Lapangan padel ini tampak lengang namun sangat mewah. Dinding kaca transparan mengelilingi lapangan itu, memantulkan cahaya terang dan menciptakan suasana elegan.
Gadis berdiri di pinggir lapangan, sesekali merapikan ujung roknya dan merasa sangat canggung karena ini pertama kalinya ia mengenakan pakaian olahraga ketat seperti ini, rok mini olahraga dan rambut diikat ekor kuda tinggi.
Tidak jauh darinya, Jaka baru saja keluar dari area loker. Ia mengenakan polo hitam dan celana pendek olahraga. Penampilannya membuat postur jangkung Jaka semakin terlihat profesional. Gadis melirik ke arah Jaka dan dalam hati kecilnya mengakui, “Gue akuin ya, jujur, Jaka ini ganteng juga, ya, kalau lagi gak berulah. kalo ga kenal dan baru ketemu bisa gue bilang dia tipe gue”
Gadis seketika terkejut dengan pikirannya yang aneh. Ya ampun gadis!! Bisa-bisanya mikir begini. Ingat, gadis dia itu musuh elu!
Jaka melangkah mendekat sambil menenteng dua raket di tangannya. Namun, tepat saat jaraknya tinggal beberapa langkah, ia tiba-tiba melambat. Ia menatap gadis dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya sedikit melemah.
Dalam hati, Jaka tertegun. Selama ini ia hanya melihat Gadis sebagai perempuan cerewet yang hobi memasang wajah judes dan selalu mengenakan pakaian formal. Tapi melihat gadis berpenampilan sporty dengan rambut dikuncir kuda, sisi feminin yang belum pernah ia lihat sebelumnya justru terpancar.
“Ternyata dia manis juga ya, kalau lagi nggak ngomel-ngomel,” gumam Jaka dalam hati.
Merasa diperhatikan tanpa kedip oleh Jaka, Gadis mendongak. Ia mendapati Jaka sedang menatapnya. Sontak, pipi Gadis merona, bukan karena kepanasan, melainkan karena salah tingkah dan canggung.
“Heh, kenapa lihat-lihat kayak gitu?” seru Gadis galak sambil berkacak pinggang. “Nggak usah mikirin macam-macam ya. Awas aja! Kenapa? Ga nyangka gue secakep ini? Gue pakai baju ginian juga karena tuntutan misi, bukan buat pamer, apalagi buat diliatin-liatin sama lu!”
Jaka tersentak mendengar kata-kata gadis; sifat usilnya kembali muncul. Ia berdeham kecil, membuang muka sambil menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa kagumnya.
“Idih, ni cewe pede banget pula,” pikir Jaka, lalu melanjutkan percakapan dengan nada mengejek, “Siapa juga yang mikir macam-macam? Gue tadi cuma mikir, baju lu tuh kedodoran di sebelah mana ya? Kok badannya kelihatan pendek banget buat ukuran pemain padel. Jadi jangan GR deh!”
Gadis mendengus kesal. Ingin rasanya melempar raket ke wajah pria itu. “Dasar pintar ngeles lu. Udah, nggak usah banyak omong! Katanya mau latihan, ajarin gue dulu sebelum kita ketemu teman lu!”
Jaka tertawa geli lalu melempar salah satu raket ke arah Gadis, yang langsung menangkapnya dengan gerakan terkejut. “Masuk lapangan sekarang, ratu ngomel! Kita lihat seberapa jago mulut lo kalau disuruh gerak fisik!”