Beberapa hari setelah pertemuan penuh air mata di restoran itu, Jaka dan Gadis memutuskan untuk bertemu lagi. Mereka memilih sebuah kafe bernuansa industrial, tempat yang remang-remang dan dikelilingi banyak tanaman hias. Mereka sengaja memilih kafe itu agar tidak ada anggota keluarga mereka yang kebetulan lewat dan memergoki misi mereka kali ini.
Gadis, tentu saja, datang tepat waktu, bahkan tiga puluh menit lebih awal. Di atas meja, ia sudah membentangkan sebuah buku tebal dengan pembatas warna-warni, beberapa spidol, dan timeline yang dicetak rapi.
Gadis memang perfeksionis dan teliti. Sebagai seseorang yang terbiasa menghadapi tumpukan pekerjaan dan sering kali bekerja lebih keras daripada yang lain, ia jarang menolak pekerjaan tambahan dari rekan-rekannya. Akibatnya, gadis sering dimanfaatkan di kantornya.
Lima belas menit kemudian, Jaka datang dengan gaya menyebalkan, seperti biasa di mata gadis. Ia mengenakan polo hitam dan jaket bomber, sambil membawa es kopi susu di tangan kanannya. Tanpa mengucapkan salam atau sekadar basa-basi, Jaka langsung duduk di seberang Gadis, lalu meletakkan gelas minumnya di atas meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Halo, Mister Jaka. Anda telat lima belas menit,” sindir Gadis sambil melirik jam tangannya dan menunjukkannya lewat dagunya. “Ingat, loh, disiplin tuh nomor satu kalau kita mau nyelesaiin misi ini sebelum rumah tangga kakak lo itu bubar.”
Jaka tertawa dan menghela napas. Ia menyandarkan punggungnya dengan gerakan malas, Matanya melirik ke arah tumpukan kertas di depan gadis.
“Santai aja kali, Neng. Kaku banget. Ini bukan sidang wakil rakyat. Mukanya tegang-tegang gitu, nanti kerutan lo jadi banyak, loh.”
Gadis menatap Jaka gemas. Orang ini emang selalu punya jawaban atas semua pernyataannya. Jaka ini nggak bisa iyain aja apa yang gadis bilang, nyolot mulu.
“Gimana gue bisa tenang dan nggak tegang kalau partner gue kayak lo, datang telat, nggak tahu apa-apa, tampangnya juga sok innocent lagi,” balas Gadis sengit, lalu mengambil spidol hitam dan mengetuk-ngetukkan ke meja karena kesal.
“Siapa bilang gue nggak bawa persiapan?” Jaka tertawa santai. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan gadis. “Nih, data intelijen gue. Jauh lebih berguna daripada coret-coretan warna-warni ala anak SD nya elu.”
Gadis melemparkan senyum kesal, lalu mengambil ponsel itu untuk memeriksa isinya. Begitu melihat galeri foto di ponsel itu, alis gadis langsung terangkat. Di dalamnya terdapat beberapa riwayat transaksi digital, foto bill restoran dan hotel yang dibayar lewat kartu kredit atas nama Bimo pada jam-jam tidak umum, serta jadwal lain yang sangat mencurigakan.