Gadis nyaris saja mencekik leher Jaka saat pria itu dengan santainya melemparkan komentar menyebalkan barusan. Ketika baru saja bibir gadis terbuka lebar untuk membalas sumpah serapah paling kejam yang ia simpan dalam kepala sebuah suara lembut dan familiar mendadak menginstruksinya dari arah belakang
"Jaka, Gadis, kalian lagi ngobrol apa sih dari tadi? Kayak berantem gitu, Mama lihat," tanya Ibu Gadis.
Ibu gadis muncul tiba-tiba di antara mereka wajahnya terlihat sangat kelelahan kedatangannya membubarkan ketenangan ketegangan yang nyaris memuncak tadi wanita itu menatap anak sulungnya dan calon ponakannya secara bergantian dengan berkerut karena penasaran
Gadis dan Jaka serentak memandang satu sama lain dalam beberapa detik ekspresi wajah mereka berubah 180 derajat garis yang tadinya memasang wajah seperti ingin meninju dan melahap orang hidup-hidup langsung mengeluarkan senyum cantiknya yang pernah ada di muka bumi
"Eh, Mama," Gadis tertawa, meski suaranya belum stabil. "Nggak, Mah, kita nggak lagi berantem kok. Cuma ya gitu, lagi diskusi ringan aja sesama pekerja."
Jaka kemudian ikut-ikutan mengangguk, sambil memasang wajah tanpa dosa. "Wah, iya, Tante bener. Tadi kita lagi cerita-cerita soal dunia kerja orang dewasa. Gadis ini kan penasarannya tinggi banget, kepo banget. Suka nanya-nanya soal masakan, soal koki ke saya. Makanya tadi suaranya kencang banget, lapar kali, hehehe."
Gadis mendelik melihat Jaka, namun langsung berpaling dan memasang senyum ke ibunya.
Ibu Gadis menyipitkan mata, menaikkan sebelah alisnya, kelihatan tidak percaya. "Oh ya? Dari jauh mama lihat muka kalian berdua itu kayak orang mau adu jotos, mau tinju, bukan lagi diskusi kerjaan."
Gadis buru-buru menyenggol lengan Jaka dengan sikunya pelan tapi cukup keras untuk membuat pria itu meringis kesakitan. "Namanya juga tukar pikiran, Mah. Biar wawasan makin luas, biar nggak kayak katak dalam tempurung," ujar Gadis. Ia menatap Jaka tajam, memberi kode agar Jaka mengiyakan kata-katanya.
Jaka tertawa pelan sambil menggeleng kecil. "Betul, Tante. Ngobrol sama Gadis itu emang harus siap mental ekstra. Kalau nggak tahan banting, bisa-bisa mental kita hancur duluan sebelum dapat kesimpulan dari omongan dia."
Gadis melotot. "Enak aja! Gue itu cuma orang yang kritis dan berpikiran logis. Daripada ada orang yang hobinya ngeles mulu kayak bajaj," balas Gadis.
"Mending ngeles daripada dikit-dikit ngegas kayak motor kopling ngeblong," balas Jaka cepat tanpa rasa bersalah.
Dara yang sejak tadi jadi penonton dan berdiri di sebelah mereka mencoba menahan tawanya walaupun rasanya akan meledak. Bahunya bergetar.
"Aduh, kalian ini nih, kayak anak kecil," ujar Ibu Gadis.
Ia menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan anak-anak muda di depannya. "Udah, udah, kalian ini ya. Yang penting jangan beneran musuhan, lo. Di hari bahagianya Tantri sama Bimo. Ya, pamali ribut-ribut di acara keluarga, kata orang," tambah Ibu Gadis.
Belum sempat Jaka membalas dan akan menyindir gadis suara pengeras suara dari panitia pernikahan bergemuruh memecah riuhnya ruangan
"Kepada seluruh keluarga besar kedua mempelai, dipersilakan naik ke pelaminan untuk berfoto bersama. Ya, sekali lagi, keluarga besar dipersilakan merapat ke panggung."
Ibu menepuk punggung Gadis pelan. "Nah, yuk kita ke sana. Jaka, Dara, yuk kita segera naik ke pelaminan buat foto," ujar Ibu ramah.
Jaka langsung mengangguk. "Yuk, Tante," ujar Jaka. "Mari saya temani."