Dua hari sudah berlalu sejak malam di bioskop itu. Sejak saat itu, jantung Jaka kadang-kadang berdebar gara-gara memikirkan Gadis, apalagi saat Gadis spontan memeluknya. Hubungan mereka yang tadinya dingin kini sedikit berubah; mereka jadi seperti sekutu yang lebih kompak, walaupun gengsi dan saling mengejek masih sering muncul setiap kali mereka saling mengirim pesan.
Siang itu, begitu jam istirahat kantor tiba, ponsel gadis yang ada di meja kerjanya berdering. Di layar muncul nama “Jaka Sialan” dengan ikon panggilan suara. Gadis segera menekan tombol terima dan menempelkan ponsel ke telinganya, sambil tetap mengetik laporan di komputer.
“Halo, ada apa lagi, Tuan Detektif? Jangan-jangan lu mau ngajak gue main padel lagi? Sumpah, otot lengan gue masih sakit sampai sekarang,” kata gadis tanpa basa-basi.
Di ujung telepon, Jaka tertawa. “Hahaha, santai aja, Ratu Ngomel. Hari ini nggak ada jadwal olahraga. Gue cuma mau ngasih kabar baik soal target kita.”
Gadis berhenti mengetik. Semangatnya langsung naik. “Kabar bagus apaan? Lu berhasil nemuin bukti baru tentang Baskara?”
“Bukan soal Baskara. Target utama kita itu sekarang kakak gue,” kata Jaka dengan nada pamer. “Kemarin malam, gue main ke apartemen Bimo, pas dia sendirian disana, gue otak-atik tuh HP-nya Bimo pas dia lagi di kamar mandi. Coba tebak apa yang gue temuin?”
“Apaan? Gue udah penasaran,” jawab Gadis antusias.
“Gue udah pasang aplikasi pelacak diam-diam, terus gue hubungin sharing location Bimo ke HP gue tanpa dia tahu. Sekarang kita bisa memantau pergerakan kakak gue kapan saja tanpa harus capek ngawasin dari jauh. Kalau biasanya dia bilang lembur di toko, nanti bakal ketahuan,” jelas Jaka.
Gadis tersenyum. Ia merasa strategi Jaka kali ini benar-benar bagus. “Wah, gila, mantep lo! Pinter juga, lu. Kali ini otak lu nggak dipakai cuma buat bikin gue kesel doang.”
“Eh, puji dikit kenapa, kok malah diselipin hinaan?” protes Jaka dari seberang.
“Intinya, data GPS yang baru masuk menunjukkan kalau Bimo sering ke toko utamanya pada malam hari,” lanjut Jaka.
“Lu pulang kantor jam berapa?” tanya Jaka.
“Gue biasanya pulang jam lima-an, sih. Kenapa?” Jawab Gadis.
“Ntar gue jemput aja, ya. Kita pantau bareng.”
“Lo ga kerja malam ini?” tanya Gadis. Ia heran Jaka punya banyak waktu, padahal Jaka adalah koki utama di resto fine dining.
“Gue kan koki utama, ada dua asisten koki, gua cuma kerja di jam operasional,” jawab Jaka dengan nada sombong.
“Gaya banget, sih,” ujar Gadis.