Mata Gadis melotot ke arah Jaka. Kalimat Jaka yang mengatakan, “Ini cewek gue,” langsung membuat pikiran Gadis macet dalam hitungan detik.
Yang terpikir oleh Gadis saat itu hanyalah keinginan untuk menarik rambut Jaka dan membanting pria itu ke lantai lapangan padel dengan gaya pesumo. Ia mengepalkan tangan di belakang punggung; Gadis sudah sangat gatal ingin mencubit pria menyebalkan di sebelahnya itu. Namun, akal sehatnya seketika mengambil alih.
Gadis tahu bahwa saat ini ia dan Jaka berada dalam satu misi. Tentu saja ada risiko jika ia tiba-tiba marah dan membongkar rahasia mereka di depan Rian. Jika itu terjadi, rencana diam-diam mereka untuk membantu rumah tangga Tantri dan Bimo akan gagal bahkan sebelum dimulai. Belum lagi ia membayangkan omelan Bude yang sangat panjang dan bisa membuat telinganya sakit.
Dengan senyum yang paling dipaksakan dan kaku, Gadis tiba-tiba mengubah ekspresinya. Ia memaksa diri untuk tertawa kecil, suaranya lebih mirip tikus yang terinjak, lalu mencengkeram pinggang Jaka dengan cubitan kuat yang ia sembunyikan. Jaka menahan diri agar tidak berteriak akibat cubitan gadis. Wajahnya menahan sakit di balik senyumnya, namun ia memilih untuk tetap tenang.
“Iya, benar, saya pacarnya,” kata Gadis dengan suara yang dibuat semanis mungkin. Matanya menatap tajam ke arah Jaka, dengan senyuman mengancam.
“Aneh juga hari ini, Jaka ngajak saya olahraga bareng. Biasanya dia cuma males-malesan dan ngomel-ngomel nggak jelas.”
Melihat Gadis yang ternyata mengikuti skenarionya, Jaka malah makin berani. Ia, tanpa ragu, melingkarkan satu tangannya lebih erat di pinggang Gadis lalu menarik tubuh Gadis semakin menempel di sisinya dengan gaya akrab, yang membuat Gadis ingin benar-benar menjitak pria itu.
“Namanya juga usaha, sayang. Supaya tambah sehat dan nggak gampang stres, kan, kata kamu,” jawab Jaka dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Salah satu alisnya terangkat, Ia melemparkan senyum menggoda ke arah Gadis.
Gadis tersenyum lebar di depan Rian, namun dalam hati ia berseru, “Awas aja ya, jangan sampai nanti gue potong-potong badan lo!” Ia berusaha keras menahan diri agar tidak mencubit perut Jaka lagi.
Rian, yang tidak menyadari adanya ketegangan di antara pasangan itu, justru tertawa terbahak-bahak dan tampak sangat santai. Ia kemudian meletakkan tas olahraganya di bangku cadangan di pinggir lapangan.
“Wah, Jak, kemajuan banget! Hebat juga, lo sekarang bisa punya cewek. Gue pikir dulu lu maniak gawe, ternyata tipe lu cantik dan lembut kayak mbak ini,” kata Rian tanpa curiga, melirik Gadis dengan kagum.
“Kenalin, Mbak. Saya Rian, dulu sempat satu kantor dengan Jaka. Asli sabar juga ya, Mbak, punya pacar kayak Jaka yang suka ngusilin orang.”