Mata gadis terbelalak sangat lebar. Ia sampai mengucek-ucek matanya, berharap pemandangan di depannya hanyalah imajinasinya belaka karena ia kurang tidur beberapa hari ini.
Di tengah ballroom hotel yang dihias sangat megah, dengan lampu gantung mewah dan hamparan bunga segar untuk pernikahan Tantri,sepupu dekatnya, terlihat sosok wanita bergaun merah ketat melangkah masuk ke acara itu.
Gadis sangat terkejut karena wanita itu adalah Desi.
Seketika ingatan Gadis kembali ke masa SMA, saat Desi, musuh abadinya, menyebarkan gosip-gosip murahan karena iri padanya. Selama masa SMA, Gadis mengalami bullying dari teman-teman sekolah, dan sialnya, hari ini musuh bebuyutannya itu datang ke acara pernikahan sepupunya, Tantri.
Yang lebih membuat Gadis terkejut, di samping Tantri ada Jaka yang mendampingi Tantri masuk. Jaka adalah adik pengantin pria. Ia melangkah dengan setelan jas yang sangat rapi, lalu menebar senyum ke sana ke mari sambil sesekali mengangguk kepada para tamu undangan yang dikenalnya.
Gayanya terlihat menjiplak pejabat yang lagi turun gunung mengunjungi masyarakat yang tertimpa bencana, atau lagi melakukan program pembagian sembako gratis saat musim pemilu sudah tiba.
“Manipulatif,” Desis Gadis sinis.
Bibir Jaka terlihat tersenyum kepada semua orang yang ditemuinya, menunjukkan bahwa dia sangat percaya diri hari ini. Melihat hal itu, asam lambung gadis langsung naik seketika.
Hari ini seharusnya menjadi salah satu momen membahagiakan bagi Tantri, sepupunya, anak Pakde. Hari ini Tantri menikah dengan Bimo, kakak kandung Jaka.
Melihat dua orang yang tidak disukainya, gadis menahan diri untuk tidak melabrak dan menyeret Desi keluar dari tempat acara itu. Matanya menyipit tanda permusuhan, lalu ia memberikan tatapan ke arah Jaka, tatapan paling menyebalkan yang pernah ia miliki.
Kenapa pula manusia itu bawa musuh dia? Apa hubungan Jaka sama Desi? Apalagi orang kayak Jaka yang playboy, pasti gonta-ganti cewek. Iyuh, nggak banget deh bisa kenal sama orang begituan. Untung aja si Bimo baik. Kalau Bimo gayanya mirip Jaka, mungkin Gadis sudah menghasut Tantri biar nggak melanjutkan pernikahan dengan Bimo. Buah jatuh kan biasanya sepohon-pohonnya.
“Kak, kenapa sih mukanya pucat gitu?” Suara Dara, adiknya, membuyarkan lamunannya. Dara berdiri di sampingnya dengan heran melihat wajah gadis yang tadinya sumringah melihat pasangan pengantin, tetapi sekarang berubah menjadi emosi.
Gadis menjawab, “Gue baik-baik aja, Dar. Cuma… ya itu tuh, lu lihat ke sana,” bisiknya pelan, lalu menunjukkan tangannya ke arah Jaka.
Dara mengikuti tunjukan kakaknya, lalu berkata pelan, “Sebal sama Mas Jaka lagi nih, Kak? Emang dia ngapain lagi sampai bikin Kakak sewot sejak awal ketemu?”