menertawakan kebuntuan mereka.

Untuk kesekian kalinya, Budhe mengingatkan Ipah untuk menelepon Emak untuk minta doa restu sebelum ujian. Sejujurnya Ipah mau. Ingin sekali, malah. Tapi tiap kali ia menuju meja telepon, atau sudah duduk manis di depannya, ada perasaan berat yang menahan tangannya untuk mengangkat gagang telepon. 

Minggu ujian kenaikan terasa seperti minggu terlama seumur hidupnya. Tidak satu hari pun ia keluar kelas dengan perasaan yakin bisa mengerjakan soal-soal. Ketegangan itu mulai meluruh di hari-hari santai menjelang penerimaan rapor.

Malam sebelum penerimaan rapor, Ipah tidak bisa tidur sampai lewat tengah malam. Pikirannya dijerat oleh sebuah kalimat. Bagaimana kalau tidak naik kelas? Ia ngeri membayangkan akan dipulangkan ke Jakarta jika tidak naik kelas. Pikiran ini membuatnya tersadar ia sudah sangat nyaman di rumah Budhe, mengingat ia pernah lebih memilih kabur ketimbang harus sekolah. Sekarang ia tak bisa tidur karena mengkhawatirkan rapornya.

rapor harus diambil oleh orangtua atau wali. Maka Budhe hari itu ke sekolah Ipah untuk mengambil rapor. Ipah naik kelas. Ia tak bisa menahan tangis leganya. Rasanya tidak ada yang bisa menyaingi kegembiraannya saat ia melompat kegirangan bersama Ningsih, Heri dan Bambang yang juga naik kelas hari itu. 

Di rumah, Stef tak kalah girangnya saat tahu “murid-murid”-nya naik kelas semua. “Traktir aku Fanta, ya!” ujarnya sambil terbahak, dan kaget sendiri ketika keesokan harinya Ipah menanggapi candaannya dengan serius. Ipah datang ke rumahnya membawa empat botol Fanta.

“Dari aku, Ningsih, Heri dan Bambang,” kata Ipah.

Liburan dimulai, Ipah diperbolehkan ikut kerja di kios setiap hari. Tapi suatu hari, Ipah merasa malas ke kios, karena pekerjaan di kios terlalu banyak duduk dan bosan. Ia minta libur. Budhe mengizinkan. Budhe juga menekankan bahwa Ipah tidak harus kerja di kios. Budhe mengajaknya kerja di kios karena dulu Ipah yang minta. Anak-anak seharusnya tidak kerja, bergitu kata Budhe.

Di hari Ipah izin tidak kerja ke kios, Ipah mendapat surat. Ia sedang bermalas-malasan di teras saat Pak Pos datang dengan motornya. Ia sering melihat Pak Pos itu datang ke rumah Stef untuk memasukkan surat-surat ke dalam kotak pos rumah keluarga Stef.

Pak Pos menyerahkan sepucuk amplop untuknya. Ia tak percaya yang ada di amplop adalah namanya. Bukan Pakdhe atau Budhe.

Surat itu dari Rami di Jogja.

Jogja, 22 Juni 1991.

Apa kabar, Pah?

Lihat selengkapnya