Gadis menjatuhkan sendok supnya hingga menimbulkan suara nyaring di dalam sebuah ruangan VIP restoran keluarga yang atmosfernya begitu tenang. Gadis mengejap-ngejapkan matanya berulang kali, berharap apa yang ia lihat hanyalah fatamorgana. Sekali lagi ini terjadi.
Seorang pria jangkung berjaket bomber baru saja mendorong pintu ruangan itu. Pria itu adalah orang yang sama dengan pria yang pernah ia sumpahi setahun lalu saat pernikahan Tantri, yaitu Jaka.
Jaka berdiri termangu di depan pintu, menatap tidak percaya dan tajam begitu melihat sosok wanita yang tertangkap oleh penglihatannya. Gaya slengean dan sikap santainya seketika lenyap, digantikan oleh ekspresi kesal dan kaget yang luar biasa.
“Lo?!” seru Jaka dan Gadis secara bersamaan, menunjuk diri mereka satu sama lain dengan telunjuk, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
Sudah satu tahun berlalu sejak insiden terakhir ketika Jaka berusaha menghindari Gadis dan kabur dari acara pernikahan. Selama beberapa bulan terakhir, Gadis berharap semesta berbaik hati agar tidak mempertemukan mereka lagi selama sisa hidupnya. Namun, kenyataannya, siang ini ia malah terjebak dalam satu ruangan yang sama atas perintah Bude, Ibu Tantri.
“Duduk, Jaka. Jangan berdiri terus di situ. Ngapain sih?” tegur Ibu Jaka dengan nada tenang, tapi tak bisa dibantah. Ia menepuk kursi kosong yang posisinya tepat di sebelah Gadis.
Jaka berjalan malas-malasan, menoleh dengan kasar, membuang muka, dan hanya berceloteh pelan sebelum akhirnya duduk di posisi paling jauh yang ia bisa dari Gadis. Sementara itu, Gadis sudah menjauhkan kursinya dan memalingkan wajah ke arah jendela. Ekspresinya penuh protes.
Gadis dan Jaka sama sekali tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan oleh Bude dan Ibu Jaka. Pertemuan ini pun tampaknya memang sudah direncanakan oleh kedua ibu itu secara diam-diam, sehingga baik Jaka maupun Gadis sangat penasaran akan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh dua orang yang mereka hormati itu.
“Bude panggil kalian berdua ke sini bukan untuk jadi penonton atau biarin kalian saling benci. Kok mukanya satu sama lain kayak gini?” Suara Bude memecah keheningan, terdengar lelah dan penuh beban pikiran.
Ia menatap Gadis dan Jaka bergantian dengan mata berkaca-kaca. “Rumah tangga Tantri dan Bimo sekarang di ambang kehancuran. Kalian sudah tahu, kan? Kalau kita nggak gerak cepat, urusannya bakal berakhir di perceraian.”