Telepon bersamaan itu rupanya merupakan panggilan pertama bagi gadis dan Jaka untuk melaporkan perkembangan mereka sebagai detektif, dengan misi menyatukan kembali Bimo dan Tantrii yang sudah renggang. Besok sore, di sebuah restoran keluarga bernuansa klasik, Jaka dan Gadis janjian bertemu dengan Bude Gadis dan Ibu Jaka.
Gadis dan Jaka datang bersamaan. Di depan pintu, mereka bertemu dan saling mengangguk. Mereka sudah sepakat sebelum berangkat ke tempat ini. Mereka akan menyimpan dulu informasi yang ada karena mereka harus mencari lebih banyak bukti tentang hal itu, agar tidak terjadi kepanikan di antara kedua keluarga.
Saat keduanya masuk, Jaka membukakan pintu untuk gadis dan mempersilakan dia masuk duluan. Gadis mengangguk dengan semburat merah di pipinya.
Dua wanita yang menunggu mereka duduk tenang, tampak tidak sabar menanti cerita dari keduanya.
Mereka berdua menghampiri meja dan menyalami keduanya.
"Duduk kalian berdua," ujar Bude dengan suara pelan.
Keduanya duduk perlahan sambil saling melirik,
“Gadis, Jaka, ayo cepat! Bude sama ibunya Bimo sudah penasaran banget. Laporkan hasil penyelidikan kalian selama beberapa hari kemarin. Bagaimana sebenarnya hubungan Bimo dan Tantri?" Cerca Bude terlihat sangat penasaran dan tidak menerima penolakan.
Pertanyaan itu membuat napas gadis tercekat. Ia dan Jaka saling bertukar pandang sekilas, menyembunyikan kepanikan luar biasa di balik sorot mata mereka.
Bayangan kejadian semalam, ketika Bimo kedapatan pulang berdua di mobil dengan staf wanitanya , ada di kepala mereka. Namun, jika fakta itu langsung dibeberkan sekarang tanpa bukti lebih lanjut, para ibu ini pasti akan langsung mengamuk, menggerebek toko hari itu juga, dan memicu perang dunia ketiga di keluarga besar. Belum lagi Tantri yang sudah terang-terangan berselingkuh dengan makan dan menonton bioskop bersama pengusaha properti bernama Baskara.
Belum ada bukti yang cukup kuat untuk Bimo. Batin Jaka berteriak panik. Kalau mereka gegabah, langkah mereka bakal jadi bumerang yang konyol.
Kami masih harus cari tahu sudah berapa lama Tantri dekat dengan Baskara dan sejauh mana hubungan mereka, pikir gadis.
Gadis berdehem kecil, mencoba meredakan tenggorokannya yang mendadak kering. Ia menegakkan tubuhnya, memasang wajah sesantai mungkin sambil tersenyum polos.
"Ehm… begini, Bude, Bu…" kata Gadis, memulai dengan nada hati-hati, mencoba mengulur waktu. "Selama beberapa hari ini kami udah coba ngawasin gerak-gerik mereka secara intensif. Kami beberapa kali juga sudah ikutin sepulang kantor…. Tapi menurut kami… ya namanya juga rumah tangga orang, kan nggak bisa langsung dihakimi begitu saja."