Malam sudah larut saat mobil Jaka melaju pelan di jalanan. Suasana di dalam mobil hanya diisi oleh keluhan panjang dari Gadis.
“Aduh, badan gue pegel banget,” keluh Gadis sambil memijat bahu kanannya. Wajahnya meringis menahan sakit. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil dan mengomel tentang nasibnya yang tiba-tiba harus menjadi atlet padel sore tadi.
“Jaka, ya ampun, sumpah lo… otot tangan gue rasanya kayak mau copot satu-satu. Ini bener-bener disiksa sama lo!”
Jaka yang ada di samping Gadis, sambil menyetir, hanya menoleh sebentar ke arah Gadis melalui sudut matanya. Melihat wajah Gadis yang kelihatan menderita, Jaka mengurungkan niat untuk berucap atau bertindak usil. Rasa bersalah muncul karena ia sudah membawa Gadis bermain padel tanpa mengajarkan pemanasan yang cukup sebelum bermain padel.
Jaka mengulurkan tangan kirinya ke dashboard mobil. Ia meraba laci kecil di depan, lalu mengambil sesuatu dan menyerahkannya kepada Gadis.
“Apa ini?” tanya Gadis bingung sambil mengambil benda itu.
“Itu koyo cabe. Ambil aja, lalu tempel di bagian yang sakit,” kata Jaka datar. Ia kembali menatap jalanan di depan. “Kalau badan kurang olahraga, jangan sok-sokan nggak pemanasan dulu, baru main. Ini malah bikin fisik lo tumbang.”
Gadis mendengus kesal mendengar cibiran Jaka, tapi rasa sakit di lengannya membuatnya harus bertindak. Ia merobek bungkus koyo lalu mencoba menempelkan koyo itu ke punggung atas yang paling pegal. Namun, tangannya sulit menjangkau karena bahunya tidak bisa bergerak dengan bebas.
“Duh, susah banget ditempel!” keluh Gadis sambil merapatkan punggungnya ke kursi, Wajahnya kesal.
Jaka menarik napas singkat, kemudian menepikan mobil sebentar di pinggir jalan, melepas sabuk pengaman, dan memutar badan ke arah Gadis. “Sini, gue bantu. Kalau lu terus melintir kayak gitu, tulang belakang lu bisa patah sebelum lu berhasil tempel koyo,” kata Jaka sambil mengambil koyo dari tangan Gadis.
Gadis berhenti sebentar dan menatap Jaka dengan curiga. “Yakin bisa? Awas ya, jangan lihat-lihat yang lain,” ancamnya.
“Yaelah, tinggal tempel aja. Kita bukan mau masak, motong bawang, cuma nempel koyo. Ayo, cepat balikin badan ke depan!” ujar Jaka tegas.
Dengan perasaan ragu dan gengsi yang masih menumpuk, Gadis akhirnya menuruti perintah Jaka. Ia membalikkan badannya, membelakangi Jaka.
Tak lama kemudian, ia merasakan tangan hangat Jaka menyentuh kulit punggungnya, menempelkan koyo itu perlahan dan tepat pada otot yang tegang. Sentuhan lembut itu langsung membuat Gadis terdiam. Ia merasakan hangatnya tangan Jaka, rasa sakit tubuhnya perlahan hilang, tergantikan oleh panasnya koyo cabe.
Di saat yang sama, ada sensasi aneh yang membuat perutnya geli. Selama ini, ia tahu Jaka adalah orang yang paling menyebalkan, sok tahu, dan sering sekali memancing emosinya. Namun, setelah beberapa hari pergi bersama Jaka, ia justru mulai mengenal sisi lain dari Jaka.
Ternyata, Jaka bisa sabar pada waktu-waktu yang tak terduga. “Sebenarnya cowok ini… baik nggak sih? Atau cuma pura-pura baik?” batin Gadis. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
“Udah, ah, Gadis. Jangan kebawa suasana,” ujarnya dalam hati.
“Nah, udah,” kata Jaka, memecah keheningan, menarik tangannya, lalu bersandar kembali di kursinya. “Nanti juga lama-lama bakal hangat sendiri.”
“Udah mendingan?” tanya Jaka.